Inspirasi dari Jogja untuk Indonesia

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Bengkel Buya Belajar dari Kearifan Wong Cilik

Manusia kekinian sudah banyak melupakan nilai-nilai humanisme dan rasa sosial yang pada masa dulu dipegang erat. Hal tersebut tak dapat kita mungkiri sebagai masyarakat yang selalu mengalami perubahan dalam menghadapi berbagai zaman. Tapi, sebuah perubahan yang terjadi jika mengarah pada hal-hal yang kurang baik selayaknya harus menjadi permenungan dan harus memperbaikinya. Misalkan persaingan ketat tanpa melihat siapa dan apa yang diperjuangkan asal diri sendiri tetap sejahtera akan tetap kita lakukan. Sehingga masyarakat lain ada yang terdiskriminasi dan terzalimi. Hal itu jangan sampai terjadi, meski kita mengalami perubahan dan mengikuti arus zaman yang terus berjalan berkembang-maju ini.

Melalui karya ini, Ahmad Syafii Maarif – atau akrab disapa Buya – ingin mengetuk hati kemanusiaan dan naluri humanisme masyarakat modern agar tetap memegang teguh prinsip peradaban hidup yang lebih baik serta mulia di lingkungan sosial. Kisah-kisah kemanusiaan yang dilihat Buya dalam pengalaman hidupnya di dalam buku ini akan menjadi sebuah inspirasi untuk kembali memegang hakikat hidup yang lebih memprioritaskan kerukunan dan saling berbagi antar sesama manusia.

Baca: Laknat atau Musibah Datang dari Kita Sendiri

Misalkan kehidupan seorang tukang tambal ban di daerah Jogja yang selalu melayani pelanggannya dengan kejujuran dan tak memeras. Bahkan, dari saking tinggi nilai kemanusiaannya pun ia tak berjualan bensin meski para pelanggannya sering ingin membeli bensin padanya. Ia beralasan karena di perempatan jalan, ada orang yang buka kios bensin. Jika tukang bengkel itu juga jual bensin, kemungkinan besar kios bensin di perempatan jalan tidak laku (14-16). Bahkan yang sangat memukau, tukang tambal ban itu tak pernah meminta ongkos bongkar-pasang onderdil jika onderdilnya beli di sana. Itu pun hanya harga onderdil dengan labanya yang harus dibayar jika dikalkulasi secara matematis.

Nilai-nilai humanisme di era modern saat ini hampir punah dari jati diri manusia. Dunia sudah sedikit menyerupai rimba. Kisah perjalanan tukang tambal ban kiranya harus menjadi kaca cermin agar hidup yang kita jalani di atas dunia ini tidak sama dengan binatang di belantara. Meskipun hasil yang didapat oleh tukang tambal ban sebatas laba penjualan tanpa menghitung jasa bongkar-pasang, tapi dirinya tentu mendapat kebahagiaan dan ketenangan dengan melayani sepenuh hati dan juga memikirakan orang lain yang sama-sama mencari rejeki yang halal.

Baca juga: Merayakan Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Lain halnya dengan Pak Tugimin yang konsisten dan ikhlas dalam menjaga sebuah masjid Syuhada di daerah Jogja. Meski tua renta, ia tetap menjalankan tanggung jawab yang diamanahkan tanpa mengharap imbalan. Hingga gempa 27 Mei 2006 meluluhkan bumi Jogja. Nasib Pak Tugimin sungguh nahas, rumahnya juga roboh. Dari peristiwa kegigihan dan kejujuran Pak Tugimin ini, dirinya bisa naik haji berkat perjalanan hidupnya menginspirasi dan menyentuh hati masyarakat (hlm. 49-51). Begitu pula Suparmin, akibat gempa, ia mengalami cacat fisik. Namun, ia tetap bekerja sebagai pengasah pisau di tengah kemeleratannya. Ia tak meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (hlm. 59). Begitulah seharusnya hidup kita.

Baca lainnya: Jalan Panjang Politik Umat Islam di Indonesia

Buku ini penuh dengan kisah-kisah inspiratif kemanusiaan sebagai cermin bagi masyarakat modern yang tak begitu memperdulikan nilai-nilai humanisme. Melalui buku ini, Buya mengemas pengalaman hidupnya dengan penuh apik dan menarik. Kisah-kisahnya enak dibaca karena diukir menjadi sebuah cerita ilustrasi bergambar menyerupai komik. Namun, pesan-pesan moralnya sangat terasa dan menyentuh naluri kemanusiaan agar kita tetap menjujung tinggi kerukunan serta solidaritas antar sesama umat manusia. Selamat membaca dan menggali inspirasi!

Judul               : Bengkel Buya Belajar dari Kearifan Wong Cilik

Penulis             : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit           : mizan

Cetakan           : I, April 2016

Tebal               : viii + 100 hlm.; 23,5 cm

ISBN               : 978-979-433-944-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

2 Responses to Inspirasi dari Jogja untuk Indonesia

  1. Pingback: Berpuasa dan Mengonsumsi Makanan dengan Baik | junaidikhab

  2. Pingback: Membaca Biografi Nabi Muhammad Saw | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: