Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Jprut

Gempa dan tsunami pada Minggu 26 Desember 2004 yang terjadi di Aceh Darussalam menjadi bencana terbesar di Indonesia. Dengan serentak, media memberitakan peristiwa yang memakan ratusan ribu orang meninggal dunia tersebut. Berbagai uluran tangan pun datang beruntun meski sebagian memang dimanfaatkan oleh oknum yang memiliki kepentingan tertentu.

Melalui tokoh lakonnya, dalam novel Jprut ini, Putu Wijaya menghadirkan sosok Amat sebagai penarik benang merah atas segala keserakahan manusia. Dimana manusia kadang menjadi pribadi oportunis di tengah-tengah bencana yang sedang melanda sesamanya di lain daerah, atau bahkan di daerahnya sendiri (hlm. 32). Sosok Amat yang berbicara ceplas-ceplos bersama keluarganya akan memberikan gambaran masyarakat kita yang kadang asal comot dan menyebar berita-berita yang sebenarnya tak layak serta menimbulkan fitnah.

Seperti pada peristwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh. Ada banyak media yang menyebar berita. Bahkan, media-media di internet pun menjamur dalam memberitakan peristiwa tersebut. Di samping itu, berita-berita bohong diselipkan demi kepentingan kelompok tertentu. Bencana yang melanda Aceh merupakan puncak gunung es dari bencana yang dijadikan sebagai media untuk mengeruk keuntungan oleh kelompok tertentu.

Baca:

=> Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu

=> Konstruksi Sosial Kaum Perempuan

=> Cara Ibu Merawat Anak

=> Lipstik

=> Baju Ayah

=> Politasasi Bahasa

=> Cerita Dewasa

Para politisi dan ekononom pun ikut andil di dalamnya dengan berkoar-koar agar masyarakat saling bahu-membahu untuk membantu saudara kita di Aceh. Padahal, di balik itu, para politisi hanya hadir sebagai manusia yang mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain. Hal itu menjadi sesuatu yang lumrah di Indonesia. Dengan kekesalannya, Putu Wijaya menggunakan tutur tokoh Amat sebagai pisau kritik atas para politisi, ekonomi, dan media-media oportunis yang memanfaatkan bencana yang menimpa masyarakat sebagai ladang keuntungan.

Seperti yang dikatakan oleh Azwar (2016:80) bahwa cerita yang mengisahkan bagaimana permulaan penjajahan mengingatkan pada semua orang bahwa watak penjajah itu tidak akan hilang di hati manusia yang tamak, walaupun sudah ditolong oleh masyarakat. Sementara orang miskin yang melarat meninggalkan desanya untuk mendapat kehidupan yang layak dan baik walau dengan cara merampas hak-hak orang lain.

Melihat fenomena demikian, sosok Amat yang ditokohkan oleh Putu Wijaya, melakukan demonstrasi dalam keluarganya, agar Ami – anaknya – tidak mencari penghidupan di tengah-tengah bencana yang sedang melanda sebangsa dan setanah air.

Sastra dan Pluralitas

Disadari atau tidak, kita sering menjumpai bagaimana intrik politik dan ekonomi justru mengiringi proses produksi karya sastra. Lihatlah, bagaimana penulis-penulis (sastrawan) berkarya dengan intimedasi kepentingan ekonomi bahwa karya tulis mereka harus laku, bukan harus bermanfaat untuk masyarakat (Azwar, 2016:50).

Eksistensi sastra memiliki peran cukup penting dalam mengubah persepsi kehidupan masyarakat. Tokoh Amat yang menjadi lakon dalam novel Jprut setidaknya bisa menjadi cermin masyarakat kita ketika bangsa setanah air dilanda bencana. Entah maksud kehadiran novel ini sebagai bagian dari intrik politik atau ekonomi. Hal itu ada dalam niat sang penulis.

Baca juga:

=> Meneladani Langkah Kepolisian Medan

=> Agama, Moral, dan Politik

=> Perjuangan Orang Miskin di Indonesia

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

=> Sayang 2

=> Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA)

=> Alasan Mata Minus dan Cara Mencegahnya

=> Puisi-Puisi Junaidi Khab* 1

Sementara itu, Putu Wijaya menghadirkan tokoh dari masyarakat Bali yang notabene beragama Hindu untuk menghadapi multikulturalisme dan pluralitas di Indoensia yang mayoritas beragama Islam. Hal itu senada dengan yang dikatakan oleh Yusri Fajar (2017:91-92) bahwa masyarakat multikultural dengan pluralitas identitas dan etnisitas yang dinamis banyak direpresentasikan dalam karya sastra. Narasi ketegangan dan kedamaian diartikan oleh para sastrawan sebagai hasil pengamatan terhadap konstelasi dan dinamika manusia yang dipenuhi perpecahan di satu sisi, dan kebersamaan serta kerukunan di sisi lainnya.

Misalkan konflik berlatar perbedaan etnik, agama, dan aliran kepercayaan, stratifikasi sosial serta kepentingan ekonomi yang menginspirasi dan menjadi pilihan tematik beberapa sastrawan menunjukkan kritik para sastrawan terhadap ketidakmampuan menerima perbedaan. Sementara, kerukunan di tengah perbedaan dikisahkan oleh sastrawan untuk merepresentasikan harmoni sebagai dampak toleransi dan negosiasi antarbudaya yang bisa dengan baik dilakukan. Pada konteks ini, karya-karya sastra menjadi medium untuk menyuarakan dan mengingatkan kebhinnekaan, menyemaikan arit toleransi, dan menjadi jembatan yang menghubungkan pemikiran serta sikap kritis sastrawan terhadap publik.

Kisah-kisah yang dihidangkan oleh Putu Wijaya dalam novel Jprut merupakan sebuah bentuk kritik bagi masyarakat kita yang kadang menjadi pribadi oportunis atas saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kemalangan. Bahkan melalui tokoh Amat, Putu Wijaya berusaha meretas dan memutus sekat-sekat perbedaan demi membantu dan menolong sesama yang dilanda bencana.

Judul               : JPRUT

Penulis             : Putu Wijaya

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : I, 2017

Tebal               : 182 hlm.; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-6651-24-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

Advertisements

9 Responses to Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia

  1. Pingback: Menata Kehidupan Rumahtangga | junaidikhab

  2. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  3. Pingback: Organisasi dan Tujuan Pergerakan Pemuda | junaidikhab

  4. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  5. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  6. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  7. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  8. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  9. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: