Sayang 2

Karya: Anton Obama

Sumber Gambar: Anak Cemerlang

Lagu Sayang 2 karya Anton Obama ini, bagiku mengandung makna yang begitu mendalam. Maka dari itu, bawaan perasaan yang menderu dalam dada berusaha kusajikan dalam kata-kata meski tak seutuhnya sama persis dengan perasaan yang kualami. Hal yang sangat kuat dalam lagu ini tentang kerinduan, kebimbangan, Dewi Asmara, hingga berpesan pada alam yaitu ombak yang menderu di lautan hanya demi mengabarkan sebuah rindu yang terus menghentak dalam dada.

Cubo rungokno tembang kangenku iki. (Coba dengarkan lagu kangenku ini). Aku memiliki rindu yang terus mengalun dalam hamparan waktu yang tak mudah untuk mengukurnya dengan kekuatan akal manusia, karena hakikatnya rindu ini ada waktu yang terus berjalan meski sebagian telah dipenjarakan oleh manusia.

Dewi asmoro tulung omongno, aku isih ngenteni. (Dewi asmara tolong sampaikan aku masih menunggu). Kepada Dewi Asmara, pemilik cinta dalam mitologi Yunani, aku ingin menitipkan salam penuh rindu pada kekasih hati yang telah pergi jauh, bahwa aku masih mencintainya meski dia telah memilih yang lain. Aku ingin melabuhkan cintaku padanya menjadi cinta pada-Nya, mencintai manusia, mencinta-Nya, sama dengan mencintainya. Penantianku tak terbatas hingga mungkin nanti ditebas oleh kematian atas cinta dan rindu yang terus tumbuh bagai benih-benih yang diterpa hujan deras pada permulaan musim penghujan dan berlanjut dengan hujan-hujan air kerinduan berikutnya.

Ombak segoro kok saja ngelingake. (Ombak samudra seperti mengingatkan). Deru ombak yang melambai dan saling kejar membawaku pada pelabuhan tentang auranya dan aura-Nya yang membuatku semakin tak mudah untuk melupakan apalagi membencinya. Dari ujung ombak yang bergulung itu, rindu terus menderu dan mengempas karang-karang kesedihan penuh cita dan mendenyarkan seluruh tasbih dan tahmid bahwa aku sangat beruntung mengenalnya, hingga membawaku pada pelabuhan cinta-Nya.

Nambahi kangenku soyo gedi nganti kepati-pati. (Menambah kangenku semakin besar hingga berlebih-lebih). Ketika deru ombak itu menggeleger menggulung perasaan dalam dada, rinduku terus mengempas dan menjerang bertubi-tubi, hingga dada ini terasa sesak menghadapi kenyataan yang penuh suka-duka ini. Dadaku seperti tak mungkin mampu menampung rindu dan cinta yang terus membeludak dan menerjang benteng-benteng perjumpaan.

Andaikan sayangku sak iki isih ono ning kene. (Andaikan sayangku sekarang masih ada di sini). Umpama kebersamaan menjadi tali di antara tangan kita, tapi itu bak tali yang sudah dilalap api membara, terbakar dan bahkan hampir habis di ujung-ujung tiap talinya. Harapan cuma tersisa sebagai bayangan yang selalu kuikuti tapi tak bisa kuraih.

Kita akan selalu memadu cinta. (Andai kebersamaan itu masih ada, mungkin cinta akan terus tumbuh dan kemesraan memamah kasih dan sayang-Nya akan menjadi menu makan kami setiap hari. Tapi, itu sepertinya menjadi halusinasi di masa silam dan aku perlu membuat perjanjian baru dengan-Nya demi menjaga marwah cinta dan sayangku padanya.)

Bungah ing atiku, sedih ing atiku. (Gembira di hatiku, sedih di hatiku). Kehadirannya setelah menghilang dari lubuk hati, aku yakin akan memberikan wangi yang begitu semerbak yang membuat hidung dan hati begitu jembar. Seluruh suka-duka akan menyatu menjadi hamparan sajadah untuk bersujud sukur kepada-Nya dengannya.

Hanya dalam mimpi. (Tapi, harapan itu hanya bayangan yang sering kulihat di kala malam ataupun siang. Kebahagian dan kesedihan mengajariku agar angan-angan itu jangan sampai menjadi teman agar rasa yang tumbuh bagai bunga mekar dalam dada ini tak layu.)

Rino lan wengi moto iki angel diaremake. (Siang dan malam mata ini sudah dipejamkan). Bagaimana bisa aku mudah tidur, sementara bayangannya selalu mengajakku untuk bercerita dan melihat masa silam yang penuh suka-duka bersama. Waktu menjadi bagian yang hanya penuh dengan bayang-bayang semu tentangnya, tapi aku memalingkan dan memasrahkannya pada-Nya.

Mung lamlamen esem lan manismu. (Hanya selalu terbayang senyum dan manismu). Kenangan indah itu telah berlalu dan mungkin akan menjadi sejarah pengikat cinta dan kasihku padanya. Kegembiraan yang telah diukir hanya tersisa bekas yang mungkin akan selalu kupandangi sepanjang hidupku sebagai muara pengobatan atas rindu yang terus datang silih berganti.

Kapan ku bertemu sak kedip ing moto. (Kapan ku bertemu, sekedip mata (saja). Satu perjumpaan mungkin akan membakar segala rindu dan sayang menjadi energi lain yang lebih membara. Melihatnya secara langsung dengan jarak sejengkal bisa menjadi daun Aceh yang mungkin akan terus melahirkan candu seumur hidup.

Wes marem atiku. (Sudah senang hatiku). Hanya perjumpaan yang kata banyak orang menjadi pengobat dari segala rindu, tapi itu tak demikian, malah akan membuat sebuah candu. Ketagihan, seperti tak ingin ada perpisahan meski itu sangat mutlak terjadi atas kehendak-Nya. Aku tak bisa bergerak atau melangkahkan harapan kecuali sebuah pertemuan yang penuh kerinduan dan sedikit menenangkan kasih yang terus bergemuruh semanjang waktu.

Yogyakarta, 1 Desember 2018

4 Responses to Sayang 2

  1. Pingback: Cara Kita Merayakan Kelahiran Nabi Muhammad | junaidikhab

  2. Pingback: Motivasi | junaidikhab

  3. Pingback: Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu | junaidikhab

  4. Pingback: Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: