Menjadikan Jabatan Penuh dengan Berkah

Harian Bhirawa: Jumat, 13 Juni 2014

Cover Buku Saku Rahasia Keberkahan Petunjuk Nabi Meraih Hidup Lebih Berkah (Junaidi Khab)

Cover Buku Saku Rahasia Keberkahan Petunjuk Nabi Meraih Hidup Lebih Berkah (Junaidi Khab)

Judul               : Buku Saku Rahasia Keberkahan Petunjuk Nabi Meraih Hidup Lebih Berkah

Penulis            : Taufiq Ali Zabady

Penerbit           :zaman

Cetakan           : I, 2014

Tebal               : 297 halaman

ISBN               : 978-602-1687-07-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

Ketika kita dikenalkan dengan istilah berkah, semua orang ingin memiliki keberkahan. Keinginan tersebut karena ada yang menyebutkan bahwa berkah bisa mengawetkan, tahan lama, dan tidak mudah habis. Seakan-akan berkah dimaknai dengan kekal dan abadi, sehingga semua orang ingin segala yang dimilikinya menjadi berkah, termasuk jabatan. Namun, kita masih bingung mengenai cara agar diberkahi.

Kehadiran buku karya Taufiq Ali Zabady ini akan memberikan ulasan tentang makna berkah serta alasan penyebab berkah itu datang. Berbagai hal yang berkaitan dengan berkah, keberkahan, dan yang diberkahi, serta selalu berada dalam keberkahan akan disuguhkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan penuh makna bagi kehidupan kita. Dengan keberkahan, hidup kita akan bahagia karena merasa terus tercukupi dan penuh makna.

Kata “diberkahi” disebutkan sebanya dua belas kali dalam al-Quran. Dalam ayat-ayat itu Allah menyebutkan beberapa hal yang diberkahi. Namun sejatinya, keberkahan memiliki dua makna, yaitu “berkembang dan bertambah”; serta “tetap dan abadi”. Dalam bahasa Arab, tabarakallah berarti “Allah tetap dan abadi”. Sementara, baraka al-ba’iru artinya seekor unta menderum (hlm. 14).

Secara logis Taufiq melalui karyanya ini membenarkan apa yang telah dipahami oleh masyarakat luas tentang makna berkah. Dengan berdasar pada makna bahasa Arab, berkah merupakan sifat tidak mudah habis yang melekat pada sesuatu dan yang memilikinya merasa tercukupi. Misalkan seseorang memiliki harta kekayaan, karena berkah, ia menggunakannya dalam berbagai kebaikan dan dimanfaatkan dalam dunia bisnis, sehingga ia tidak merasa terkurangi karta kekayaannya. Bahkan ia merasa hartanya bertambah, tak pernah berkurang.

Jabatan yang Berkah

Namun, dalam arti yang lain Taufiq mengartikan berkah itu merupakan sebentuk sifat yang melekat pada sesuatu, dan sifat tersebut sesuatu itu bisa digunakan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (kejahatan). Pengertian ini cukup menarik dan akan terus sesuai dengan konteks kekinian dalam mengartikan makna berkah (hlm. 221).

Segala sesuatu, baik yang kongkret ataupun yang abstrak, semuanya memiliki potensi untuk menjadi berkah. Dalam hal ini, berkah bisa kita tarik pada konteks jabatan atau kepemimpinan yang sedang kita miliki. Jabatan atau kepemimpinan bisa menjadi penuh berkah dan diberkahi dengan mengacu pada pemaknaan yang lebih kontekstual meski pemaknaa yang harfiah juga cocok, pantas, dan masih layak.

Sehingga, dengan pemaknaan berkah sebagai sesuatu yang bisa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (kejahatan), dalam konteks ini, jabatan sangat berpotensi untuk menjadi berkah. Dengan jabatan yang kita miliki, kita harus mampu mengajak kebaikan dan mencegah segala sesuatu dari kemungkaran. Namun, fakta membuktikan, banyak jabatan yang tidak berkah. Jabatan malah membawa kita pada kejahatan. Misalkan melakukan korupsi sehingga menyeret kita sendiri ke ruang jeruji penjara. Bahkan, ada yang memanfaatkan jabatan untuk bermain dengan perempuan-perempuan.

Jika sudah demikian yang terjadi, logikanya jabatan tersebut tidak berkah dan tidak diberkahi. Melihat fenomena yang marak terjadi di negeri ini, jabatan sudah tidak berkah lagi. Mungkin saja ada yang berkah, namun itu hanya bisa dihitung dengan jari-jemari tangan. Sehingga tak heran, orang yang memiliki jabatan mudah lepas dari jabatannya, jabatan tidak bisa bertahan lama.

Perlu kita sadari bahwa sesungguhnya maksiat atau kejahatan itu bisa menghapus atau mengurangi keberkahan. Secara umum, maksiat atau kejahatan mampu menghapus berkah agama dan dunia (kekyaan atau jabatan) sekaligus (hlm. 280). Karena itu, orang yang paling jauh dari berkah dan paling sepi dari dari kebaikan, baik dari sisi usia, agama, maupun dunianya (jabatan) adalah orang yang sering bermaksiat kepada Allah Swt.

Buku molek ini akan mengajak kita menjadi orang yang selalu diberkahi baik umur, agama, maupun kekayaan yang kita miliki. Ada banyak nasihat dan sugesti-sugesti yang penuh motivasi untuk menjadikan segala hal yang kita miliki bisa tahan lama, awet, berkembang, dan bertambah atau diberkahi. Salah satunya dengan menjauhi perkara maksiat (kejahatan) baik kepada Allah Swt. atau kepada sesama manusia. Dalam hal ini, segalanya akan menjadi berkah jika kita mampu dengan yang kita miliki untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Bisa dibaca di: Harian Bhirawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: