Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Markesot Bertutur

Gaya Cak Nun mengkritik lingkungan sosial hingga pemerintahan dalam buku ini cukup unik, menarik, dan cerdik. Melalui tokoh fiktifnya, dia berhasil mengolah kata-kata dan bahasa sedemikian pedas. Metodenya yaitu dengan meng-kambing-hitamkan sosok Markesot sebagai ladang kritik-sindiran. Sosok Markesot digambarkan sebagai sosok yang lugu, kadang pula cerdas, aneh, dan penuh dengan misteri dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi, kepekaan solidaritas kemasyarakatannya tidak bisa diragukan lagi. Apalagi jika membicarakan tentang keadilan bagi rakyat jelata, Markesot seakan-akan siap menjadi jibakutai seperti tentara Jepang yang rela mati.

Kritik itu sangat penting untuk membangun negeri ini agar lebih baik. Namun, kadang sebuah kritik dianggap sebagai nilai negatif, sehingga belakangan ini media diramaikan oleh polemik pengesahan undang-undang tentang pasal penghinaan presiden. Jika undang-undang tersebut terealisasikan, maka Markesot akan menjadi salah satu penduduk republik ini yang akan mendekam di balik jeruji penjara. Padahal, sosok Markesot sangat dihargai oleh pemerintah luar negeri karena kritiknya yang tajam terhadap pemerintahan demi membela rakyat.

Baca:

=> Cara Ibu Merawat Anak

=> Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia

=> Menata Kehidupan Rumahtangga

=> Agama, Moral, dan Politik

=> Perjuangan Orang Miskin di Indonesia

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

=> Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA)

=> Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel

Kata Markesot, pak Menteri berkisah tentang ideologi negera. Di negara kapitalis yang kaya, pemerintah selalu menyembunyikan adanya orang miskin. Sementara di negeri sosialis, pemerintah dan pers menyembunyikan adanya orang kaya (hlm. 40). Lain halnya seperti di Indonesia yang katanya menganut sistem demokrasi, tapi presiden tidak mau mendapat kritikan pedas.

Memang, bisa dikata pemerintah hanya menomorsatukan kepentingan kelompok tertentu, apalagi pribadinya. Sifat hewaniyah semacam inilah yang mesti disadari oleh setiap pemimpin agar ketika membuat suatu keputusan benar-benar adil dan bijaksana. Rakyat juga butuh nyaman, tenteram, dan damai. Bukan hanya seorang pemimpin yang ingin dilindungi oleh undang-undang pasal penghinaan.

Penggusuran kampung di nusantara merupakan cermin kebijakan timpang yang harus dibenahi. Markesot juga menuturkan kata Cak Nun, tentang penggusuran atas tanah yang ditempati. Jika masyarakat atau rakyat dirugikan, mereka akan menolak atau melawan dan mereka tidak akan pindah. Tapi, dengan tangan besinya, pemerintah dan para aparat yang sudah mengatasnamakan negara dan kepentingan publik tidak bisa dihalangi.

Pemerintah sebagai wakil rakyat sudah mengalami pergeseran amanat dan tugas. Kemanusiaan yang dimiliki oleh rakyat seakan-akan kembali dirampas. Mereka tidak dimanusiakan lagi. Pada hakikatnya, sebuah perjuangan yang memelihara manusia tetap menjadi manusia, di hadapan proyek-proyek yang mengusir kemanusiaan dari diri manusia. Sehingga jangan heran jika manusia bersifat memberangus sebagaimana hewan liar terhadap pemimpin negeri ini. Meskipun akan diadakan penggusuran, maka masyarakat harus diperlakukan sebagai manusia agar mediasi berjalan dengan baik.

Baca juga:

=> Lipstik

=> Baju Ayah

=> Sehelai Kerudung

=> Motivasi

=> Politasasi Bahasa

=> Cerita Dewasa

=> Meneladani Langkah Kepolisian Medan

=> Puisi-Puisi Junaidi Khab* 1

=> Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi

Seperti yang dituturkan oleh Markesot, bahwa hampir 30 tahun lampau Pesantren Gontor bermaksud memperluas bangunan pondoknya. Namun, Pak Kiai mengerti sepenuhnya bahwa orang-orang kampung itu berhak seratus persen untuk tidak bergeser setapak pun dari tanah dan rumahnya, meskipun perluasan pondok jelas membawa kemaslahatan yang jauh lebih luas (hl. 168).

Pak Kiai menghargai hak yang merupakan amanah Tuhan itu. Maka, yang beliau lakukan adalah pendekatan manusiawi, ditambah doa-doa khusus yang dilakukan bersama-sama para santri – yang memohon kepada Tuhan agar bukan masyarakat yang mau pindah, melainkan agar Tuhan membimbing semua pihak menuju pada keadaan yang terbaik dan diridhai-Nya. Setahun lebih sesudah mobilisasi doa itu, para penduduk dengan sadar memindahkan dirinya sendiri, tentu saja dengan jaminan yang pantas dari pesantren.

Buku ini hadir sebagai jeweran panas bagi pemerintah agar membenahi sistem dan kebijakan serta selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Meskipun ulasannya sedikit berisi tentang isu-isu yang basi, namun pesan-pesan moralnya untuk mengkritik pemerintah masih sangat relevan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Ada banyak kasus yang dibahas oleh Cak Nun melalu sosok Markesot di dalam buku ini, mulai dari persoalan individu, organisasi, pemerintahan, hingga politik dunia internasional. Selamat membaca dan merenunginya!

Judul               : Markesot Bertutur

Penulis             : Emha Ainun Nadjib

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : III/I 2015

Tebal               : 471 halaman

ISBN               : 978-979-433-882-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

2 Responses to Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil

  1. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil — junaidikhab – Meniti langkah

  2. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: