Mencari Bangsa Ke-13 sebagai Penguasa Dunia

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Bangsa Ke-13 Sang Penguasa Dunia

Buku ini hadir menyajikan sejarah panjang perjalanan politik rasis dan kehidupan kaum Yahudi yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat dunia. Kaum Yahudi memang tergolong kaum yang minoritas dan kehidupannya sering diulas, karena mereka menanamkan suatu keyakinan yang kuat dalam dirinya untuk menguasai dunia.

Bahkan, di dalam al-Quran, Bani Israil dikenal dengan nama Yahudi, terutama setelah mereka memiliki syariat khusus dan kitab suci yang diturunkan kepada mereka. Dengan demikian, yahudisme adalah sebuah agama yang diikuti bangsa Yahudi. Definisi ini berlaku setelah Musa a.s. menjadi Nabi (hlm. 33-34).

Namun, para ahli sejarah berbeda pendapat tentang batasan keluarga dan arti kata Yahudi. Ada yang merujuk dan menisbahkan kepada Tuhan Yahudi – Yahweh – pada masa Nabi Musa a.s., sebagaimana disebut di dalam Taurat sebagian yang lain menyatakan bahwa Yahudi memiliki hubungan dengan salah satu anak Ya’qub a.s., Yehudza. Mereka mengaitkannya pada keturunan Yehudza di Gunung Zion yang dicintai Yehudza.

Baca: Pemuda dan Perannya bagi Kehidupan Bangsa

Sedangkan al-Quran menyebutkan arti zionisme dengan arti lain – hidayah, tobat, dan kembali kepada Allah – setelah Bani Israil menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan hidayah sebagaimana Allah menyebutkannya di dalam al-Quran, surah al-Baqarah ayat 62.

Sejak Israel ditetapkan sebagai negara pada 1948, definisi “orang Yahudi” menjadi masalah pelik karena pemerintahnya mengumumkan sebuah target untukm mengumpulkan semua orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia. Setiap orang Yahudi memiliki hak untuk bertempat tinggal di Israel sesuai kesepakatan yang tertulis dalam Undang-Undang Kembali (Law of Return) Israel. Yahudi adalah setiap orang yang dilahirkan dari ibu Yahudi atau memeluk agama Yahudi, kecuali bila dia keluar dari agama tersebut (hlm. 47).

Gerakan Zionisme

Zionis merupakan sebuah gerakan politik ras yang digagas oleh kaum Yahudi pada akhir abad ke-19 M untuk tanah Palestina, yang bertujuan membuat negara Yahudi dan mengembalikan zionisme di Gunung Zion, al-Quds, sebagaimana terdapat dalam kitab Yesaya (hlm. 49).

Baca juga: Ramadan dan Mental Spiritual Seorang Pejabat

Ada banyak pekuan politik bangsa Yahudi, seperti pernyataan tentang kaum Batani yang menyerang dengan kata-kata permusuhan terhadap agama samawi. Semuanya hanya pengakuan yang dibuat oleh kaum Yahudi agar dapat menyempurnakan tujuan penjajahan mereka dengan membentuk masyarakat Yahudi yang baru, setelah keturunan Bani Israil kuno habis (hlm. 131). Nama Afgan dan keturunan Raja Saul yang sering mereka sebut dalam Taurat sebenarnya sama sekali tidak ada. Sebaliknya, menurut Taurat, Raja Saul termasuk keturunan kabilah Bunyamin. Selain itu, Raja Saul tidak memiliki putra bernama Armia atau cucu bernama Afgan seperti yang dikatakan oleh kaum Yahudi.

Banyak peniliti yang menilai upaya cepat Israel untuk mendapatkan apa yang mereka sebut “kabilah yang hilang” hanya sebuah fantasi belaka. Ribuan tahun yang lalu, kabilah itu mengubah banyak hal sehingga sulit diketahui atau dipastikan nenek moyang mereka. Tuduhan yang diarahkan kepada Israel adalah mereka merusaha “meyahudikan” kabilah-kabilah Afganistan. Mereka berupaya agar suku Batani yang jumlahnya sekitar lima belas juta orang tersebut menjadi salah satu kabilah Bani Israil yang hilang. Hal itu menunjukkan bahwa “mereka berhasil meyahudikan sebagian anggota suku Batani dan memindahkan mereka ke Israel” (hlm. 134).

Baca lainnya: Membongkar Kebohongan Yahudi dan Amerika

Atas dasar dan prinsip Zionis, masyarakat Yahudi saat ini membangun lembaga-lembaga sosial dan politik di Israel serta mengakomodasi kepentingan-kepentingan mereka tanpa didukung oleh kedaulatan. Meski begitu, mereka sangat fokus pada kestabilan dan perekembangan pendudukan di sana. Bagi mereka, prinsip sukarela adalah tiang utama dalam menjalankan politik. Sedangkan prinsip persamaan hanya digunakan sebagai perekat sosial (hlm. 189).

Membaca buku ini yang penuh dengan bukti-bukti ilmiah dari berbagai sumber mengingatkan kita tentang politik rasis kaum Yahudi. Mereka terus menganggap bahwa mereka adalah keturunan para nabi yang telah diutus. Semua ini hanya kegilaan, obsesi politik, dan kebohongan yang mereka buat, serta bertentangan denan kenyataan dan menafikan kenyataan agama serta sejarah. Buku ini merupakan buku sejarah yang harus menjadi bahan bacaan dan refleksi bagi umat dunia agar tidak mudah digunakan sebagai alat kaum Yahudi dalam memperkuat status politiknya untuk menguasai dengan strategi-strateginya yang sangat rasis.

Judul               : Bangsa Ke-13 Sang Penguasa Dunia

Penulis             : Manshur a’Abdul Hakim

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, Oktober 2015

Tebal               : iv + 302 hlm., 20,5 cm

ISBN               : 978-602-1337-60-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

2 Responses to Mencari Bangsa Ke-13 sebagai Penguasa Dunia

  1. Pingback: Menyambut Ramadan dengan Meneladani Ibadah Rasulullah | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: