Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Masalah Terorisme Global

Secara khusus Indonesia menjadi tempat gerakan terorisme berbasis agama selain memang secara umum terorisme bergeak di belahan dunia. Aksi terorisme bukan semata menimbulkan ketakutan, tetapi juga konflik sosial. Hingga mengerucut pada persoalan agama. Tak mengherankan jika agama Islam di Indonesia dianggap sarang teroris, karena para pelakunya mengatasnamakan jihad di jalan Allah yang mengibarkan bendera berbau Islam.

Melalui ulasan yang kritis, Fatlolon akan mencoba menelusuri kelahiran terorisme berskala global. Argumentasi-argumentasi yang disuguhkan oleh Fatlolon dalam buku ini mengacu pada pendapat Habermas. Menurut Habermas kehadiran terorisme global merupakan akibat dari kolonisasi dunia kehidupan oleh sistem kehidupan modern yang dipimpin oleh dua subsistem, yaitu uang dan kuasa. Dua susbsistem ini telah berhasil merangsek masuk ke ranah pribadi dan ranah sosial manusia modern, sehingga menghasilkan distorsi komunikasi (hlm. 23).

Seorang teroris tidak akan bergerak jika memang tidak ada dukungan finansial, yang dalam hal ini uang. Uang seakan menjadi segala-galanya di era milenial saat ini. Sifat materialistik dijadikan sebagai standar dalam keberhasilan hidup. Para pelaku teroris bergerak jika tidak dengan harapan mendapat uang tentu gerakannya didukung oleh uang atau finansial yang memadai. Karena untuk meledakkan sebuah bom juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merakitnya.

Baca:

=> Cara Ibu Merawat Anak

=> Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia

=> Menata Kehidupan Rumahtangga

=> Agama, Moral, dan Politik

=> Perjuangan Orang Miskin di Indonesia

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

=> Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA)

=> Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel

Namun, secara sederhana dua hal yang menjadi penyebab kelahiran terorisme global yaitu keterpisahan sistem dan dunia kehidupan yang dipengaruhi oleh uang serta kuasa. Bagi kaum teroris, teknikalisasi dan kolonisasi secara gradual meniadakan pengaruh supranatural dan aturan-aturan moral dari beberapa bidang kehidupan publik yang luas (hlm. 56).

Seperti kita ketahui bahwa ancaman teroris internasional mutakhir pada umumnya memiliki sebuah inspirasi religius. Ancaman teroris ini dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah fenomena anti-globalisasi yang lebih besar dan gesekan antara ketimpangan ekonomi internasional, kaum elit, dan kaum yang tak memiliki hak-hak khusus dalam negara. Terorisme ini bertujuan mengeksploitasi perasaan frustrasi masyarakat. Terorisme dalam arti ini, merupakan upaya dari sebuah generasi untuk menebarkan ketakutan secara masif dengan tujuan mempertahankan penguasaan terhadap sesama manusia (hlm. 63).

Memang ada banyak dugaan atas kelahiran terorisme yang berskala internasional. Seperti salah satu dugaan yang sering kita dengar yaitu ketidakadilan, sehingga gerakan-gerakan fundamental bermunculan. Dari gerakan-gerakan semacam itu kemudian lahir aksi terorisme dengan segala perangkat untuk membenarkan tindakannya. Padahal, tidak ada suatu ketentuan yang membenarkan tindakan-tindakan anarkis yang dilakukan oleh para teroris. Hal semacam itu yang perlu kita antisipasi agar aksi-aksi terorisme tidak kembali muncul.

Salah satu tawaran atau alternatif untuk meredam terorisme global yaitu tindakan komunikatif yang berorientasi untuk mendapatkan konsensus. Hal ini terjadi ketika apra aktor menampilkan tindakan-tindakan mereka “bukan melalui kalkulasi egosentrik” menuju kesuksesan, melainkan melalui tindakan yang berorientasi untuk mencapai saling pengertian (hlm. 72).

Baca juga:

=> Lipstik

=> Baju Ayah

=> Sehelai Kerudung

=> Motivasi

=> Politasasi Bahasa

=> Cerita Dewasa

=> Meneladani Langkah Kepolisian Medan

=> Puisi-Puisi Junaidi Khab* 1

=> Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi

=> Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil

Dengan kata lain, sifat terbuka menjadi salah satu tujuan utama dalam memberantas terorisme. Transparansi perasaan, tanggung jawab, dan hak-hak perlu kiranya disuarakan dalam bentuk komunikasi yang lebih bermoral. Bukan dengan cara kekerasan dan menakuti masyarakat secara luas, tetapi kita harus melakukan tindakan cerdas-konstruktif yang bisa membawa kemaslahatan bagi umat. Sebenarnya memang sangat sulit memberantas terorisme, apalagi yang berskala global, karena sudah barang tentu ada kepentingan tersendiri di balik aksi-aksi terorisme. Tetapi, kita bisa berharap banyak pada gagasan yang solutif, termasuk pada ide yang tertuang di dalam buku ini.

Kehadiran buku ini akan mengulas penyebab-penyebab kemunculan terorisme dengan mengacu pada pandangan Habermas. Yang mana pendapatnya menyatakan bahwa kolonisasi dunia kehidupan oleh sistem telah mengakibatkan distorsi komunikasi dalam dunia. Selain itu, pembahasan dalam buku ini berusaha menguak tabir penyebab dan kemungkinan solusi bagi masalah terorisme global. Sehingga, dengan gagasan yang tertuang dalam buku ini, aksi terorisme sedikit-banyak bisa dikendalikan. Semoga!

Judul               : Masalah Terorisme Global

Penulis             : Costantinus Fatlolon

Penerbit           : Kanisius

Cetakan           : II, 2017

Tebal               : 104 halaman

ISBN               : 978-979-21-4683-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Pimpinan Tertinggi Penakluk Hawa Nafsu di Yogyakarta.

Tulisan ini sudah pernah tayang di: Pustaka Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: