Baju Ayah

Solopos: Minggu, 15 Juli 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Solopos_Junaidi Khab_Baju Ayah

Aku punya tiga saudara perempuan. Mereka sudah berkeluarga. Muna memiliki dua anak. Meri masih baru hamil lima bulan. Sementara Mai masih bertunangan. Mai menunggu tamat sekolah menengah atas untuk menikah. Bukan aku iri pada mereka, tapi aku merasa malu pada tetangga. Bukan pula aku tak bahagia, aku selalu dipenuhi rasa yang selalu menjembarkan. Ada banyak bahan bacaan yang membuat pikiranku tenang dan hatiku tetap nyaman: novel, majalah, dan tabloid.

Tapi, hatiku tersayat bila melihat Muna menimang-nimang anak keduanya dan menyusuinya dengan penuh kebahagiaan. Perasaanku penuh duka-lara saat memergoki Read more of this post

Lipstik

DesaMondial: Minggu, 14 Oktober 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Lipstik (Junaidi Khab)

Suata senja yang tak ingin dilewatkan keindahannya. Matahari pun berangsur-angrsur tenggelam, saat aku berjalan-jalan untuk kencan bersama pacar ke sebuah tempat dipertemukan dengan sebuah keganjilan. Sebenarnya, bukan keganjilan, soalnya itu dialami oleh pacarku sendiri. Tepatnya, sesuatu yang tak biasa. Ya, sama saja itu beda ungkapan, tapi sama-sama sebagai sesuatu yang ganjil bagiku, karena hanya pada waktu itu aku menjumpainya pertama kali.

Aku terperanjat saat hidung hampir menyentuh pipi pada lekuk hidungnya. Aku segera menarik wajah dan menjauh dari wajahnya lalu aku memerhatikannya lekat-lekat. Ada Read more of this post

Mencari Kesembuhan

Bangka Pos: Minggu, 18 Februari 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Bangka Pos_Junaidi Khab_Mencari Kesembuhan

Tak ada yang bisa mengubah garis takdir tangan manusia. Kehendak Tuhan selalu menjadi keputusan akhir. Kaya dan miskin, hidup dan mati, serta sehat dan sakit tak lain hanya usaha manusia. Tuhan yang menentukan kelak. Kenyataan hidup pahit harus dihadapi oleh Sukri. Dia tergeletak lemas di ranjangnya. Beberapa kali hidangan di mejanya diganti, tak satu pun dicicipi. Dia diserang penyakit hebat. Kepalanya selalu pusing. Hingga sekarang tubuhnya tinggal seonggok tulang dan selapis kulit. Kadang dia seperti orang gila yang berbicara sendiri dengan suara lirih. Penyakit itu datang pada saat menjelang malam. Di saat senja hampir lenyap dari bayangannya di ufuk barat.

“Apa Sukri gak pernah dibawa ke Read more of this post

%d bloggers like this: