Sehelai Kerudung

Kedaulatan Rakyat: Minggu, 11 November 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. KR_Joko Santoso_Junaidi Khab_Sehelai Kerudung

Beberapa hari sejak kabar itu kudengar, keadaan kampung jadi runyam. Ada warga merasa tak terima karena kerudung yang dipajang di depan rumahnya dibakar oleh anak lelaki yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Adnan memasang kerudung itu sebagai jimat agar rumahnya tak diganggu jin atau setan.

Keadaan kampungku semakin kisruh ketika Adnan mengajak teman-temannya untuk memberi pelajaran pada Arif. Arif menghilang. Hanya teman-temannya yang dijumpai oleh Adnan.

“Saya tak tahu Pak. Kata Arif, berdoa minta pertolongan agar tak diganggu jin atau setan itu hanya kepada Tuhan. Kata Kiai Saman juga begitu.”

Sebagian warga memang tahu tentang kerudung yang dipakai oleh Adnan agar terhindar dari gangguan setan dan jin. Dalam kerudung hitam itu, ada tulisan kaligrafi dari ayat-ayat al-Quran lalu dilingkari dengan kalimat syahadat.

Baca: Lipstik

Orangtua Arif pun bungkam yang semakin membuat Adnan marah bukan kepalang. Guru ngaji Arif yang mendengar kabar itu segera bertamu pada Adnan.

“Pak Adnan, maafkan Arif yang tak tahu apa-apa itu,” kata Kiai Saman.

“Tak bisa Kiai. Kerudung berkaligrafi itu saya beli dengan harga mahal. Lagi pula itu sama saja dengan membakar kalimat syahadat yang menjadi pengakuan kalau kami beragama dan beriman.”

Baca juga: Baju Ayah

“Tak harus begitu cara menyelesaikan masalah pembakaran kerudungmu itu, Pak Adnan. Kalimat itu kan tak seharusnya dikibarkan, cukup diamalkan lalu diajarkan pada orang-orang. Tak usah dibawa ribut.”

“Itu harganya mahal,” tukasnya lagi.

“Pak Adnan kan cukup minta ganti rugi pada keluarga Arif kalau merasa dirugikan. Pak Adnan tak harus seperti orang-orang yang tak terima kain bertuliskan syahadat itu ketika dibakar.”

Adnan terdiam. Perkataan Kiai Saman bisa dipahami. Kerudung jimat bertuliskan kaligrafi dan dilingkari syahadat itu tak harus mengundang resah karena kebencian Adnan pada Arif. Persoalan syahadat atau keyakinan cukup diamalkan lalu diajarkan, tak perlu dikibarkan. Ada orang yang mengaku beragama tapi hanya omongannya saja. Seperti agama katepe.

Baca lainnya: Perempuan Bertangan Duri

“Pak Adnan kan sudah lihat dan dengar soal bendera yang dibakar itu kan?”

“Iya Kiai.”

“Nah, Pak Adnan tak harus seperti mereka. Demi menghajar Arif, sampai beralibi kerudung yang dipajang itu bertulisakan kaligrafi syahadat.”

Sejak peristiwa yang dilihat di televisi dan internet soal pembakaran bendera itu memang membuat masyarakat resah. Ada sebagian orang yang beragama hanya mengandalkan otak, bukan hati yang menjadi substansi keimanan. Padahal seharusnya dalam beragama tak perlu muluk-muluk, cukup hati ke hati, cukup diamalkan lalu diajarkan. Persoalan merasa dilecehkan, itu yang harus kita hadapi dengan lapang. Begitu ajaran agama: tabah dan sabar.

Baca juga: Kerudung Hitam

Penjelasan Kiai Saman cukup masuk akal. Sebagian orang bilang membela tauhid. Tapi meresahkan masyarakat dan menjadi kontroversi. Kata Kiai Saman, tauhid cukup diamalkan lalu diajarkan, jangan hanya dikibarkan dibawa ke mana-mana. Apalagi sebagai jimat penolak jin dan setan. Sekarang banyak masyarakat belajar agama dari internet, sehingga cara beragamanya kaku dan tak ramah. Adnan mengangguk.

Yogyakarta, 7 November 2018

* Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

Advertisements

18 Responses to Sehelai Kerudung

  1. Pingback: Ramadan sebagai Momentum Mengendalikan Nafsu | junaidikhab

  2. Pingback: Islam, Zakat, dan Pemerataan Ekonomi | junaidikhab

  3. Pingback: Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan | junaidikhab

  4. Pingback: Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia | junaidikhab

  5. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

  6. Pingback: Membincang Olahraga dan Dunia Kepenulisan | junaidikhab

  7. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  8. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  9. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

  10. Pingback: Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu | junaidikhab

  11. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

  12. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  13. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  14. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  15. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  16. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  17. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  18. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: