Jalan Pulang

Radar Surabaya: Minggu, 26 Februari 2017

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab – Ketika Masih SMA

Brodin tampak begitu lesu usai perjalanan seharian di atas pesawat terbang. Tubuhnya tergolek di atas dipan tua. Rumah sederhana yang ditempati sudah menjauhkan dia dari sanak familinya. Perasaannya gundah gulana. Pikirannya terbang kemana-mana. Tubuhnya hanya tampak terbaring di atas dipan tempat dia akan menjalani profesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri orang. Tapi roh dan jiwanya berontak saat anak dalam kandungan istrinya membayangi kesendiriannya.

Bagasi dan kopor-kopor besar yang berada di pojokan gubuk murah itu didekati dengan penuh kegirangan. Di dalam kopor besar itu Brodin memungut sisa roti dan sebotol minuman air mineral. Sebongkah roti dilahap dengan diselingi menenggak sebotol air. Tubuhnya kembali bugar sejenak. Lalu dia membaringkan lagi tubuhnya di atas dipan kayu jati.

Di sela-sela rasa letihnya yang terus menemani jiwanya, Brodin tetap berusaha mengompori semangatnya. Bagasi dan kopor-kopor yang berisi berbagai peralatan dan kebutuhan hidup mulai dari baju, sarung, celana, kopiah, dan sandal ditata dengan rapi di rak kecil sisa penghuni gubuk sebelumnya. Ruangan sempit yang ditempatinya tampak bagaikan surga mungil yang diberikan oleh Tuhan pada dirinya. Rapi dan tanpa sampah yang selalu berseliwiran sana-sini.

***

Waktu terus berjalan mengantarkan Brodin pada ruang dan waktu yang semakin menjadikan dirinya tua dan mengenal banyak teman-teman kerjanya di negeri orang. Hari itu Brodin tidak bekerja seperti teman-teman TKI lainnya. Dia sengaja mengurung diri dalam gubuk sewaannya. Hari itu bahagia tampak menemani kesendirian yang bercerita tentang negeri orang itu.

Matahari di ufuk timur makin lama makin meninggi menampakkan senyumnya yang selalu mengiris-iris kulit. Di sela-sela Brodin tak ada kerjaan, dia merapikan tempat-tempat yang semrawut, saat itu pula perutnya mulai memanggil dan meronta-ronta kelaparan. Dia mengambil wajan yang berada di rak tempat peralatan memasak. Dia pula memungut periuk nasi untuk memasak beras yang dibawa dari Indonesia. Di hadapannya sudah bertiduran alat-alat memasak khas negeri orang.

Di saat wajan terbaring di atas kompor, di kala periuk berisi beberapa takaran beras bertiduran di atas lantai. Tak terasa, air mata Brodin menganak sungai dari tepi-tepi matanya. Tubuhnya yang gagah tak lagi mampu membendung derasnya air mata yang mengalir di celah-celah pipinya. Dadanya terguncang. Perasannya bagai teriris sembilu lalu diperciki air garam. Dia baru tersadar, memasak tidak mudah. Dia teringat istrinya di rumah. Batinnya bergejolak. Dia merasa banyak salah pada istrinya yang selalu menyiapkan makanan dengan sepenuh hatinya di kala pagi menyapa dan di kala sore membentangkan sayap-sayap senjanya.

Brodin berusaha menghapus titik air matanya yang mulai mengering di pipinya yang kecoklatan. Tak lama setelah air matanya mengering, dia mendengar gerasak-gerusuk petugas keamanan negeri rantaunya yang sedang piket memeriksa surat-surat TKI. Brodin pun tergopoh-gopoh masuk ke bawah tempat tidurnya. Detak jantungnya bak usai dikejar singa di hutan. Brodin tak punya surat-surat resmi. Dia hanya memegang kartu penduduk. Paspor tak dimilikinya. Dia menjadi TKI ilegal melalui perantara toke.

Dia sebenarnya menyadari, menjadi TKI ilegal tidak dibenarkan dan menjadi ancaman bagi dirinya karena tidak akan mendapat jaminan hukum ketika terjadi masalah di negeri orang. Namaun, apa boleh  buat, biaya yang sangat mahal dan rumitnya administrasi menyeret Brodin menjadi TKI ilegal. Lambat laun, suara petugas keamanan menyusut, makin lama makin menjauh dan menepi ke gang-gang rumah di depan gubuk Brodin. Dengan beringsut keluar dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba Brodin ada yang memanggil dari belakang.

“Hei, kau!” suara petugas itu menggetarkan hati Brodin.

“Maaf, Pak…” Dengan tangan menyembah, Brodin berlutut di depan petugas.

“Mana surat-surat dan paspormu?” bentak petugas menanayak kartu identitas.

Keguncangan dalam jiwa Brodin semakin menjadi-jadi. Dia bagaikan telanjang di negeri seberang. Brodin digiring ke rumah tahanan (rutan) bersama para TKI ilegal. Segerombol orang berkerumun dan berbincang-bincang tentang nasibnya. Brodin hanya terdiam seribu bahasa. Duduk menjongkok di pojokan. Matanya tampak bagaikan kaca yang berair di bawah sinar kehidupan yang kemilau. Brodin bersama rekan-rekan TKI-nya hanya makan apa adanya dari petugas keamanan. Uang sudah tidak ada, segalanya dirampas. Mereka seakan-akan menjadi budak dan bahan dagangan belaka.

***

Sudah tujuh hari Brodin dan rekan-rekan TKI lainnya menghuni gudang tahanan. Suasananya sudah tampak cair setelah ada pemilik modal Indonesia datang untuk menebus sekitar tujuh puluh (70) tahanan itu. Lelangan pun terjadi antara petugas keamanan dan Kartajul yang mau menebus tahanan TKI di rutan. Negosiasi pun berjalan lancar. Petugas keamanan sepakat untuk memberikan para tahanan TKI itu kepada Kartajul dengan harga tebusan dua puluh juta rupiah.

Para TKI, termasuk Brodin dibawa pulang ke Indonesia. Tiga jam penerbangan berhasil ditempuh dengan cepat dan mudah. Sebuah bis sudah siap menunggu di bandara. Mereka dibawa ke rumah Kartajul sebagai tanggungannya. Tak ada yang melawan sedikit pun kepada Kartajul. Mereka merasa terbantu dengan keberanian Kartajul yang telah menebus mereka sehingga lepas dari penjara negeri seberang.

Di sana, di rumah Kartajul masing-masing TKI diminta untuk membayar ganti uang tebusan tahanan. Masing-masing TKI harus membayar satu juta rupiah. Para TKI masih merasa terbebani dengan permintaan Kartajul. Mereka resah, karena mereka mayoritas berasal dari keluarga yang tak mampu.

“Pak, kalau bisa, dua puluh juta kami bayar dengan urunan saja,” pinta Brodin.

“Tidak bisa, setiap orang harus bayar satu juta kalau mau kembali ke rumahnya. Nanti akan saya antar ke rumah masing-masing,” jelas Kartajul dengan sikapnya yang mata duitan.

“Kalau tidak mau, ya sudah, nanti saya kembalikan lagi ke penjara.” Kartajul mulai mengancam Brodin dan rekan TKI lainnya.

Negosiasi antara Brodin dan Kartajul pun mendapatkan titik temunya. Mereka disuruh menghubungi keluarganya masing-masing untuk menyiapkan uang tebusan penjara sebesar satu juta rupiah. Dengan begitu, Kartajul bisa mendapat keuntungan empat puluh juta lebih setelah dikurangi biaya penerbangan dari negeri seberang. Brodin dan teman TKI lainnya sudah menghubungi keluarga di rumahnya. Mereka sudah siap untuk menebus, namun sebagian belum ada yang siap karena keterbatasan ekonomi, tapi mereka tetap dengan tegas menyatakan siap.

Armada bis pun diberangkatkan menuju daerah tahanan TKI masing-masing. Tapi, Kartajul kurang beruntung. Beberapa TKI yang tak memiliki uang tebusan satu juta itu melarikan diri satu persatu dari bis saat berhenti di jalan entah karena macet atau lampu lalu lintas saat mengembangkan bibirnya yang merah. Itu dilakukan saat Kartajul lengah dan tertidur di dalam bis. Tak dirasa, sisa tahanan sudah tinggal sembilan belas orang. Kartajul melongok-longok. Wajahnya merah padam. Tubuhnya bagaikan berasap dan mengepul-ngepul di kepalanya. Sisa tahanan hanya saling memandang satu sama lain, mereka tak tahu menahu karena sejak tadi ikut tertidur dengan pulas.

“Kenapa kalian tak lang-bilang kalau ada yang kabur?!” teriak Kartajul dengan logat daerahnya dan celurit di tangan kanannya.

“Maaf pak, kami semua tertidur sejak pemberangkatan tadi.”

Brodin sebagai orang yang dipercaya oleh Kartajul dan rekan-rekan TKI lainnya berdiri menjelaskan peristiwa yang terjadi. Dengan berang, Kartajul menggerutu habis-habisan. Dia berbicara bak orang yang sedang tak sehat akal. Celurtinya diayun-ayunkan ke sana-sini.

“Kalian jangan ba-coba kabur juga. Nanti saya bacok!”

Brodin dan rekan-rekannya mengangguk dengan rasa penuh ketakutan melihat Kartajul yang gusar. Tak jauh dari pandangan bis berjalan, tampak segerombolan orang berkumpul. Dengan melongok-longok di jendela bis, Brodin berteriak meminta sopir bis berhenti. Sudah kelihatan dengan jelas. Keluarga Brodin menunggu di pinggir jalan raya dengan satu juta uang tebusan. Suasana suka pun mengepul di pinggir jalan itu usai Kardiah, ibu Brodin memberikan uang tebusan pada Kartajul yang masih kelihatan gusar. Kartajul sudah mengalami kerugian yang sangat besar akibat tak tahu balas budi para tahanan TKI yang melarikan diri.

Sejak itu, Brodin tak lagi menjadi TKI ilegal. Dia mengurus surat-surat ijin dan paspor untuk menjadi TKI legal dan mendapat naungan hukum dari negara. Itu pun dia lakukan dengan menjual sawah dan ternak yang digembala bertahun-tahun oleh istrinya. Dengan begitu dia berhasil mengumpulkan uang sebanyak empat puluh juta rupiah untuk mengurus administrasi. Dari usaha dan pengorbanannya itu, Brodin berhasil menjadi TKI legal. Sehingga setiap bulan bisa mengirim uang kepada keluargnya rata-rata sepuluh juta. Dia mampu membangun rumah mewah dan mempekerjakan orang untuk mengolah sawah, ladang, dan menggembalakan ternak-ternaknya.

Bojonegoro, 27 Januari 2014

* Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Bisa dijumpai di:

YouTube: Junaidi Khab

Instagram: Junaidi Khab

Twitter: Junaidi Khab

Facebook: Junaidi Khab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: