Bebas dari Penjara Berkah Doa dan Puasa Ramadan

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Sajadah Lipat Pak Camat

Ada banyak hikmah dan rahasia di balik puasa di bulan Ramadan. Sebagaimana banyak riwayat, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu, meski tidak sedikit menyangsikan dan berbeda pendapat tentang setan yang dibelengggu. Namun, hikmah dan berkah puasa di bulan Ramadan benar-benar dirasakan oleh setiap Muslim yang melaksanakannya.

Kisah di dalam novel ini menyajikan banyak peristiwa yang dialami oleh Pak Ikhsan, sebagai representasi kita semua. Pak Ikhsan merupakan seorang pejabat yang bijak dan adil serta selalu mengutamakan terhadap kepentingan rakyatnya. Namun, ia harus dipenjara hingga di penghujung bulan Ramadan. Hal itu bermula daru kedatangan seorang direktur investor dari Jakarta (hlm. 33). Hingga Pak Ikhsan harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.

Ia harus dipenjara karena kasus kematian Myrna di salah satu hotel tempat penginapan (hlm. 138). Namun, pada waktu itu, Pak Ikhsan tak sadarkan diri, dan tiba-tiba diinterogasi oleh polisi yang berbadan tegap serta diminta menandatangi sebuah pernyataan bahwa dirinya menjadi pelaku. Hal itu dilakukan dengan terpaksa karena polisi memukuli dan Pak Ikhsan dalam situasi bingung.

Baca: Menerjemah Cinta dan Kasih Sayang Ibu

Namun, apa yang dilakukan oleh Pak Ikhsan tak lain skenario Tuhan untuk memberi pelajaran dan ujian baginya sebagai seorang pejabat yang adil dan bijaksana. Di dalam penjara hingga sekitar enam bulan lamanya ia meratap kepada Tuhan dan merenungi perilakunya yang mungkin khilaf. Selama masa proses persidangan, ia menghuni kamar tahanan sebagai tersangka pembunuhan Myrna. Ia hanya menunggu keputusan hakim atas ketentuan lama hukuman yang harus dijalani.

Hingga memasuki bulan Suci Ramadan, beberapa persidangan yang diwakili oleh kuasa hukumnya, Pak Ikhsan harus menanti dengan sabar. Tak ada bukti kuat untuk kasus ketidakterlibatan Pak Ikhsan atas kematian Myrna. Di bulan suci Ramadan itulah, Pak Ikhsan lebih banyak shalat malam dan berdoa serta meminta kepada Tuhan agar diberi ketabahan. Setidaknya harapan bebas juga terlantun dari bibirnya yang kadang bergetar saat semua narapidana tertidur pulas dan air matanya tak berhenti menetes di tengah doanya pada malam bulan Ramadan.

Baca lainnya: Melawan Absurditas Masyarakat Modern

Tak ada yang mampu menentukan takdir kita masing-masing, kecuali Tuhan. Tentu kita harus banyak melaksanakan doa dan usaha. Begitu yang dilakukan oleh Pak Ikhsan selama berada di penjara. Hingga pada akhirnya, di tengah doanya pada bulan Ramadan, Tuhan mengabulkan doa-doanya. Istri Pak Ikhsan, adik Myrna, teman Myrna, dan seorang polisi siap menjadi saksi bahwa Pak Ikhsan tidak bersalah (hlm. 271). Ia bebas dari tuntutan penjara seumur hidup atau hukuman mati atas kasus pembunuhan berencana atas kematian Myrna.

Tidak sia-sia, segala sesuatu (ibadah dan doa) yang dilakukan oleh Pak Ikhsan sejak pertama kali masuk sel tahanan hingga masuk bulan suci Ramadan. Ia pun bersujud syukur (hlm. 276). Bulan suci Ramadan memang benar-benar penuh hikmah dan berkah. Pak Ikhsan tak pernah ragu untuk meyakini hal tersebut, hingga ia merasakannya sendiri.

Baca juga: Pesan Damai Beragama dari Rumi

Kehadiran novel ini perlu kita apresiasi. Sebuah kisah yang ditulis dari beberapa sudut pandang dan bermacam persoalan, mulai dari persoalan keluarga, birokrasi, asmara, ibadah, dan hukum dikemas dengan begitu apik. Namun, penulis tak jeli dalam menggunakan sudut pandang sebagai orang pertama atau ketiga. Begitu juga, penulis tak begitu peka tentang cara menulis bahasa lisan dan tulisan.

Akan tetapi, meskipun demikian, kisah-kisah di dalam novel ini tak mengurangi maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Rangkaian peristiwa ditulis dengan begitu apik, hingga kita bsia menemukan hikmah dan pelajaran di balik rasa sabar, jabatan sebagai pemimpin, urgensitas ibadah, serta berkah ibadah di bulan suci Ramadan. Bagi Pak Ikhsan, bulan Ramadan menjadi pintu berkah atas kebebasannya dari penjara.

Baca juga: Menyoal Hisab dan Rukyat Bulan Ramadan

Novel ini hadir di tengah-tengah kita untuk menyadarkan setiap insan yang khilaf. Mengajarkan tentang tanggung jawab. Hal yang sangat penting, sebuah usaha dan doa perlu menjadi senjata kita dalam setiap kesulitan. Namun, akan lebih maksimal dalam berdoa dan beribadah, jika dilakukan pada bulan suci Ramadan, baik oleh narapidana atau masyarakat luas. Selamat membaca dan menimba berkah Ramadan!

Judul               : Sajadah Lipat Pak Camat

Penulis             : Riyanto El Harist

Penerbit           : Tinta Medina (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, November 2015

Tebal               : viii, 288 hlm; 20 cm

ISBN               : 978-602-0894-11-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

2 Responses to Bebas dari Penjara Berkah Doa dan Puasa Ramadan

  1. Pingback: Keutamaan (Puasa) Ramadhan dan Zakat Fitrah | junaidikhab

  2. Pingback: Berhaji dan Berumrah dengan Benar | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: