Berperang Melawan Diri Sendiri: Sebuah Pandangan di Era Milenial*

“Yang beda belum tentu salah.[1]” Oleh: Junaidi Khab

Dokumen Pribadi Junaidi Khab

Pada suatu kesempatan, Imam Syafi’ie pernah mengatakan bahwa semua rumusan pemikiran atau gagasannya (khusus di bidang fikih) itu, menurutnya benar dan bisa saja salah menurut pandangan orang lain. Ungkapan tersebut bukan berarti secara totalitas pemikiran Imam Syafi’ie itu benar menurut pandangannya. Tetapi yang jelas, dia membuat suatu hukum tentu menggunakan landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Imam Syafi’ie menyatakan demikian sebagai bentuk berakhlak, karena di dunia ini yang memiliki Read more of this post

Tauhid Kemanusiaan

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Tauhid Kemanusiaan

Secara umum ajaran Agama Islam terdiri dari tiga hal pokok: akidah, syariah dan akhlak. Tiga hal tersebut saling terkait antara satu dengan lainnya. Kesempurnaan keberagamaan terwujud saat tiga hal tersebut dapat dipahami dan diwujudkan secara benar dan tepat. Secara praktis, akidah biasanya dirumuskan dalam rukun iman yang enam. Sementara itu, syariah dirumuskan secara praktis dalam bingkai lima rukun Islam. Pemahaman yang benar dan tepat tentang iman kepada Allah, pada saatnya juga mesti diikuti dengan hal serupa terkait dengan iman kepada para rasul Allah, kitab-kitab Allah, malaikat, hari akhir dan qadha serta qadar. Selanjutnya diikuti dengan entry point bersyariah yaitu syahadat yang benar dan tepat, dan dilanjutkan dengan shalat, zakat, puasa dan haji. Dan berikutnya mewujud dalam akhlak mulia. Hal ini merupakan salah satu pengejawantahan tauhidullah dalam Read more of this post

Motivasi

Sumber gambar: di sini.

Sejak aku berada di Jogja, ada beberapa harapan untuk alumni-alumni yang baru lulus sekolah dari Al-in’am itu sebagian melanjutkan pendidikan, kuliah ke Jogja. Atau setidaknya, adik-adik kelas fresh graduate melanjutkan ke sekolah-sekolah atau pesantren yang memiliki keragaman yang lebih luas. Soalnya berbeda, antara mereka yang tak sekolah (belajar, kuliah) dengan yang bersekolah. Tapi, kenyataan ini masih tampak kurang disadari. Bersekolah cukup sampai habis sekolah menengah atas (SMA) saja, asal ilmunya diamalkan. Racun semacam ini yang Read more of this post

%d bloggers like this: