Jokpin dan Universalitas Makna dalam Berpuisi

Lampung Post: Minggu, 14 Januari 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Ilustrasi oleh Sugeng Riyadi_Lampung Post: Minggu, 14 Januari 2018

Puisi merupakan karya sastra yang secara gamblang sangat mudah pembuatannya. Namun, jika ingin menghasilkan makna yang tajam dan penuh arti bagi kehidupan manusia, hal itu yang sangat sulit dan rumit untuk dilakukan. Kita memerlukan permenungan yang cukup mendalam untuk menghasilkan puisi yang bisa memberikan makna luar biasa. Bukan hanya penyusunan diksi, tetapi sebuah rasa yang diselipkan memerlukan kesucian jiwa untuk melahirkan puisi yang bernas.

Dalam hal ini, Joko Pinurbo (Jokpin) sebagai penyair telah mampu melahirkan puisi-puisi renyah dan ringan tetapi penuh makna. Salah satunya diterbitkan oleh penerbit Basabasi Yogyakarta berjudul Telepon Genggam (2017). Dengan gaya bahasa yang sederhana, Jokpin menghadirkan telepon genggam sebagai eksistensi kehidupan manusia. Telepon genggam menjadi teman hidup manusia dalam Read more of this post

Advertisements

Mancing Mania di Yogyakarta

Junaidi Khab dan Ikan

Oleh: Junaidi Khab

Aku memiliki kegemaran akut terhadap dunia air, ikan, sungai, danau, laut, dan pancing. Di rumah, aktivitasku sepertinya tidak mau lepas dari kegemeranku itu. Sejak aku kecil, aku sudah suka memancing mengitari sungai di dekat rumahku. Kadang orangtua (ibu) sampai marah padaku gara-gara kadang lupa makan dan lupa pulang menjaga mata kail dimakan ikan di sungai. Kalau aku tidak memancing di sungai, pasti ke Read more of this post

Naik Haji Berkat Memberi Sedekah

Harian Analisa: Jumat, 5 Mei 2017

Cover Tukang Singkong Naik Haji

Judul               : Tukang Singkong Naik Haji

Penulis             : Satria Nova

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, Februari 2017

Tebal               : 194 halaman

ISBN               : 978-602-418-083-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Dalam al-Quran surah al-Thalaq ayat 7, Allah Swt. berfirman: “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang terbatas rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan oleh Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberi kelapangan sesudah kesempitan.Read more of this post

%d bloggers like this: