Belajar Jiwa Kebangsaan dari Cak Nun

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Secangkir Kopi Jon Pakir

Pemikiran sosok Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) selalu enak dijadikan bahan refleksi, dikusi, dan introspeksi diri. Ide-ide dan gagasannya kadang memang terasa pedas dan panas. Tapi, hati kita akan menerima setelah melakukan kontemplasi untuk menikmati secara saksama dan logis atas gagasan Cak Nun. Sosoknya yang dikenal sebagai seniman, kiai, budayawan, penyair, dan bahkan figur masyarakat menjadi bukti bahwa dia memiliki multi talenta.

Melalui karya berjudul Secangkir Kopi Jon Pakir ini, Cak Nun akan menghadirkan suguhan ide kopi kebangsaan dan kenegaraan. Pemikiran-pemikirannya memang tergolong klise, tapi masih tetap renyah dan gurih untuk dinikmati di era modern saat ini. Seperti karya-karyanya yang lain, Cak Nun selalu menggunakan tokoh tulisannya sebagai pelaku utama.

Baca: Menguak Rahasia Seseorang dari Bahasa Tubuhnya

 Di dalam karya ini, dia menggunakan Jon Pakir sebagai dalang di balik suguhan menu kopi ide dan gagasannya. Secara umum, karya Cak Nun mengulas tentang dorongan pemerintah agar selalu memprioritaskan rakyat jelata. Dari sana, nilai-nilai filosofi kopi dari karya ini dihadirkan. Ide dan gagasannya diibaratkan sebuah kopi yang tepat dinikmati di saat duduk santai, tapi membicarakan hal-hal yang urgensitasnya sangat tinggi bagi masa depan bangsa dan negara.

Agama dan Alquran

Belakangan ini, bangsa Indonesia digaduhkan oleh isu penistaan Alquran hingga merembet pada persoalan politik, negara, dan kebangsaan kita. Dalam persoalan Alquran, Cak Nun melalui Jon Pakir menjelaskan bahwa Alquran itu tidak cukup dipandang dari satu sudut pandang karena nilai-nilai universalitasnya yang begitu kuat. Ibaratnya, Alquran itu samudera (hlm. 34). Alquran itu samudera tak bertepi. Sementara manusia hanya ember, drum, kaleng, atau cangkir. Jika kita hanya menjadi kaleng, maka takaran pemahaman air samudera pengetahuan yang bersumber dari Alquran hanya secangkir. Sehingga, untuk menafsirkan (menampung) kandungan universalitas Alquran, manusia membutuhkan banyak wadah.

Baca juga: Belajar Sukses dari Kegagalan

Di negara kita – Indonesia – yang masyarakatnya multi etnis, budaya, dan bahasa telah berhasil menyatukan mereka di bawah naungan Pancasila. Namun, masyarakat Indonesia didominasi oleh penganut agama Islam sebagai mayoritas. Sehingga, kadang nafsu kekuasaan membutakan hati dan menggunakan Alquran atau agama mayoritas sebagai senjata untuk mendapatkan posisi tertentu.

Nilai-Nilai Kebangsaan

Di dalam Alquran telah dijelaskan tentang hakikat hidup manusia. Dalam surah Alhujarat ayat 13 dijelaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan manusia berbangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sementara orang yang paling mulia di sisi Tuhan (Allah) yaitu orang yang paling bertakwa. Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.

Alquran dengan universalitasnya bisa dijadikan pedoman menuju hidup rukun, sejahtera, dan kebaikan sosial lainnya. Namun, di era akhir abad ini, Alquran hanya dijadikan bahan tunggangan dan dalil-dalil belaka tanpa dijadikan sebagai tali memperata hubungan manusia dan Tuhan. Menyayangi (membela) Alquran bukan sekadar memeluk erat, tapi juga mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam perilaku kehidupan sehari-hari (hlm. 145).

Baca lainnya: Mempertahankan Semangat Kebangsaan

Orang-orang masa kini, hanya pandai menyuarakan kandungan Alquran dan kebaikan-kebaikan kepada masyarakat. Tapi, segala tindakan yang dilakukan hanya memecah belah bangsa dan negara. Padahal, pesan Alquran tujuan manusia diciptakan agar saling mengenal yang tentunya dengan damai. Sebenarnya, nilai-nilai universalitas Alquran itu dicerabut oleh orang-orang yang hanya lihai bermain lidah saja, bukan orang yang berani mengaplikasikan kandungan luhur Alquran. Atas ulah tersebut, maka masayarakat yang tercekik dan terancam keamanannya. Padahal, Alquran hadir sebagai sinar terang menuju hidup yang damai.

Buku ini bukan hanya menyuguhkan hidangan kopi kebangsaan yang bersumber dari universalitas ketuhanan dan Alquran. Namun, juga dibahas mengenai sajian kopi politik pemerintah sebagai pemangku negara dalam mengendalikan rakyat. Buku ini layak dibaca sebagai bahan renungan kebangsaan dan kenegaraan agar kita tidak mudah ditipu oleh para politisi dan ahli agama yang tidak mengimplementasikan ajaran-ajaran universalitas Alquran. Selamat membaca!

Judul               : Secangkir Kopi Jon Pakir

Penulis             : Emha Ainun Nadjib

Penerbit           : mizani

Cetakan           : Ed. II/I, 2016

Tebal               : 348 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-979-433-973-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

2 Responses to Belajar Jiwa Kebangsaan dari Cak Nun

  1. Pingback: Pengaruh Haji Mabrur dan Mardud | junaidikhab

  2. Pingback: Laknat atau Musibah Datang dari Kita Sendiri | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: