Belajar dari Negeri Belanda

Rima News: Kamis, 12 Juni 2014

Cover Cheesy Notes from Holland Catatan Perjalanan Tak Terlupakan di Belanda (Junaidi Khab)

Cover Cheesy Notes from Holland Catatan Perjalanan Tak Terlupakan di Belanda (Junaidi Khab)

Judul                 : Cheesy Notes from Holland Catatan Perjalanan Tak Terlupakan di Belanda

Penulis            : Yuhendra

Penerbit           :DIVA Press

Cetakan           : I, April 2014

Tebal               : 240Halaman

ISBN               : 978-602-255-537-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Indonesia sebagai negara berkembang masih membutuhkan banyak sokongan sebagai penopang kemajuan bangsanya. Setelah sekian abad dijajah oleh Balanda kemudian oleh Jepang, Indonesia mengalami degradasi mental dan nasionalisme. Ada banyak kekurangan dan bahkan keterpurukan menimpa anak negeri ini. Setidaknya, untuk membangun Indonesia, banyak anak negeri yang belajar ke berbagai negara yang telah maju, ke Amerika, Eropa, dan ke Australia.

Dari tingkat kemajuan dalam bidang kebutuhan hidup, Indonesia kalah jauh dengan negera-negara maju, seperti Belanda, negara maju yang menjajah beberapa abad lamanya. Tentunya, bangsa Indonesia kalah dalam berbagai macam hal. misalkan kebutuhan hidup. Kadang mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda masih mencari bahan-bahan berharga untuk kebutuhan hidupnya di tong-tong sampah atau tumpukan sampah, apalagi pada hari Jumat. Dari sana, ada saja kemungkinan membawa barang bagus yang cocok untuk kebutuhan hidup sehari-hari, padahal bagi masyarakat Belanda barang tersebut tak ada apa-apanya (hlm. 70).

Kehadiran buku ini merupakan upaya bagi kita sebagai bangsa Indonesia untuk belajar maju pada negara yang sudah maju terlebih dahulu, seperti Balanda. Meski Belanda pernah menjajah Indonesia, tak ada salahnya jika kita sebagai bangsa Indonesia meniru hal-hal positif dari Belanda untuk memperbaiki sistem, kebudayaan, pendidikan, dan pola hidup. Ada banyak hal baik dan efisien dari Belanda yang perlu menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia.

Selain identik dengan kincir anging dan keju, Belanda juga lekat dengan kereta angin alias sepeda. Sepeda adalah kendaraan yang merakyat. Saking akrabnya orang Belanda dengan sepeda, jumlah sepeda justru melebihi jumlah penduduk orang Belanda sendiri. Tidak heran, Dutch Daily News berani mengklaim Belanda sebagai ibu kotanya sepeda dunia (hlm. 97).

Hal tersebut bukan tanpa alasan orang Belanda lebih suka menggunakan sepeda daripada kendaraan bermesin. Salah satunya yaitu faktor menggalakkan hidup sehat dan bersikap lebih ramah lingkungan adalah alasan cerdas yang mereka usung. Namun, selain itu ada foktor lain yang mempengaruhi orang Belanda untuk lebih menggunakan sepeda yaikni karena bersepeda itu mudah dan murah. Istilahnya, orang Belanda sangat perhitungan dengan gaya hidup serba mewah yang hanya boros dan menghabiskan banyak biaya padahal keuntungannya sedikit dan bahkan lebih banyak pengeluarannya dariapda pendapatannya.

Selain gaya hidup hemat dan cinta lingkungan dengan bersepeda, kalau ngomong, orang Barat tidak suka berbelit-belit. Mereka berbicara langsung pada pokok persoalan. Beda banget dengan orang kita yang harus “berputar-putar” dulu untuk menyampaikan suatu hal. Orang Barat juga menghargai orang lain berdasarkan kemampuan. Mau jadi bos atau atasan, anak pejabat, atau orang kaya, kalau memang tidak mempunyai kemampuan, tidak akan dianggap (hlm. 231).

Orang Indonesia harus banyak belajar pada negara-negara maju dan berkaca terhadap cermin peradaban bangsa yang telah banyak menggalakkan penelitian dan pencipta teknologi. Persoalan cara bicara saja, bangsa Indonesia tergolong bangsa yang banyak bicara namun isinya hanya sedikit. Begitu pula dengan persoalan antre dan menunggu giliran, di luara negeri sangat begitu diperhatikan. Berbeda dengan di Indonesia, budaya antre masih tak begitu diperhatikan apalagi para pejabata atau orang besar, tentu mendapat ruang terdepan dan layanan lebih awal.

Ada banyak bahan renungan yang disampaikan oleh penulis melalui buku ini. Buku ini memang tampak mengerdilkan watak bangsa Indonesia. Namun, sejatinya sebagai bentuk kritik agar pola hidup bangsa Indonesia lebih maju dan memiliki masa depan yang berjangka lebih panjang. Berbagai kisah yang disajikan ini harus menjadi sebuah tamparan sekaligus imbauan bagi kita semua sebagai bangsa yang masih berkembang agar memiliki pola hidup yang lebih jelas dan dedikasi yang tak sia-sia.

Buku ini merupakan kumpulan beberapa pengalaman yang diracik dengan bahasa yang ringan, enak dibaca, dan mudah dipahami karena bahasanya yang tidak berbelit-belit. Ada beberapa pengalaman di Belanda yang semestinya ditiru atau dijadikan pelajaran bagi penduduk pribumi. Mulai dari persoalan kebutuhan hidup, pelestarian lingkungan, dan pola pikir jangka panjang yang selalu menjadi perhatian pokok yang semestinya juga dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Ada banyak pelajaran dalam buku yang perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia sebagai langkah untuk berbenah dan memperbaiki diri agar lebih maju dan beradab.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku dan Tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Lebih lanjut bisa dibaca di: http://www.rimanews.com/read/20140612/155729/belajar-dari-negeri-belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: