Imajinasi Bahasa dan Kompleksitas Karya (Sastra)

Padang Ekspres: Minggu, 23 April 2017

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab Doc.

Eksistensi kesusastraan merupakan dunia yang sarat dengan imaji-imaji yang menyedot konteks sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Sastra kadang dipandang sebagai karya yang memiliki estetika dan nilai tawar yang tinggi. Meski sebagian menganggap sastra tidak berpengaruh kuat dalam lingkungan sosial. Namun, pada kenyataannya tidak selalu demikian. Seperti Kahlil Gibran dalam puisi-puisinya melakukan perlawanan atas kaum penjajah.

Dalam esainya, Abdul Hadi WM (Berita Buana, Selasa 13 Oktober 1987) mengulas bahwa Kahlil Gibran menggunakan kekuatan bahasa dalam puisinya sebagai amunisi untuk menyerang para penjajah kaumnya. Sebagai pribadi yang berkebangsaan Arab, Gibran melalui puisinya menggelorakan semangat perjuangan dan perlawanan dengan puisi-puisinya yang berbahasa Arab. Namun demikian, sebagai serangan balik atas penjajah kaumnya, dia menggunakan bahasa Inggris dalam puisi-puisinya dengan aksi damai.

Lebih dari itu, Hadi mengulas ungkapan Sherfan bahwa Gibran memiliki dua kepribadian yang melekat pada dirinya. Sebab, dalam puisi bahasa Arabnya Gibran menyerukan perjuangan dan perlawanan. Sementara melalui puisi-puisinya yang berbahasa Inggris dia menyerukan ketenangan dan perdamaian. Sebuah logika strategi perlawanan yang cukup cerdas. Tanpa kesadaran yang utuh, sudah tentu para penjajah yang mayoritas berbahasa Inggris dan tidak bisa secara maksimal memahami bahasa Arab akan terlena dan dingin. Dengan pengaruh puisi bahasa Arabnya, bangsa Gibran dibakar api perjuangan dan perlawanan di tengah opini perdamaian dalam puisi bahasa Inggris Gibran yang dikonsumsi oleh kaum penjajah.

Mungkin itu salah satu pengaruh bahasa dalam dunia kesusastraan (puisi) dan karya-karya fiksi lainnya. Tentunya, Gibran dan bangsanya tidak hanya melakukan perlawanan secara fisik, namun perlawanan mental juga menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Substansinya bukan hanya puisi dan karya fiksi lainnya yang memiliki pengaruh kuat bagi masyarakat. Tetapi, karya-karya lainnya yang bersumber dari unsur bahasa memiliki pengaruh kuat.

Misalkan belakangan ini masyarakat Indonesia mengalami goncangan kebangsaan dan intolerasn dalam berbagai lini: politik, budaya, sosial, hingga keyakinan. Satu hal yang sangat berperan, yaitu bahasa yang tersebar di berbagai media dan dikonsumsi publik. Sehingga, kalangan tertentu memanfaatkan bahasa melalui media sebagai tunggangan untuk memenuhi hasrat dan tujuannya agar tercapai. Tidak heran bila bahasa – khususnya dalam karya fiksi – memiliki pengaruh kuat bagi masyarakat pembacanya. Karena bahasa bukan memengaruhi fisik, tetapi pola pikir yang kemudian ditransfer menjadi tindakan nyata.

Kematian Fiksi (Puisi)

Kehadiran karya fiksi (puisi) dalam dunia kesusastraan ibarat air ide yang memercik dan menyesap serta menyerap ke sekujur tubuh hingga naluri, lalu menjadi ruh kehidupan manusia. Mikihiro Moriyama dengan pengantarnya, dalam buku Menjadi Penyair Lagi menyebutkan bahwa puisi lahir dari tubuh penyair sebagai anaknya sendiri. Dia harus menunggu saat kelahirannya dengan sabar, dan begitu sudah lahir anak baru itu menjadi buah hatinya seperti anaknya sendiri (Acep Zamzam Noor, 2007:xvi).

Maka dari itu, puisi sebagai anak dari seorang penyair juga akan mengalami kematian sebagaimana manusia yang yang memiliki kehidupan. Terlebih puisi dengan keangkuhan dan keindahan bahasa serta kata-katanya yang menjadi diksi, sehingga tidak mudah untuk dipahami. Dengan demikian, puisi akan terancam kematiannya ketika sudah tidak bisa dipahami sebagai narasi ruh dan tanpa implementasi bagi kehidupan bagi manusia. Namun, bukan hanya puisi belaka, karya-karya lainnya pun tak jauh berbeda jika tidak ada gerakan untuk menjadikan ide kreatif dari imajinasi bahasa fiktif dan non-fiktif sehinga bernilai riil.

Bahasa puisi memiliki imajinasi yang kompleks. Ada yang sederhana, sulit, setengah sulit, dan biasa-biasa saja penyajiannya. Eksotisme bahasa imajinasi puisi dari diksi-diksinya memang terkadang sulit dipahami oleh pembaca, hal itu yang menjadi benang merah bagi kita untuk menjadikan puisi sebagai gerakan sosial. Misalkan karya Gratiagusti Chananya Rompas – Kota Ini Kembang Api – (Gramedia, 2016). Kumpulan puisi menggambarkan tentang kehidupan di kota. Secara praktik karya ini bisa dikatakan pasif perannya untuk membangun gerakan agar kota menjadi kota yang nyaman dan tenteram. Namun, upaya Rompas cukup kreatif dan mudah dipahami dalam mendeskripsikan tentang kota. Sehingga, pembaca mudah menemukan maknanya. Tapi, itu menjamin sebuah puisi memberikan nilai kemanusiaan yang luhur dalam praktiknya.

Tidak semudah membalik telapak tangan untuk menyalurkan ide agar memberikan sumbangsih moral bagi kehidupan umat manusia. Khususnya karya fiksi – puisi – yang secara substansial maknanya tidak mudah dipahami. Maka dari itu, kolaborasi penyair (penulis) dengan anaknya (karya) perlu disinkronkan antara karya dan langkah konkretnya. Seorang anak tidak akan melakukan hal-hal tertentu tanpa mendapat dukungan dan inspirasi dari orangtuanya. Begitu pula dengan puisi sebagai anak emas seorang penyair, maka agar puisi-puisi itu menjadi gagasan-ide nyata perlu gerakan aktif dari penyair sebagai orangtuanya untuk membuka akses dalam merealisasikan tumpahan idenya. Dalam hal ini, penyair dan para penulis harus berperan aktif untuk menyesuaikan perilakunya dengan ide-ide yang telah dilahirkan.

* Penulis Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Bisa dijumpai di:

YouTube: Junaidi Khab

Instagram: Junaidi Khab

Twitter: Junaidi Khab

Facebook: Junaidi Khab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: