Jeritan Puisi dari Balik Jeruji

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Suara-Suara dari Wirogunan

Sebuah tulisan – puisi – menjadi simbol yang merepresentasikan keadaan alam, sosial, dan jiwa segala hal. Dengan tulisan-tulisan seseorang bisa mengutarakan apa yang dirasakan. Salam dunia literasi, puisi memiliki peranan yang sangat besar dalam menerjemahkan perasaan seseorang. Baik itu sebuah perasaan kagum, bahagia, duka, sakit, tersakiti, sesal, dan berbagai rasa lainnya bisa diungkapkan melalui puisi. Bahkan, Kahlil Gibran dalam memperjuangkan bangsanya menggunakan bait-bait puisi sebagai senjata.

Kehadiran antologi puisi Suara-Suara dari Wirogunan ini mencerminkan sebuah keadaan dari balik rumah tahanan Wirogunan di Yogyakarta. Melalui potret puisi di dalam buku ini, kita bisa melihat kondisi dalam penjara. Dari beberapa puisi yang ditulis oleh nara pidana menggambarkan situasi batin dan lingkungan penjara. Hal itu juga dikatakan oleh kepala lapas Wirogunan bahwa puisi ini bukan hanya menjadi curahan hati (curhat), tapi menyimpulkan sebuah permenungan batin yang dalam dari para penciptanya (hlm. iii). Dengan kata lain, puisi mampu mengajak hati yang begitu keras belajar untuk lembut atau lentur, sehingga jiwa bisa kuat.

Baca: Buka Puasa dengan Pola Makan Sehat

Apresiasi dari masyarakat literasi terhadap kreativitas ini perlu didengungkan. Tak banyak rumah tahanan yang melakukan suatu pembinaan terhadap para nara pidana. Terlebih dalam hal mengasah insting dan kreativitasnya. Sejauh dunia perbukuan Indonesia hidup, karya ini sepertinya masih satu-satunya buku yang lahir dari penjara. Yang penulisnya benar-benar para pelaku kriminal.

Seperti Ayu Rahmawati yang mengaksarakan perasaannya melalui puisi berjudul Jenuh dan Penyesalan. Aku sandarkan tubuh ini saat lelah/ Merenungi nasib yang tak tahu arah/ Saat jiwa kosong dan sepi/ Rasa jenuh datang menghinggapi (hlm. 18). Naluri manusia hakikatnya bisa dipenjara. Tapi jiwa, rasa, pikiran, dan batinnya tetap akan melakukan pemberontakan. Di dalam penjara, rasa jenuh menjadi pemantik dari sebuah pemberontakan.

Baca juga: Cara Kita Merayakan Kelahiran Nabi Muhammad

Penjara memang sangat menjenukan. Hal itu digambarkan lebih detail lagi oleh Edi Triyanto dalam puisinya yang berjudul Waktu (hlm. 28). Kehidupan di dalam penjara berkutat pada tidur, bangun, makan, ke kamar mandi. Hal itu dilakukan hanya untuk menunggu waktu, baik waktu sebuah kebebasan atau tenggat kematian. dengar, bangun, jalani, lakukan, kerjakan/ Tik…tak..tik…tak… itu waktu/ terus jalani, terur ikuti, terus sampai akhirnya/ Z…z…z…z…lelap, pulas dan ngorok lagi.

Situasi demikian menggambarkan sebuah rasa tidak nyaman di dalam rumah tahanan. Meski kata sebagian orang tidur dan hidup santai terasa menyenangkan, tapi jika hal itu terjadi secara terus menerus tidak akan menghadirkan efek menyenangkan. Hal itu bisa terjadi dan dirasakan oleh siapa pun, baik di dalam penjara atau di luar penjara sekali pun.

Baca lainnya: Puisi, Perjalanan, dan Identitas Diri yang Terkoyak

Kumpulan puisi ini mengingatkan kita tentang hakikat para narapidana di sana. Mereka juga manusia seperti kita yang bebas tanpa harus dibatasi. Namun, karena kontrol yang tidak kuat, membuat mereka harus mendekam di balik jeruji besi. Selain mengingatkan tentang sebuah kebebasan, penjara bukan tempat untuk membunuh karakter para narapidana. Mereka seharusnya juga mendapat didikan dan bimbingan agar menjadi manusia yang kembali paripurna untuk menjalani kehidupan.

Penjara bukan akhir segalanya. Dari penjara sebuah harapan baru tumbuh untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik tentunya. Namun, untaian senoktah kata di dalam buku memang jauh dari sempurna, karena penulisnya tidak andal di bidangnya. Akan tetapi, sebuah perasaan dari jeritan puisi ini kita akan memahami substansi penjara dan hal-hal yang kadang kita memandang secara negatif.

Baca juga: Jokpin dan Universalitas Makna dalam Berpuisi

Kehadiran antologi puisi ini patut kita apresiasi dan acungi jempol sebagai keberhasilan dari usaha yang dirintis oleh orang-orang yang peduli terhadap kemanusiaan. Sastrawan Yogyakarta Iman Budhi Santosa, Jati Suryono, Budi Sarjono, dan Ons Untoro telah berhasil meluangkan waktunya untuk bekerjasama dengan Suherman, kepala lapas Wurogunan Yogyakarta. Model didikan literasi bagi para narapidana mungkin sangat perlu guna menghidupkan naluri kemanusiaan.

Judul               : Suara-Suara dari Wirogunan

Penulis             : Nara Pidana Wirogunan

Penerbit           : Tonggak Pustaka

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 14 x 20 cm, xii + 106 hlm.

ISBN               : 978-6027-4587-3-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

Advertisements

2 Responses to Jeritan Puisi dari Balik Jeruji

  1. Pingback: Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan | junaidikhab

  2. Pingback: Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: