Agama, Moral, dan Politik

Kedaulatan Rakyat: Minggu, 11 November 2018

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Islam Santai

Agama – khususnya Islam – merupakan salah satu media untuk menuntun manusia pada jalan kebaikan. Sebagaimana karya Acep ini, Islam Santai, menjadi cerminan cara beragama kita yang – dengan kata lain – sudah tidak santai lagi dan moral mulai terkikis. Apalagi belakangan ini kita seperti disuguhi oleh gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam, tetap mengundang kontroversi dan membuat resah.

Karya ini akan mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali tentang jati diri masyarakat Indonesia yang multikultural dan multiagama agar Read more of this post

Baju Ayah

Solopos: Minggu, 15 Juli 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Solopos_Junaidi Khab_Baju Ayah

Aku punya tiga saudara perempuan. Mereka sudah berkeluarga. Muna memiliki dua anak. Meri masih baru hamil lima bulan. Sementara Mai masih bertunangan. Mai menunggu tamat sekolah menengah atas untuk menikah. Bukan aku iri pada mereka, tapi aku merasa malu pada tetangga. Bukan pula aku tak bahagia, aku selalu dipenuhi rasa yang selalu menjembarkan. Ada banyak bahan bacaan yang membuat pikiranku tenang dan hatiku tetap nyaman: novel, majalah, dan tabloid.

Tapi, hatiku tersayat bila melihat Muna menimang-nimang anak keduanya dan menyusuinya dengan penuh kebahagiaan. Perasaanku penuh duka-lara saat memergoki Read more of this post

Menguatkan Peran Guru Ngaji dan Islam Nusantara

Jaa Zaidun: Jumat, 3 Agustus 2018

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Warisan Islam Nusantara Guru Ngaji Langgar (Tantangan Tradisi dan Dakwah)

Buku ini merupakan karya langka yang mengulas seputar kehidupan guru ngaji langgar dan seperangkat tugas serta tanggungjawabnya bagi masa depan pendidikan anak muda atau generasi bangsa. Bahkan, dengan begitu intens penulis berusaha menempatkan guru ngaji langgar pada tataran utama dari sekian guru setelah kedua orangtua.  Kata “langgar” di sini bermakna surau atau musolla yang biasanya banyak ditemukan di pelosok desa. Memang sudah ada yang mengulas tentang guru ngaji langgar ini, namun tidak sampai begitu luas dan mendalam.

Para guru ngaji langgar bukan hanya layak menyandang julukan “guru tanpa tanda jasa” seperti nyanyian Oemar Bakri tempo dulu yang melegenda itu (hlm. 2). Karena mereka mendidik anak-anak generasi muda bangsa tanpa memungut biaya dan tak pernah diprogramkan dana oleh pihak mana pun, termasuk oleh pemerintah. Berbeda dengan guru-guru setelah guru ngaji langgar, mereka guru-guru yang masih mendapat Read more of this post

%d bloggers like this: