Mengurai Konflik dalam Beragama

Duta Masyarakat: Sabtu, 16 Maret 2019

Doc. Pribadi Junaidi Khab_Bertutur Sang Gatholoco

Makna beragama bukan semata sering menyatakan baik atau buruk secara lahiriah belaka di hadapan banyak orang, tetapi melakoni segala bentuk perilaku yang pada hakikatnya benar-benar bermakna positif sebagaimana dianjurkan dalam ajaran agama. Melalui novel Bartutur Sang Gatholoco ini, Ari ingin menguliti segala hal yang berbau sarkasme dalam beragaama dan seluruh tetek bengik yang menjadi latar belakang kelahiran konflik berlatar atau bersandar pada agama.

Karya ini mengritik secara keras dan pedas terhadap masyarakat yang beragama tetapi perilakunya tak menampakkan suatu realitas yang relijius. Apabila substansi karya ini direnungkan secara mendalam akan diketahui bahwa kehadirannya merupakan sindiran untuk mereka yang setiap hari penuh kekakuan dalam kehidupan beragama, sehingga melahirkan Read more of this post

Larangan Menikah meskipun Sunnah

Duta Masyarakat: Sabtu, 17 November 2018

Doc. Pribadi Junaidi Khab_Tart untuk Naila

Dalam syariat (ajaran) agama Islam, menikah merupakan sesuatu yang disunnahkan. Dalam sebuah hadist dijelaskan: Dari Abdullah bin Abbas bin Mas’ud r.a, Rasullah Saw. berkata pada kami: “Wahai para pemuda! Barang siapa yang mampu di antara kalian untuk kawin, maka menikahlah, maka sesungguhnya menikah bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah, karena puasa bisa menjadi pengendali.” HR. Bukhari dan Muslim.

Sebuah kisah dalam novel Tart untuk Nayla karya Sigit Apriyanto ini menyuguhkan tentang pernikahan yang dilarang (hlm. 38). Tak boleh. Sigit menuliskannya dengan bahasa setengah ambigu, mungkin sebagai bentuk kreasi agar Read more of this post

Bijak Memahami Islam Melalui Alquran Digital

Duta Masyarakat: Sabtu, 12 Januari 2019

Doc. Pribadi Junaidi Khab: Wajah al-Quran di Era Digital

Belakangan ini, kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan telinga kanan-kiri di media sosial tentang orang-orang yang mengaku beragama (Islam) ungkapan dan bahasanya sangat merisaukan. Sehingga benturan antar saudara seiman sudah menggerus kerukunan dalam berbangsa dan bernegara. Sebut saja belakangan ini kita disuguhi oleh isu pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Kasus itu mencuat dan dibesar-besarkan oleh kelompok tertentu dengan alasan-alasan yang kadang kontroversial jika dicermati dengan saksama.

Hal tersebut ditengarai oleh pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama (Islam) yang masih sebatas secara literal terhadap ayat-ayat Alquran tanpa mendalaminya dari berbagai sudut pandang: seperti histori atau sebab-sebab suatu ayat diturunkan atau diwahyukan. Isu-isu keagamaan yang mencuat di media sosial belakangan ini menjelang Pilpres 2019 seperti Read more of this post

%d bloggers like this: