Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Merenda Kasih

Kehadiran buku yang berjudul “Merenda Kasih; Karya-Karya Penyair 4 Negara” ini akan menjadi pukulan telak bagi kita semua agar tetap memberikan ruang bagi para penyair. Bukan hanya ruang bagi para penyair, tapi bagi mereka yang berkarya, berseni, berlakon, dan berperan bagi nusa dan bangsa meski dengan dimensi yang berbeda. Mereka memiliki skill dan daya kreasi yang tentunya berbeda-beda. Namun, karena dimensinya yang berbeda-beda, kadang mereka masuk pada ruang diskriminatif yang berlebihan dan bahkan mereka harus terkucilkan.

Buku ini menghadirkan karya dua puluh satu penyair dari empat negara tersebut. Di antaranya 12 penyair dari Indonesia, 6 dari Singapura, 2 dari Malaysia, dan 1 penyair dari Brunei. Penggunaan gaya bahasa yang dipengaruhi oleh lingkungan budaya masing-masing turut menambah keasrian dalam penyampaian isi dan melodi hati para penyair lintas negara bertetangga (hlm. 8). Eksotisme lintas budaya dan tradisi akan kita temukan dengan mudah untuk dipahami dari sajak-sajak penyair empat negara di bawah naungan penghulu Melayu ini.

Baca:

=> Merendahkan Martabat Bahasa

=> Merayakan Kelahiran Nabi Muhammad Saw

=> Sastra, MEA, dan Penyatuan Masyarakat Melayu

=> Politasasi Bahasa

=> Cerita Dewasa

=> Meneladani Langkah Kepolisian Medan

Salah satunya yaitu penyair A’yat Khalili dari Sumenep, Madura (hlm. 11). A’yat Khalili melalui serbuk kata-kata dan ejaan nektar huruf yang manis berhasil menjadi tunas dari wewangian yang pernah tercium dari serbuk sari leluhurnya – D Zawawi Imron. Ia mulai mengepakkan sayapnya menatap kumbang-kumbang kehidupan dan kupu-kupu waktu yang terus berjalan melewati lembah kata-kata hingga menjadi penyair internasional.

A’yat Khalili tergabung dengan beberapa penyair yang juga berasal dari Indonesia mampu memberikan sumbangsih bagi masyarakat Internasional. Tema yang diusung pun patut kita acungi jempol. Di antara tema yang sangat unik dan menarik dari karya ini yaitu; pertama, sebagai wujud persaudaraan antar sesama masyarakat Melayu. Kedua, tema-tema karya yang diusung merupakan tema kemelayuan dari sudut pandang kelokalan di tiap-tiap negara. Ketiga, historisitas suku Melayu dari hulu hingga ke hilir dan akar-akarnya.

Melalui sajak-sajak yang terukir dari para penyair lintas negara ini, kita akan mengenal hakikat diri kita sebagai satu bangsa yang harus berbudi luhur dan tetap hidup rukun. Jangan menjadi bangsa yang harus mengikuti opini publik hingga terperosok pada jurang stereotip negatif. Seperti yang terungkap dalam sajak Chong Ah Fok – Laut Nusantara, Brunei (hlm. 19). Karya-karya yang terhimpun umpama air laut yang menyatukan kita dengan berbagai budaya. Namun, tetap bersatu “demi kelangsungan kehidupan/ Serantau dan antarbangsa”.

Laut Sebagai Cermin Melayu

Secara eksplisit, karya ini merupakan representasi dari keragaman para penyair dan karyanya yang bersifat global, namun masih dalam satu lingkup Melayu. Lantunan syairnya mewakili sebagian keindahan hidup lintas wilayah dan negara. Hal inilah yang cukup memikat dan memukau hati setiap jiwa yang menghayatinya. Dilihat dari aspek kesusasteraan, di dalam karya ini ada sebuah cermin persaudaraan meski dalam lingkup budaya, tradisi, dan pandangan yang berbeda secara global.

Hal tersebut tercermin dalam syair Faridah Taib, Singapura. Ia menggambarkan masyarakat lintas negara sesama melayu ibarat ombak (hlm. 36). Meskipun ombak bisa menerjang karang dan siapa pun di hadapannya. Tapi, ombak di pantai dan lautan memiliki keindahan tersendiri dan selalu ingin dinikmati oleh setiap insan. lihat ombak bergulung/ membawa getaran rasa/ singgah sejukkan jiwa/ nyanyian arus ombak/ redakan duka sebak/ melodi gelora samudera/ irama menyenangkan sukma.

Baca juga:

=> Lipstik

=> Baju Ayah

=> Sehelai Kerudung

=> Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA)

=> Sayang 2

=> Perjuangan Orang Miskin di Indonesia

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

Gambaran atau cermin masyarakat Melayu cukup dengan representasi lautannya yang luas sebagai penyatu global. Faridah Taib tak berbeda dengan cara penggambaran Chong Ah Fok yang menggunakan laut sebagai media penyalur rasa. Sesama suku Melayu kadang memang saling kecam, namun pada hakikatnya mereka ingin bersua dan hidup saling berbagi tentang pengalaman hidupnya masing-masing. Inilah hakikat hidup yang kita pilih di daratan nenek moyang Melayu.

Di dalam buku ini kita akan menemukan sebuah kecenderungan dan rasa rindu yang ditepis oleh pernak-pernik kehidupan masyarakat Melayu. Hingga menjadi sebuah lantunan syair yang indah nan menawan untuk kita baca. Melalui karya ini pula kita akan mengenal hakikat masyarakat Melayu sebagai nenek moyang bangsa Indonesia pada mulanya. Mari, kita jaga persaudaraan antar sesama masyarakat Melayu melalui media sastra, terlebih khusus menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah mekar di tanah Asia!

Judul               : Merenda Kasih Karya-Karya Penyair 4 Negara

Penyusun         : Rohani Din

Penerbit           : KKK

Cetakan           : I, Januari 2016

Tebal               : 148 hlm; 13,5 x 20,5 cm

ISBN               : 978-602-8966-76-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, lulusan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

4 Responses to Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu

  1. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

  2. Pingback: Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia | junaidikhab

  3. Pingback: Menata Kehidupan Rumahtangga | junaidikhab

  4. Pingback: Organisasi dan Tujuan Pergerakan Pemuda | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: