SURAT NURLAN DAULAY KEPADA JUNJUNGAN JIWANYA

KOMPAS: Ahad, 14 Juni 2015

Oleh Martin Aleida

SURAT NURLAN DAULAY KEPADA JUNJUNGAN JIWANYA Oleh Martin Aleida (Junaidi Khab/ KOMPAS)

SURAT NURLAN DAULAY KEPADA JUNJUNGAN JIWANYA Oleh Martin Aleida (Junaidi Khab/ KOMPAS)

Sesungguhnya aku ingin tak henti-hentinya menulis kepadamu, tetapi kalaupun yang ini menjadi penutup tumpukan surat-surat kita sejak lima puluh tahun lalu, maka ia akan kuterima sebagai takdir. Suka atau tidak, segala sesuatu ada akhirnya. Juga pertalian antara kau dan aku.

Bila kutengok ke belakang, surat-surat kita yang balas-berbalas itu telah melampaui kodratnya sendiri sebagai muara tempat kita melabuhkan perasaan. Dia membebaskan… Ketika aku digelandang keluar kamp, mereka yang berkuasa, berselempang bedil, tidak menjelaskan – dan memang aku tak peduli – mengapa aku dipulangkan. Sementara ratusan kawanku digiring ke penjara, dan sebagian besar dilemparkan, disiksa, mati, di Read more of this post

Advertisements

SEBOTOL HUJAN UNTUK SAPARDI

KOMPAS: Ahad, 7 Juni 2015

Oleh Joko Pinurbo

SEBOTOL HUJAN UNTUK SAPARDI Oleh Joko Pinurbo (Junaidi Khab/ KOMPAS)

SEBOTOL HUJAN UNTUK SAPARDI Oleh Joko Pinurbo (Junaidi Khab/ KOMPAS)

Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: “masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi”. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita.

Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi menurut sahabat dekat saya, kepala saya kurang abnormal untuk mendukung keinginan saya. “Lebih baik jadi Read more of this post

HAKIM SARMIN

KOMPAS: Ahad, 31 Mei 2015

Oleh Agus Noor

HAKIM SARMIN Oleh Agus Noor (Junaidi Khab/ KOMPAS)

HAKIM SARMIN Oleh Agus Noor (Junaidi Khab/ KOMPAS)

Keadilan memang lebih mudah didapatkan di luar pengadilan, batin Hakim Sarmin saat memandang perempuan yang duduk di kursi terdakwa itu. Selama persidangan perempuan itu hanya membisu, seolah yakin bahwa apa pun yang dikatakan tak akan membuatnya mendapatkan Read more of this post

%d bloggers like this: