Membincang Olahraga dan Dunia Kepenulisan

Dok. Pribadi Junaidi Khab_What I Talk About When I Talk About Running

Buku ini merupakan sebuah catatan perjalanan atau memoar tentang seorang pelari marathon yang menjadi novelis – penulis novel terkemuka di Jepang. Sebagian orang mengatakan bahwa menulis itu mudah. Tapi, sebagian yang lain mengatakan menulis itu tidak semudah yang dipikirkan atau dikatakan oleh kebanyakan orang. Mungkin itu sangat tepat dirasakan oleh Haruki Murakami. Seorang penulis novel berkebangsaan Jepang. Ia lahir di Kyoto pada 12 Januari 1949, Jepang.

Seperti bisa dibaca pada bagian identitas di akhir buku ini, Haruki pada mulanya tidak memiliki keinginan untuk menjadi penulis. Ia lebih tertarik pada musik, terutama jazz, sehingga pernah menjalani kelab jazz. Namun, pada usia 29 tahun, niatan untuk menjadi penulis muncul secara tiba-tiba. Sehingga ia nekat memutuskan untuk menutup kelabnya agar bisa mendedikasikan seluruh waktunya untuk menulis. Itu pilihan hidupnya. Bukan dipaksakan oleh orang lain atau karena melihat orang lain lihai dalam menulis dan mengolah kata-kata hingga sukses.

Baca: Usaha Mengubah Nasib Kita Sendiri

Sebelumnya – sebelum Haruk memutuskan untuk menjadi penulis – ia adalah seorang pelari. Hingga mengikuti lomba berbagai lari marathon. Dalam satu minggu, ia bisa menempuh jarak 60 km. Dengan kata lain, setiap hari Haruki berlari 10 km dengan mengurangi jatah satu hari sebagai hari libur atau di saat ada halangan lainnya (hlm. 8-9). Selain itu, ia telah berhasil menulis beberapa novel pada tahun 1973, di antaranya Nen no Pinboru dan Kaze no Uta o Kike serta menerjmahkan cerpen karya F. Scott Fitzgerald. Baginya, secara fisik, setiap hari sangat berat, menulis novel sekaligus dengan kegiatan lainnya, buka kelab dan berlari (hlm. 36).

Baca juga: Ramadan sebagai Momentum Mengendalikan Nafsu

Sebuah inisiatif yang benar-benar patut kita acungi jempol dan menjadi sebuah teladan dalam membangun semangat hidup. Sebuah pekerjaan atau profesi apa pun harus berangkat dengan perjuangan kuat dari diri kita. Diri kita, bukan orang lain. Kesungguh-sungguhan akan menjadikan seperti yang kita inginkan. Begitu Haruki menjalani hidupnya mulai membuka usaha kelab jazz, berlari, dan hingga menulis novel dengan cukup serius.

Pada saat Haruki memilih jalan menjadi seorang penulis profesional, ia juga menghadapi suatu persoalan, yaitu untuk tetap menjaga tubuhnya agar bugar. Maka, olahraga – berlari secara rutin – pun menjadi hal yang harus dipenuhi. Untuk menjalani kehidupan yang panjang sebagai penulis, ia mewajibkan dirinya untuk memertahankan kebugaran tubuh dan menjaga badan agar ideal. Ia pun memilih olahraga lari (hlm. 40).

Baca lainnya: Politasasi Bahasa

Memang tidak mudah menjadi seorang penulis seperti yang dialami oleh Haruki. Ia menyamakan bahwa dunia menulis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kegiatan lainnya. Ia mengumpakan jika ingin menang – atau setidaknya – sampai finis pada sebuah lari marathon, maka latihan intens harus terus dilakukan dan ditingkatkan. Begitu pula dalam dunia tulis-menulis, sebuah ketekunan sangat diperlukan selain juga harus menjaga stamina dan kebugaran fisik. Karena menulis novel juga membutuhkan perjuangan dan jiwa yang kuat untuk menyelesaikannya.

Meraka yang terengah-engah pada saat berlari, sudah tentu mereka pelari pemula. Sementara mereka yang berlari dengan nafas pelan dan teratur sudah tentu adalah veteran (hlm. 96). Begitu pula dalam dunia tulis-menulis. Bahkan, Haruki mengatakan bahwa menulis (novel) merupakan tipe pekerjaan yang kurang sehat (hlm. 108). Sehingga tak heran bila Haruki mengolaborasikan antara berlari sebagai olahraga rutin untuk tetap menjaga kebugaran tubuhnya agar tetap giat menulis.

Baca juga: Sehelai Kerudung

Haruki berlari – olahraga – bukan karena seseorang menyuruhnya untuk menjadi seorang pelari. Seperti di saat ia menulis novel, tidak ada orang yang menyuruhnya untuk menjadi seorang novelis (hlm. 185). Sebuah tekad dan inisiatif harus dibangun dari dalam diri kita. Jika ingin menjadi seorang penulis (novel) maka jangan tanggung-tanggung. Begitu pula jika ingin memiliki tempat profesional dalam berbagai bidang profesi harus independen, bukan karena pengaruh orang lain. Karena hal itu tidak akan bertahan lama. Begitu yang dikatakan oleh Haruki Murakami.

Buku ini merupakan sebuah memoar sekaligus simposium dalam menekuni dunia olahraga dan profesi sebagai seorang penulis (novel). Berkaca pada simposium yang dikemukakan oleh Haruki melalui buku ini, kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa setiap akan melakukan suatu pekerjaan harus berangkat dari jiwa dan inisiatif diri kita sendiri, bukan karena dipaksa atau hanya ikut-ikutan tren di lingkungan sekitar. Begitu Haruki menjalani dua profesi – menjadi seorang pelari (marathon) sekaligus penulis (novel) kawakan di tingkat internasional.

Judul               : What I Talk About When I Talk About Running

Penulis             : Haruki Murakami

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : II, 2016

Tebal               : vi + 198 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-086-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

3 Responses to Membincang Olahraga dan Dunia Kepenulisan

  1. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  2. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  3. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: