Puisi yang Beraroma Sufi

Lampung Post: Minggu, 12 Februari 2017

Karena berbasis puisi sufi, Cak Kus mengaitkannya antara puisi sufi dan sufi puisi. Sudah tentu dua frasa tersebut sangat berbeda. Seperti halnya penjelas pisang goreng dan goreng pisang.

Oleh: Junaidi Khab*

Puisi yang Beraroma Sufi - Diskusi dan Launcing Buku Antologi Puisi Tarian Mabuk Allah (Dok. Junaidi Khab)

Puisi yang Beraroma Sufi – Diskusi dan Launcing Buku Antologi Puisi Tarian Mabuk Allah (Dok. Junaidi Khab)

Yogyakarta sebagai kota multidimensi kehidupan selalu menghadirkan keragaman hidup. Tradisi menulis puisi, bersastra, hingga literasi menjadi santapan empuk bagi pecinta dunia bahasa dan kata-kata. Dengan bahasa dan kata-kata, Yogyakarta tetap bisa berkobar dan menyala.

Pada tanggal 27 Januari 2017 tepatnya pukul 14:00 sebuah diskusi buku puisi karya Kuswaidi Syafi’ie (Cak Kus) diperbincangkan di tengah kepulan asap rokok dan kopi-kopi yang menjadi ikon budaya akademisi. Acara tersebut didukung oleh penerbit kawakan DIVA Press dan Sastra Perjuangan di Yogyakarta.

Antologi puisi Cak Kus – Tarian Mabuk Allah – disajikan dalam bentuk diskusi sebagai bedah karya puisi sufi. Di Kedai Kopi Blandongan Jl. Sorowajan Baru Yogayakarta tampak dipenuhi banyak peserta. Ada sekitar tujuh puluh delapan (78) peserta yang berpartisipasi dalam acara tersebut.

Turut hadir pula Edi AH Iyubenu sebagai CEO penerbit DIVA Press sekaligus penggerak literasi dan kesusastraan di Yogyakarta beserta krunya demi kesuksesan acara launching buku tersebut. Dalam acara diskusi tersebut, Kuswaidi Syafi’ie didampingi oleh Tia Setiadi sebagai moderator dan Aprinus Salam sebagai pembicara kedua. Secara praktik, puisi memang jarang melahirkan suatu materi. Namun, untaian diksi mutiaranya mampu menginspirasi dan meracuni pembaca hingga menjelma materi.

Perbincangan dalam diskusi tersebut bukan serta-merta menyoal puisi dalam lingkungan para penyair. Sebagai, anak penyair itu sendiri, ide-gagasan puisi itu sendiri berusaha dihadirkan dalam kehidupan riil. Seperti yang dikatakan oleh Cak Kus bahwa puisi yang menghadirkan fenomena sosial masih tergolong jarang, kecuali Iqbal di Timur Tengah dengan puisinya membentuk Pakistan.

Sebenarnya, buku antologi puisi Cak Kus yang dibicarakan di Kedai Kopi Blandongan bukan pertama kali didiskusikan. Pada tahun 2015 buku tersebut pernah lahir, namun dilahirkan kembali usai kematiannya dari penerbit yang memiliki otoritas proses kelahirannya. Katanya lagi, puisi yang bernuansa cinta kadang hanya dijadikan senjata untuk mem-bully orang, lalu orang lain yang menjadi korban puisi cinta itu sendiri. Ungkapan ini, seakan menyentak pujangga para penyair yang hanya menuliskan cinta lelaki dan perempuan, lawan jenis. Ungkapannya sekaligus menjadi pisau kritik atas puisi-puisi yang bernuansa cinta kekinian.

Puisi Sufi dan Sufi Puisi

Karena berbasis puisi sufi, Cak Kus mengaitkannya antara puisi sufi dan sufi puisi. Sudah tentu dua frasa tersebut sangat berbeda. Seperti halnya penjelas pisang goreng dan goreng pisang. Yulfi Zawarnis (Dua Jalur, LP: 25/01/2017) bahwa dalam bahasa Indonesia ada kaidah umum yang menyatakan bahwa urutan kata dalam konstruksi frasa (gabungan kata) mengikuti hukum DM (diterangkan-menerangkan). Artinya, kata pertama yang diterangkan dan kata kedua yang menerangkan. Konstruksi frasa pisang goreng memiliki konstruksi DM dan konstruksi goreng pisang memiliki konstruksi MD. Merujuk pada kaidah umum bahasa Indonesia, frasa yang seharusnya digunakan adalah frasa pisang goreng karena goreng menerangkan kata pisang.

Begitu juga dalam persoalan memahami puisi sufi dan sufi puisi, tentu puisi-puisi Cak Kus lebih cenderung pada puisi sufi, bukan sufi puisi. Kumpulan puisi sufi Cak Kus penuh dengan harapan-harapan agar manusia selalu mengingat Tuhan yang menciptakan. Sebuah kerinduan atas kekuasaan-Nya selalu menjadikan manusia lemah hingga memerciki nilai-nilai kesadaran tentang keesaan Tuhan.

Sebuah antologi puisi yang sekiranya cukup tepat dibaca pada saat ini di tengah masyarakat kita dilanda kompleksitas persoalan agama. Dengan antologi puisi Tarian Mabuk Allah kita akan menemukan hakikat beragama dan meyakini Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Puisi sufi ini akan menjadi cambuk berkekuatan halilintar guna menemukan cahaya menuju keragaman dan keberagamaan di tengah masyarakat yang multikultural serta multi segalanya. Sehingga, sudut pandang agama tidak dipandang sebagai permainan politik atau demi kepentingan pribadi belaka.

Acara tersebut ditutup dengan pembacaan puisi oleh Yayan Suta’yan penyair asal Sumenep yang bermukim di Yogyakarta. Puisia yang dibaca tepat pada bagian pertama, Dermaga: Kekasih duhai Kekasih!/ Ketika itu sendiri Engkau mengandungku/ Saat waktu beku di telapak-Mu/ Menggenggam “sejarah” dan “masa depan”/ Tak ada air api tanah dan udara/ Bahkan sunyi pun tak menjelma/ Karena segalanya belum bermula/ Hanya Kau bersemaya, di atas ‘arsy sendirian/ Mendendangkan lagu-lagu kasmaran. Kemudian disusul pembacaan puisi oleh Sohifur Ridlo Ilahi.

Sebuah puisi yang membawa ruh kerinduan terhadap Tuhan. Cak Kus bukan hanya merasa dirinya diliputi rasa rindu berpkepanjangan, tapi kerinduan atas kebenaran firman-Nya menjadi sebuah narasi yang mengingatkan kita pada prinsip hidup manusia yang harus dibangun di atas kuasa-Nya.

* Penulis Akademisi asal Sumenep-Madura, lulusan Sastra Inggris Konsentrasi Studi Sosiolinguistik, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Bisa diakses di: Lampung Post.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: