Tauhid Kemanusiaan

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Tauhid Kemanusiaan

Secara umum ajaran Agama Islam terdiri dari tiga hal pokok: akidah, syariah dan akhlak. Tiga hal tersebut saling terkait antara satu dengan lainnya. Kesempurnaan keberagamaan terwujud saat tiga hal tersebut dapat dipahami dan diwujudkan secara benar dan tepat. Secara praktis, akidah biasanya dirumuskan dalam rukun iman yang enam. Sementara itu, syariah dirumuskan secara praktis dalam bingkai lima rukun Islam. Pemahaman yang benar dan tepat tentang iman kepada Allah, pada saatnya juga mesti diikuti dengan hal serupa terkait dengan iman kepada para rasul Allah, kitab-kitab Allah, malaikat, hari akhir dan qadha serta qadar. Selanjutnya diikuti dengan entry point bersyariah yaitu syahadat yang benar dan tepat, dan dilanjutkan dengan shalat, zakat, puasa dan haji. Dan berikutnya mewujud dalam akhlak mulia. Hal ini merupakan salah satu pengejawantahan tauhidullah dalam ranah kehidupan manusia seutuhnya, yaitu bersatunya pemahaman dan perwujudan ajaran agama dalam satu bingkai tauhid, menyatunya aspek-aspek keimanan, kesyariahan dan akhlak dalam kehidupan.

Buku yang berjudul Tauhid Kemanusiaan ini mencoba untuk menjelaskan secara gamblang dan dengan bahasa yang sederhana dan lugas tentang berbagai topik akidah, ibadah dan juga akhlak dalam perspektif seorang sunni tradisionalis tulen. Di samping itu juga mengidentifikasi diri sebagai salah satu jawaban atas berbagai kritik terhadap teologi sunni kaum tradisonalis yang dianggap sangat teosentris dan tidak membumi, sehingga mengakibatkan ketidakberdayaan umat Islam. Di sisi lain juga mendudukkan persoalan pada porsinya, di mana banyak kekeliruan yang muncul dari pemahaman yang salah (خطأ الفھم) atau pemahaman yang buruk (سوء الفھم) terhadap ajaran agama Islam.

Baca:

: Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan

: Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia

: Membincang Olahraga dan Dunia Kepenulisan

: Agama, Moral, dan Politik

: Perjuangan Orang Miskin di Indonesia

: Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

Warna sunni sudah muncul jelas dalam paragraf pertama buku ini, “Beriman diartikan sebagai hati yang percaya bahwa Tuhan itu ada dan pikiran juga tahu bahwa Tuhan itu ada”. Ada porsi tertentu untuk akal pikiran dalam perihal keimanan. Porsi peran akal pikiran dalam merumuskan keimanan ini dalam khazanah sunni kadang-kadang menimbulkan kegamangan di lapangan. Banyak pertanyaan-pertanyaan teologis yang tidak tuntas terjawab. Misalkan pertanyaan: “Allah ada di mana?” Di satu sisi ada keyakinan yang ditanamkan bahwa Allah tidak terbatasi oleh ruang dan waktu seperti makhluknya. Di lain sisi, nalar awam meniscayakan bahwa yang ada mesti harus ada di ruang dan waktu tertentu. Begitu pun persoalan-persoalan teologis lainnya, seperti takdir, keadilan, dan lainnya.

Tauhid Kemanusiaan meniscayakan bahwa kesempurnaan keberagamaan seseorang memiliki dua sisi:

Pertama, menjadi hamba Allah yang paripurna. Kehambaan kita kepada Allah menuntut adanya keimanan yang total, tauhid yang benar, ketulusan dalam menghamba, dan kerendah hati yang sesungguhnya. Itu semua digambarkan dengan apik oleh Kyai Masrur, penulis buku ini, dengan pemaknaan yang dalam terhadap beberapa istilah, seperti: tasbih yang harus muncul dari hati dan kepala yang sadar tentang keterbatasannya, tahmid yang di-ngelmoni mendasarkan kepada kesadaran penuh, takbir yang merupakan ungkapan mendalam dari kekaguman kita kepada Allah, zikir yang menggambarkan sowan kepada Maharaja, dan juga istighfar yang merupakan penyesalan intelektual yang mendalam.

Kedua, menjadi manusia yang baik. Manusia baik adalah yang baik di secara lahiriah untuk sesama manusia dan juga dalam konteks ketuhanan. Kebaikan ini dalam ajaran Islam dikemas dalam al-akhlaq al-karimah, yang merupakan salah satu misi utama pengutusan Nabi Muhammad saw. Beberapa sifat buruk yang harus dihindari dan biasanya menjadi pangkal permasalahan kehidupan di antaranya, yaitu: sombong, kikir, cinta dunia, dan pendendam. Seseorang yang mampu menekan kesombongannya dan menempatkan diri selalu lebih rendah atau paling tidak sama dengan orang lain terbukti menjadi kunci sukses kehidupan yang harmonis. Begitu pun sifat-sifat buruk lainnya.

Saat sekarang banyak cerdik cendekia yang berilmu tinggi tapi karena sifat sombong ada di hatinya, yang terjadi kemudian hilanglah rasa hormat, hilang pula sikap saling menghargai. Akidah ahlussunnah mengajarkan kepada manusia untuk memposisikan dirinya secara proporsional. Keterbatasan dan ketidakberdayaan manusia di mata Tuhan-nya mestinya mengejawantah dalam kehidupan menjadi kesadaran penuh, bahwa manusia adalah makhluk penuh kekurangan, tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Hal ini penting dibaca oleh anak-anak muda, ustad-ustad muda agar menumbuhkan sikap ta’dzim kepada yang lebih tua, dan mengedepankan akhlak mulia.

Baca juga:

: Lipstik

: Baju Ayah

: Sehelai Kerudung

: Cerita Dewasa

: Politasasi Bahasa

: Motivasi

: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA)

Buku ini dirangkai dengan bahasa yang mengalir dan dibumbui kisah-kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang penulis yakini itu merupakan pengalaman hidup sang penulis dan juga hasil perenungan sekian lama. Berbagai persoalan teologis yang ruwet dapat ditemukan jawabannya di sini. Misalnya persoalan takdir Tuhan, dibahas dengan gamblang positioning seorang manusia kapan dia dependen, pasrah kepada Tuhan, dan kapan dia harus independen atau berupaya maksimal. Jalan tengah model Asy’ariyah tidak jarang menimbulkan blunder. Dengan penekanan-penekanan yang apik tentang tawakkal yang aktif, bukan pasif, dan juga memposisikan zuhud atau tidak berlebih-lebihan sebagai kompas dan pedoman urusan duniawi, Kiai Masrur mengajari kita menjadi orang sunni yang dapat menjawab tantangan zaman. Dalam konteks shalat istikharah misalnya, shalat tersebut dilakukan saat akal pikiran kita sudah tidak lagi mampu menimbang-nimbang pilihan.

Konsep iman kepada para rasul menjadi bagian penutup buku ini. Mulai dari Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, sampai Musa, Isa dan Muhammad. Iman kepada para rasul adalah meyakini sepenuhnya bahwa mereka adalah utusan Allah untuk umat manusia di bumi ini, dan dapat mengambil pelajaran yang tepat dan proporsional dari mereka. Misalnya belajar dari Nabi Adam sebagai sosok rasulullah yang berwawasan sangat luas, di mana dia dianugerahi oleh Allah pengetahuan yang luar biasa. Nabi Ibrahim sebagai Bapak para Nabi yang telah berhasil membina keluarga yang sangat berkualitas dan Nabi Nuh yang dengan getol berjuang untuk keselamatan dan kebahagiaan umatnya. Begitu pun nabi-nabi yang lain.

Untuk kalangan akademisi, buku ini dapat menjadi contoh yang bagus dari sebuah proses kontekstualisasi teori-teori keilmuan dalam ranah kehidupan sosial. Dan untuk kalangan awam, buku ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam memahami ajaran agama Islam yang utuh, sejuk, ngayomi, dan mengedepankan akhlak mulia. Selamat membaca. Wallahul Muwaffiq ila Aqwam Ath-Thariq.

Ulasan ini diambil dari pengantar di dalamnya oleh SUPRIYANTO, Dr, Lc, M.S.I Dosen Filsafat dan Teologi Islam IAIN Purwokerto.

Advertisements

3 Responses to Tauhid Kemanusiaan

  1. Pingback: Harga Buku | junaidikhab

  2. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  3. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: