Aku Ditodong Linggis oleh Tetangga Pondok al-Husna

LinggisSurabaya – Malam itu selepas salat maghrib (16-06-2014), aku kehabisan air minum galon. Sambil iseng aku main ke kamar belakang, ke kamar Misbahus Surur. Aku ngajak cari (beli) makan sambil mau beli air galon. Permintaanku diamini olehnya, tapi setelah salat isya’ saja katanya. Aku setuju, aku paling enak dan nyaman jika keluar usai salat isya’, karena seakan tak memiliki beban salat lagi. Aku menunggu waktu salat isya’ tiba sambil membaca buku tentang Sutan Sjahrir.

Usai salat isya’ aku berangkat dengan Surur mengendarai motor Mio warna hijau, untuk beli nasi dan isi ulang di daerah Gang Lebar Surabaya. Aku heran ma Surur, tumben saja pakai motor Mio, padahal motornya merk Jupiter warna merah tua. Galon pun kutitip di tempat isi ulang, mau kuambil ketika pulang. Aku berangkat lagi, lalu Surur memesan nasi sate di area Gang Lebar. Tapi aku mau beli nasi di warung Ceria sedikit lebih jauh, agak ke utara. Aku pun beli nasi di warung Ceria. Setelah itu, pulang, di tengah jalan Surur masih mampir ke toko elektro tempat jualan laptop dan netbook, katanya mau beli memori. Aku menunggu di luar sambil liat-liat salon di sebelah toko tempat Surur mampir. Usai Surur beli yang diinginkan di toko elektro tadi, aku yang ganti menyetir motornya. Hanya sementara, nanti saat mau bawa galon aku yang akan bonceng.

Di tempat memesan nasi sate tadi, Surur berhenti untuk mengambil pesanannya. Setelah itu langsung melncur pulang ke arah selatan menuju pondokku, al-Husna. Tapi tak kusangka, di utara Gang Dosen, tak begitu jauh, tepatnya di jembatan kecil, ada mobil dari selatan. Aku yang menyetir dari utara dah mepet di tepi timur menuju ke selatan. Dari arah yang berlawanan terlihat motor warna ungu, Mio Soul, dengan lampu tak menyala mau mendahului mobil. Aku pun membunyikan bel motor karena dia sudah mepet kayak mau menabrakku yang berada pada jalur yang benar. Tapi dia (yang mengendari motor Mio Soul ungu) malah misu (marah dengan kata-kata) C**!

Begitu katanya, akupun tak terima membalas dengan pisuan yang sama, C**! Aku pun terus melaju ke arah selatan menuju pondok yang nanti mau mengambil air galon di tempat isi ulang tadi. Emosiku masih tak karuan dengan orang tadi. Kemudian, setelah tiba di tempat isi ulang, aku mengambil airku, lalu aku yang bonceng pada Surur. Motor Surur pun melaju lagi. Di depan masjid al-Taqwa Jemur Wonosari Gg. Lebar agak ke utara sedikit, aku didahului oleh orang yang mengendari motor Mio Soul tadi. Dia sdikit mencolekku yang sedang bonceng memegang galon berisi air. Ternyata orang itu belok kanan ke Gg. Masjid. Aku hanya terheran, dalam pikiranku, orang itu tak lain yang misu-ku tadi.

Sampai-sampai aku tak sadar diri waktu disapa oleh bapak-bapak penjual nasi goreng yang akrab denganku di depan masjid al-Taqwa. Aku hanya mengiyakan pada bapak yang jualan nasi itu sambil melihat orang tadi. Ternyata, orang itu ke rumah tetangga sebelah timur pondokku. Aku hanya bilang pada Surur setengah berbisik, dia itu orang sana, tetangga pondok. Ketika aku mau belok kiri mau masuk pondok, aku dan Surur dicegat oleh orang tadi karena kebetulan rumahnya nempel ke dinding pondokku. Dia menodongku dengan besi, kayak pembuka ban saat mau ditambal (linggis). Aku pun kaget, karena aku tak begitu paham, dan masalah pisuan tadi itu biasa-biasa saja di antara para pemuda Surabaya. Lagian yang misu duluan, dia.

Dia sambil menodongkan benda tadi padaku sambil berkata: “Lapo koen misu-misu tadi?”.

Aku jawab dengan pelan: “Mas, maksudmu…?!/?.”. Suaraku terputus karena bingung dengan todongan orang tadi. Padahal dia yang misu duluan waktu itu.

Lapo koen mau misu-misu? Aku lho orang baik”. Katanya begitu dengan logat Surabaya, sok gaya dengan benda besi di tangannya semacam linggis. Dia mendorong tubuhku yang duduk di boncengan Surur dengan memegang galon berisi air. Aku hampir roboh dan terjatuh dari motor (malu rasanya dilihat orang/tetangga pondok). Lalu bapak-bapak datang menghampiri orang itu (ternyata orang tadi itu anaknya).

Sudah-sudah, damai saja. Saya punya alat-alat banyak di sini”. Katanya meminta damai padaku. Dia menatapku seakan membela anaknya sendiri. Aku pun hanya terdiam dengan berbagai pertimbangan. Melawan atau tidak? Aku pikir kalau hanya senjata semacam itu aku mampu dengan izin Tuhan dan keberanianku. Bapaknya tadi bilang punya banyak alat-alat, yang dimaksud mungkin senjata untuk menghabisiku. Aku pilih jalan sabar dan menyerah saja dengan pertimbangan nama baik pondokku. Juga, jika aku melawan, meskipun aku berhasil memukul anaknya, aku hanya pendatang dari Sumenep Madura. Aku tak memiliki ruang gerak di area pondok. Otomatis aku harus keluar pondok demi kenyamanan sehari-hariku.

Aku menatap anak tadi, ternyata matanya merah, seperti habis minum (bir). Aku pun masuk gerbang pondok bersama Surur. Di dalam pondok aku langsung cerita, sedikit menjelaskan pada Davida Ruston (David) dengan nada yang sedikit gemetar akibat emosi yang bercampur malu. Lalu aku naik, masuk kamar dengan menggotong galon isi ulang airku. Aku masih ingin meluapkan emosi. Tapi aku hanya meluapkan dengan bercerita pada teman yang kebetulan ada di kamar, Ahmad Halif (Halif) dan Moh. Syafi’i (Pi’i). Aku menenangkan diri, lalu minum es di kamar milik Halif.

Wah, ternyata banyak yang ingin tahu kejadian tadi. Aku terpaksa bercerita dengan tenang, agar emosiku sedikit mereda. Lalu aku makan dengan Surur di kamarnya sambil bercerita tentang kejadian tadi dengan Surur yang kutujukan pada Adam, teman kamar Surur, anak kepulauan Bawean. Setelah makan, aku ambil netbook di kamar besrta ponsel (waktu itu Zainal Arifn sibuk dengan temannya, Samsul) aku buru-buru keluar kamar. Lalu aku ke utara dengan netbook, mau melihat situasi di luar pondok dari lantai dua, setelah itu mau menuliskan kisahku ini. Tapi aku ketemu David lagi waktu akan masuk kamarnya. Aku cerita lebih jelas lagi padanya. Usai cerita, aku diminta cerita lagi oleh Zainuddin (Pak De) yang sengaja masuk kamarnya itu. Aku pun cerita lagi. Ternyata kata Pak De, orang di situ (tetangga pondok itu) anaknya suka cari masalah. Apalagi kakaknya (yang ikut pencak silat […./dihapus /gak boleh nyebutin merk/ aku lupa/ maaf]) dulu sebelum punya istri juga suka cari masalah, begitu katanya. Wah, bisa-bisa aku halus seperti tepung kalau silatnya dipraktekkan.

Sudahlah, cuekin saja. Gak usah dihiraukan orang seperti itu”. Kata Pak De menasehatiku. Aku mengiyakan apa yang ia katakan padaku. Hingga aku mengaksarakan emosiku melalu tulisan ini. Katanya lagi, anak itu punya geng-gengan (semacam anak berandal). Aku pilih damai saja, daripada masalah tambah kacau dan merambat pada nama baik pondok. Jika ketemu nanti, aku akan minta maaf jika memang aku yang bersalah (bukan berarti aku salah). BEGITU.

NB: Kira-kira mana yang benar ya??? Jangan mengompori aku ya teman-teman. Aku harap ada solusi terbaik dari kalian.

Surabaya: Senin, 16 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: