Pengaruh Haji Mabrur dan Mardud

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Sudah Benarkah Ibadahmu

Para jamaah haji Indonesia sudah banyak yang tiba di tanah air. Entah mereka menyandang gelar sebagai haji mabrur (hajinya diterima) atau mardud (hajinya ditolak) itu dapat kita lihat perilaku sehari-harinya. Haji mabrur ditandai dengan peningkatan dalam hal kebaikan dan ibadah semakin intens dilakukan dengan ikhlas. Khususnya terkait kebaikan moral di lingkungan sosial. Sementara haji mardud bisa ditandai dengan moral yang tetap atau bertambah buruk dan ibadah sehari-hari tidak intens.

Kehadiran karya ini merupakan suatu langkah untuk mengajak para jamaah haji agar berusaha menjadi haji mabrur dengan memperbaiki segala bentuk ibadah dan moral yang bejat sebelumnya. Sebenarnya, menjadi haji mabrur itu sangat mudah asal niat kita kuat. Sebelum berhaji masalkan tidak rajin berzakat, bersedekah, atau berinfaq, maka usai pelaksanaan ibadah haji berzakat harus dilakukan sepenuh hati. Keharusan mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada yang berhak merupakan ajaran yang amat baik demi perputaran harta bagi sesama (hlm. 45). Itu akan menjadi cermin haji mabrur.

Baca: Belajar Sukses dari Kegagalan

Menjadi sosok yang dermawan dengan selalu ingin memberi bagi kaum yang tak punya; fakir, miskin, dan anak yatim merupakan simbol sebuah ibadah diterima. Termasuk ibadah haji yang dilaksanakan oleh jamaah haji Indonesia. Kadang, para jamaah haji tidak sadar dengan status haji yang telah dilaksanakan. Padahal, perilaku hidupnya di lingkungan sosial menjadi cermin sebagai haji mabrur atau mardud.

Baca juga: Belajar Jiwa Kebangsaan dari Cak Nun

Bahkan, lebih jauh lagi, cermin haji mabrur bisa dilihat dari budi pekerti para jamaah haji itu sendiri (hlm. 85). Para jamaah haji bisa dikategorikan mabrur apabila memiliki sifat jujur yang kuat, menepati janji, berlaku amanah, santun, sabar, bersyukur, rendah hati, bersedekah, dan menjadi sosok dermawan yang ikhlas. Hal itu, bukan hanya sebagai contoh ke-mabrur-an haji seseorang, tapi bisa menjadi cermin bahwa ibadah seseorang dikabulkan.

Baca lainnya: Merayu Tuhan dengan Doa dan Ibadah

Karya ini hadir di tengah-tengah kita sebagai pengingat dan upaya untuk memandu agar ibadah kita – khususnya para jamaah haji  Indonesia – lebih baik dan berkualitas dari sebelumnya. Hal tersebut akan menjadi cermin sebuah ke-mabrur-an ibadah haji atau keterkabulan ibadah sehari-hari yang kita laksanakan. Dengan membaca karya ini, kita akan memahami dan menyadari untuk melaksanakan hakikat ke-mabrur-an dari ibadah (haji) – baik ibadah horizontal atau vertikal – yang kita lakukan. Selamat membaca dan semoga menjadi haji mabrur.

Judul               : Sudah Benarkah Ibadahmu?

Penulis             : Syafaat Selamet

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 291 halaman

ISBN               : 978-602-1337-78-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

2 Responses to Pengaruh Haji Mabrur dan Mardud

  1. Pingback: Laknat atau Musibah Datang dari Kita Sendiri | junaidikhab

  2. Pingback: Merayakan Kelahiran Nabi Muhammad Saw | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: