Sehelai Kerudung

Kedaulatan Rakyat: Minggu, 11 November 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. KR_Joko Santoso_Junaidi Khab_Sehelai Kerudung

Beberapa hari sejak kabar itu kudengar, keadaan kampung jadi runyam. Ada warga merasa tak terima karena kerudung yang dipajang di depan rumahnya dibakar oleh anak lelaki yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Adnan memasang kerudung itu sebagai jimat agar rumahnya tak diganggu jin atau setan.

Keadaan kampungku semakin kisruh ketika Adnan mengajak teman-temannya untuk memberi pelajaran pada Arif. Arif menghilang. Hanya teman-temannya yang dijumpai oleh Adnan.

“Saya tak tahu Pak. Kata Arif, berdoa minta pertolongan agar tak diganggu jin atau setan itu hanya Read more of this post

Advertisements

Baju Ayah

Solopos: Minggu, 15 Juli 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Solopos_Junaidi Khab_Baju Ayah

Aku punya tiga saudara perempuan. Mereka sudah berkeluarga. Muna memiliki dua anak. Meri masih baru hamil lima bulan. Sementara Mai masih bertunangan. Mai menunggu tamat sekolah menengah atas untuk menikah. Bukan aku iri pada mereka, tapi aku merasa malu pada tetangga. Bukan pula aku tak bahagia, aku selalu dipenuhi rasa yang selalu menjembarkan. Ada banyak bahan bacaan yang membuat pikiranku tenang dan hatiku tetap nyaman: novel, majalah, dan tabloid.

Tapi, hatiku tersayat bila melihat Muna menimang-nimang anak keduanya dan menyusuinya dengan penuh kebahagiaan. Perasaanku penuh duka-lara saat memergoki Read more of this post

Lipstik

DesaMondial: Minggu, 14 Oktober 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Lipstik (Junaidi Khab)

Suata senja yang tak ingin dilewatkan keindahannya. Matahari pun berangsur-angrsur tenggelam, saat aku berjalan-jalan untuk kencan bersama pacar ke sebuah tempat dipertemukan dengan sebuah keganjilan. Sebenarnya, bukan keganjilan, soalnya itu dialami oleh pacarku sendiri. Tepatnya, sesuatu yang tak biasa. Ya, sama saja itu beda ungkapan, tapi sama-sama sebagai sesuatu yang ganjil bagiku, karena hanya pada waktu itu aku menjumpainya pertama kali.

Aku terperanjat saat hidung hampir menyentuh pipi pada lekuk hidungnya. Aku segera menarik wajah dan menjauh dari wajahnya lalu aku memerhatikannya lekat-lekat. Ada Read more of this post

%d bloggers like this: