Berperang Melawan Diri Sendiri: Sebuah Pandangan di Era Milenial*

“Yang beda belum tentu salah.[1]” Oleh: Junaidi Khab

Dokumen Pribadi Junaidi Khab

Pada suatu kesempatan, Imam Syafi’ie pernah mengatakan bahwa semua rumusan pemikiran atau gagasannya (khusus di bidang fikih) itu, menurutnya benar dan bisa saja salah menurut pandangan orang lain. Ungkapan tersebut bukan berarti secara totalitas pemikiran Imam Syafi’ie itu benar menurut pandangannya. Tetapi yang jelas, dia membuat suatu hukum tentu menggunakan landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Imam Syafi’ie menyatakan demikian sebagai bentuk berakhlak, karena di dunia ini yang memiliki gagasan dan pandangan (khususnya persoalan syariat Islam atau mu’amalah) fikih bukan hanya dia seorang, ada banyak ilmuwan selain Imam Syafi’ie.

Hakikatnya, suatu objek yang menurut kita benar, kadang menurut orang lain salah. Hal ini lumrah dan biasa saja. Hanya saja, kadang seseorang itu menganggap bahwa pemikirannya saja yang benar, sementara pemikiran orang lain dianggap keliru. Sifat yang demikian yang perlu dihindari, karena kebenaran tidak ada yang mutlak, kecuali Tuhan.

Misalkan, mungkin pembaca sudah pernah membaca atau mendengar perumpamaan ini, ada tiga orang buta yang diminta untuk mendeskripsikan tentang gajah. Orang buta pertama menyentuh gajah pada bagian telinganya, lalu dia menyatakan bahwa gajah itu lebar dan tipis. Orang buta kedua menyentuh belalai gajah, lalu menyatakan bahwa gajah itu panjang. Orang buta ketiga menyentuh ekornya, lalu dia menyatakan bahwa gajah itu panjang, kecil, dan ada bulunya di bagian ujung.

Mereka adalah orang buta yang berusaha untuk mengetahui tentang gajah lalu mendeskripsikannya. Masing-masing mereka memiliki pendapat yang berbeda, karena media yang digunakan juga berbeda, namun semuanya menyentuh (bagian) dari gajah. Begitulah perumpamaannya manusia dalam memahami tentang suatu hal, benar menurutnya dan salah menurut yang lain. Di sinilah, kita sebagai manusia yang memiliki akal harus berusaha logis dan mencari bukti-bukti kebenarannya.

Maka dari itu, untuk memahami suatu objek, jangan setengah-setengah atau sebagian, tetapi secara menyeluruh agar mendapatkan konsep pengetahuan yang utuh. Sebagaimana marak di era melinial saat ini, di media sosial (internet) sebagai hasil dari kemajuan zaman, peperangan ide dan pikiran banyak terjadi, khususnya belakangan ini yang banyak viral yaitu persoalan keimanan dan hukum di kalangan umat Islam.

Di media sosial, semua anggota (netizen) secara bebas bisa mengutarakan apa yang diketahuinya, dan bahkan secara blak-blakan tanpa mempertimbangkan akibat yang bisa ditimbulkannya jika sesuatu yang diketahui itu ternyata tidak utuh dan jauh dari benar. Seakan-akan, di media sosial itu tidak ada yang salah, semuanya benar, sehingga konflik mental dalam diri netizen berkecamuk.

Nah, di sinilah, sikap rendah diri dan selalu belajar diperlukan agar tidak menjadi pribadi yang selalu merasa benar sendiri. Silakan baca kembali tentang tiga orang buta yang diminta untuk mendeskripsikan gajah di atas. Mungkin ini akan menjadi introspeksi bagi diri kita masing-masing. Persoalan yang sangat urgen untuk dibicarakan, yaitu mengapa konflik di era melinial seakan-akan terus menggelinding bagaikan bola api?

Hal ini bukan karena media sosial atau zaman milenialnya, tetapi karena pribadi kita masing-masing yang merasa paling benar di antara yang lain. Namun, jika sudah merasa paling benar, mengapa masih terjadi konflik, permusuhan dingin, dan pertentangan? Hal itu karena apa yang kita anggap benar, tidak sepenuhnya benar, namun kita mengklaim itu paling benar.

Hal-hal semacam ini yang perlu disadari oleh diri kita masing-masing. Di era melinial ini, sebenarnya sudah sejak dulu, kita bukan berperang melawan orang lain atau sesuatu di luar kita, tetapi diri kita sendiri yang harus dilawan. Pada zaman dahulu, seorang Manusia Mulia yang Dirahamati Tuhan pernah menyatakan bahwa setelah perang fisik yang dilalui oleh banyak umat manusia (dalam konteks beliau yaitu perang Badar, karena pada masa itu perang Badar adalah perang yang sangat besar), masih ada perang yang lebih besar dari itu, yaitu berperang melawan nafsu. Kata nafsu ini berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti diri, yaitu berperang melawan diri sendiri: ego.

Juga ungkapan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah membuat pernyataan setelah berhasil (berperang) mengusir tentara Belanda dan Jepang dari Indonesia, bahwa bangsa Indonesia akan menghadapi musuh yang lebih dahsyat dan hebat selain penjajah dari luar, yaitu melawan bangsanya sendiri. Entah dari mana ungkapan tersebut dilahirkan oleh presiden pertama Indonesia. Tentu ungkapan tersebut memiliki rujukan yang tidak perlu dijelaskan secara panjang kali lebar oleh presiden pertama Indonesia.

Namun hakikatnya sama dua ungkapan tersebut, yaitu musuh terbesar kita ada di bagian internal. Manusia Mulia yang Dirahmati Tuhan menyatakan musuh yang akan dihadapi manusia adalah nafsu (diri kita sendiri). Ini merupakan konsep musuh yang universal, semua manusia menghadapinya. Namun presiden Ir. Soekarno menyebutnya bangsa kita sendiri. Dua konsep tentang musuh besar kita ini memiliki kesamaan, yaitu musuh internal (dalam diri kita). Ungkapan presiden Soekarno ini merupakan konsep musuh semi-universal usuh, yaitu dalam lingkup internal kebangsaan dan kenegaraan.

Ada baiknya, menghadapi era melenial saat ini, kita harus banyak belajar tentang berbagai aspek ilmu pengetahuan. Khususnya yang marak terjadi, yaitu isu keagamaan yang banyak dikaitkan dengan fenomena politik. Hal ini yang memicu konflik dingin di media sosial sebagai buah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Di media sosial, banyak kita jumpai adu argumen dan saling berkemontar, bahkan – jika diibaratkan, sama dengan peperangan – sangat sengit, saling menyalahkan satu sama lain. Perlu disadari, bahwa setiap klaim kebenaran yang memunculkan konflik, itu tidak benar. Sekiranya, sampaikan apa yang menurut kita benar tetapi tidak perlu menganggap pendangan kita yang benar sendiri. Seluruh agama-agama di bumi ini mengajarkan kedamaian, jika suatu bentuk ujaran atau gagasan menimbulkan kerusuhan dan konflik (meskipun itu dianggap sebagai sebuah kebenaran), – sebagai umat yang beragama – maka hal itu harus kita hindari.

Membangun hubungan sosial yang baik, itu ajaran dari setiap agama di bumi. Terlebih dalam agama Islam, menyelesaikan konflik (secara umum, konflik sosial) bukan dengan mendatangkan konflik baru. Bagi yang beragama Islam, seharusnya mempelajari syariat Islam secara menyeluruh, jangan setengah-setengah agar pemahaman yang didapatkan lebih mendekati pada kesempurnaan. Umat Islam jangan sampai mengikuti tokoh (pemuka agama) yang dalam ucapannya hanya menimbulkan fitnah (kecurigaan), ketidakkondusifan, apalagi ucapan tidak sopan dan bahkan mencaci maki pihak lain, hal itu jelas keliru dalam syariat Islam, tentu juga dalam ajaran agama-agama yan lain.

Berperang melawan diri sendiri di sini dengan maksud untuk mengendalikan nafsu atau egoisme diri agar tidak menimbulkan konflik. Dalam agama Islam, nafsu itu dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu: ammarah, lawwamah, muthmainnah, mulhamah, radhiah, mardhiyah, dan kamilah. Namun secara inti, nafsu ada tiga, yaitu: muthamiannah, lawwamah, dan ammarah. Nafsu muthmainnah, yaitu diri yang berkaitan dengan ketenangan dan mendorong pada kebaikan. Nafsu lawwamah, yaitu diri yang berkaitan dengan ajakan untuk berbuat baik atau buruk. Sedangkan nafsu ammarah, yaitu diri yang berkaitan dengan perbuatan dilarang oleh agama (misal kejahatan).

Sebagaimana diketahui, bahwa puncak dari sekian banyak jenis nafsu dalam diri manusia ini, yang paling urgen diutamakan untuk dikendalikan, yaitu nafsu muthmainnah. Jika jenis nafsu ini bisa dikendalikan dengan baik oleh masing-masing individu, maka nafsu-nafsu yang lain akan dengan mudah dikendalikan. Maka dari itu, untuk mengendalikan nafsu-nafsu tersebut, kita dianjurkan untuk belajar ilmu pengetahuan secara utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, kita bisa memiliki pemahaman tentang segala hal, tidak seperti tiga orang buta yang diminta mendeskripsikan gajah dengan menyentuh bagian-bagiannya saja.

Pertanyaan penting bagi diri kita masing-masing, yaitu bisakah kita berinteraksi di media sosial atau realitas sosial tanpa menimbulkan kericuhan, permusuhan, dan kesemrawutan laten bagi masyarakat secara umum? Bisa, yaitu dengan mengendalikan egoisme dalam diri kita. Inilah perang melawan diri sendiri yang harus kita hadapi, baik di media sosial atau pun di realitas sosial.

Baiklah, sebagai penutup, saya petik ayat dari dalam al-Quran. Saya pikir, ajaran ayat yang akan saya petik ini sangat universal untuk digunakan oleh umat di seluruh dunia: “Dan jangan memalingkan mukamu dari manusia dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan perhaluslah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara yaitu suara keledai.” (QS: Luqman ayat 18-19).

Dalam tafsir Ibn Katsir[2] juz VI halaman 116-117 dijelaskan bahwa “memalingkan muka” di sini yaitu dengan maksud sombong dan memalingkan wajah ketika ada orang yang mengajak bicara (mengobrol, entah untuk dialog atau apa pun sejenisnya) dan menghina hamba Allah (makhluknya). Sedangkan maksud “jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh” yaitu bersombong ria, sewenang-wenang (seenaknya sendiri), keras kepala (kaku dan membangkang). Hal itu jangan sampai dilakukan, jika itu dilakukan maka Allah akan murka.

Sedangkan pada ayat 19 maksud “menyederhanakan dalam berjalan” yaitu berjalan secara wajar, tidak pelan dan tidak cepat. Sementara maksud “menghaluskan suara” yaitu ketika berbicara jangan sampai menaikkan suara jika tidak penting (hal yang penting misalnya karena lawan bicara ada gangguan pendengaran, tidak begitu mendengar).

Di era melinial, khususnya di media sosial yang berasal dari realitas sosial, kita tentu menjumpai oknum yang mengatasnamakan diri beragama (Islam), tetapi melanggar al-Quran surah Luqman atau 18-19 itu. Misalnya saja, seorang penceramah berani menghina dan bahkan dengan nada suara tinggi (kasar tampak menantang). Menghina saja tidak boleh, apalagi dengan nada tinggi, padahal pendengar bukan tunarungu.

Nah dari hal itu (sebagian contoh kasus, tentu ada kasus lainnya), kita harus cerdas dalam bermedia sosial dan berealitas sosial, antara memilah dan memilih sosok tokoh idola. Tujuannya satu, agar kita tidak terpengaruh dan terbawa arus pada pola-pola pikir yang keliru, sehingga diri kita bisa mengendalikan dan membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan diucapkan. Peran nafsu muthmainnah (tentu juga peran pengendalian nafsu-nafsu (ego) lainnya) di sini sangat penting, yaitu tentang cara kita dalam melakukan kebaikan tanpa menimbulkan keburukan.

Ada satu patokan (yang mendekati kebenaran) yang bisa dipegang oleh kita, yaitu ketika suatu aktivitas (tindakan atau ucapan) menimbulkan keresahan, fitnah (kecurigaan dan sejenisnya), dan konflik, maka hal itu bisa dipastikan keliru, baik dari sudut pandang sosial atau agama. Begitu kira-kira. Selebihnya, hanya Tuhan yang Mahabenar. Menyitir ungkapan Imam Syafi’ie, bahwa apa yang saya katakan bisa saja benar dan bisa saja salah dalam pandangan orang lain. Demikian, mohon maaf yang sebesar-besarnya, kritik (bukan bully) dan saran insyaAllah akan saya terima dengan hati lapang.

* Disampaikan pada acara Seminar Nasional Online yang diakan oleh Komunitas Sang Juara (KSJ) pada Jumat, 27 Desember 2019 pukul 19:30.

Surakarta, 27-12-2019


[1] Ungkapan ini bisa dicontohkan dengan pertanyaan matematis: bagaimana cara agar bisa menghasilkan angka 8? Jawabannya bisa menggunakan cara 4+4=8 juga sama dengan 2×4=8, 5+3=8, 7+1=8, 9-1=8, 88-80=8, 16:2=8, dan seterusnya.

[2] Tafsiru al-Quran al-‘Adhim li al-Imam Ibn Katsir: Faqiyhu al-Mufassirina wa Mufassirina al-Muhadditsina, al-Juzu al-Sadisu, surah al-Qashash hatta Akhira Surati al-Hujaraati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: