Motivasi

Sumber gambar: di sini.

Sejak aku berada di Jogja, ada beberapa harapan untuk alumni-alumni yang baru lulus sekolah dari Al-in’am itu sebagian melanjutkan pendidikan, kuliah ke Jogja. Atau setidaknya, adik-adik kelas fresh graduate melanjutkan ke sekolah-sekolah atau pesantren yang memiliki keragaman yang lebih luas. Soalnya berbeda, antara mereka yang tak sekolah (belajar, kuliah) dengan yang bersekolah. Tapi, kenyataan ini masih tampak kurang disadari. Bersekolah cukup sampai habis sekolah menengah atas (SMA) saja, asal ilmunya diamalkan. Racun semacam ini yang aku ragukan atas teman-teman adik kelas di sekolahku.

Seiring waktu bergulir, adik-adik kelas yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau pesantren (belajar) hanya bisa dihitung oleh jari. Sedikit jumlahnya. Dulu, aku sempat berpikir, seandainya di sekolah tempatku dulu belajar ada sosok yang secara intens memberikan motivasi betapa penting arti melanjutkan pendidikan, aku yakin, alumni sekolahku pasti banyak yang terbakar semangatnya untuk terus belajar, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca:

=> Politasasi Bahasa

=> Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia

=> Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan

=> Menabung dengan Cara Bersedekah

Satu hal yang menjadi persoalan, itu lumrah saja, ekonomi. Ketika orangtua bilang tidak mampu secara ekonomi, maka pupus lah semangat anak-anak yang mau melanjutkan pendidikan (belajar) ke jenjang berikutnya. Nah, di sini, motivator di sekolah kupikir sangat penting. Bukan hanya memotivasi teman-teman adik kelas yang hampir mekar-keluar dari sekolah SMA, tapi orangtua mereka juga diajak urun-rembuk agar terus semangat: misalkan yang beralasan ekonomi lemah, dengan anak bersekolah setidaknya semangat bekerja semakin membara. Kalau sudah bilang, kami tak mampu ekonomi, lalu tetap leyeh-leyeh tak semangat, ya tetap lemah.

Memang sulit kalau hanya memotivasi tanpa memberikan dukungan secara riil. Bisa dikata sebagai kakean cocot, banyak omong. Itu memang tantangannya. Tapi, setiadaknya para motivator memberi gagasan (jalan) bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi para orang-tua (masyarakat) di lingkungan kampung sekolah, atau secara khusus para oratua peserta anak didik, ya itu para orangtua adik-adik kelas.

Dulu, ketika aku masih bersekolah, ada guru konselor yang berperan menjadi tempat mencurahkan segala keresahan para siswa, Husen Muhammad, tapi sepertinya tak berjalan maksimal, karena tak berselang lama dia diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ketika ada kesempatan bertemu dengan sebagian guru, aku menyempatkan bertanya tentang adik-adik kelas yang kiranya berpotensi untuk melanjutkan pendidikan, aku hanya mendapatkan jawaban yang kurang jelas.

Baca juga:

=> Menikmati Kopi Basabasi

=> Mengenal Rasa dan Aroma Kopi Bajawa dari Flores

=> Sayang 2

=> Cerita Dewasa

=> Meneladani Langkah Kepolisian Medan

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

Menurutku sih, di sekolah harus ada sosok konselor, tepatnya sosok yang berperan mau menerima keluh-kesah para siswa dan membangun kedekatan dengan para orangtua untuk memberikan motivasi. Sebenarnya, ada banyak tuntutan dan tantangan bagi seorang konselor yang sekaligus motivator, ya seperti kita tahu, keadaan ekonomi di daerahku meman tak menentu. Untuk mengurus suatu tugas atau peran di sekolah tak bisa konsisten, pasti terabaikan, ya lagi-lagi ekonomi menghimpit kehidupan. Aku pun sebenarnya seperti itu. Mungkin sebagian akan berkata, memang mudah berbicara, mbacot, coba jalani sendiri.

Kalau sudah dilawan oleh perkataan semacam itu, mungkin aku hanya bisa diam. Karena aku belum benar-benar berbaur dengan kenyataan di kampung halaman sendiri. Tapi setidaknya, motivasi itu sangat penting dan perlu disadari. Ya, ini hanya sekadar mbacot, yang gak mbois blas. Tapi, sekiranya sudi lah di antara kita untuk saling berbagi, saling menasihati dan mengingatkan, dalam hal apa? Dalam hal kebaikan dan kesebaran.

DIY, 8 Desember 2018

Junaidi Khab

Junaidi Khab, alumni Al-in’am angkatan tahun 2010. Sekarang terguling-guling dengan buku di Jogja.

Tulisan ini tayang di IKAAY pada Sabtu, 8 Desember 2018.

9 Responses to Motivasi

  1. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

  2. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  3. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  4. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  5. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  6. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  7. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  8. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  9. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: