Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Sunan Ngeloco

Dengan cara nyastra-nyentrik, Edi AH Iyubenu mencoba meretas kemunafikan dan kefasikan manusia dengan menyuguhkan kisah-kisah perjalanan seorang tokoh labil dalam novel Sunan Ngeloco. Ngeloco yang disadur dari bahasa Jawa memiliki persamaan arti dengan onani atau masturbasi yang dijadikan pisau bedah untuk menyayat kesadaran pembaca.

Secara umum, masyarakat bagai dililit rasa harus sadar dan merasa dikekang oleh dirinya sendiri akibat ngeloco. Disadari atau tidak, ngeloco merupakan sifat yang sangat rahasia, juga dipandang hina. Tetapi tidak dalam novel ini. Ngeloco sudah menjadi semacam ritual yang mampu menyentak kesadaran manusia tentang eksistensi dalam kehidupannya.

Baca: Menabung dengan Cara Bersedekah

Tokoh yang digadang-gadang menjadi Sunan Ngeloco yaitu sosok pribadi yang keranjingan ngeloco. Trijoko namanya. Nama itu merupakan julukan bagi Gunawan (hlm. 25). Kisahnya untuk mendapat julukan itu tidak hanya lahir begitu saja. Semacam perjuangan meraih sebuah impian seperti yang diperoleh Muhammad Ali, alias Gempil sahabat karibnya sejak kecil: ngeloco yang berkah dan terberkati, katanya.

Tentang Kehinaan

Sejatinya, melalui tokoh-tokoh fiktifnya yang setengah riil, Edi ingin menyatakan bahwa manusia lebih memilih sombong daripada dipandang hina. Padahal, sombong itu sendiri perbuatan hina yang lebih tercela dibanding ngeloco. Sementara diri kita akibat dikekang oleh ego yang tinggi, kadang sangat sulit untuk memukul diri sendiri (khususnya jiwa) agar tersadar dari segala perbuatan tercela dan bahkan lebih bejat dari segala kebejatan.

Baca juga:

=> Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan

=> Jeritan Puisi dari Balik Jeruji

=> Politasasi Bahasa

=> Sehelai Kerudung

=> Baju Ayah

=> Merekatkan Jalinan Ayah dan Anak

Kehadiran sosok Trijoko bukan semata sebagai tokoh fiktif belaka, tetapi Trijoko sebagai wakil realita hidup yang dihadapi oleh manusia secara umum. Seperti halnya tokoh Pak Prawiro Oetomo yang kehidupan sehari-harinya tampak suci, padahal di lain waktu, dia juga masuk ke dunia perlendiran yang diketahui oleh Trijoko (hlm. 106). Pada saat itu, dengan kekuatan uang, Pak Prawiro menutup mulut Trijoko agar tidak membongkar rahasianya di pakenthon.

Sentuhan-sentuhan moral kesusasteraan yang digambarkan oleh Trijoko bersama kawan-kawan dan tokoh lainnya dalam novel ini bisa menjadi kaca bening realita kehidupan. Sastra bukan semata dipandang sebagai hiburan, lebih dari itu, sastra bisa menjadi batu kritik yang sangat halus tapi sangat menusuk. Memahami realita hidup manusia memang sangat sulit ketika secara lahiriah tampak suci. Tetapi, kenyataan melakukan hal-hal senonoh tak dapat dimungkiri. Hal itu sudah tentu bisa terjadi. Siang menjadi kiai dan malam menjelma bajingan kere. Di depan publik menampakkan kemuliaan, saat sendiri melakukan kehinaan.

Buku ini merupakan serangkaian kisah yang kejam dan tampak tabu, tetapi pesan-pesan moral dalam menyibak realita hidup manusia sangat mengiris kesadaran. Segala umpatan yang disajikan dan sifat bodoh para tokohnya yang penuh dosa seakan kita membaca diri kita sendiri. Mengumpat atau misuh bukan lagi sebagai cercaan, tetapi lebih dekat pada persahabatan dan keakraban. Dari sana, kita akan menemukan makna kelenturan jiwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena tak ada manusia yang murni sempurna atas kesucian, yang kadang ditampakkan dalam realita kehidupan. Selamat membaca dan mengumpat kebejatan jiwa kita yang munafik dan fasik!

Judul               : Sunan Ngeloco

Penulis             : Edi AH Iyubenu

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : 176 hlm.; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-6651-58-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

Advertisements

4 Responses to Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia

  1. Pingback: Motivasi | junaidikhab

  2. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

  3. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  4. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: