Menyambut Ramadan dengan Meneladani Ibadah Rasulullah

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Beginilah Shalat Nabi

Di dalam agama Islam, penganutnya diwajibkan untuk melaksanakan shalat lima waktu, subuh, dluhur, asar, magrib, dan esak. Selain lima shalat tersebut hukumnya sunnah kecuali ada ketentuan hukum lain seperti shalat jumat, shalat janazat, dan shalat wajib lainnya dengan ketentuan hukum yang diberlakukan. Meskipun hukum shalat lima waktu itu wajib seperti yang disampaikan melalui Alquran, tapi penjelasannya tidak rinci. Sehingga, umat Islam memerlukan sebuah rujukan lain untuk memenuhi perintah shalat tersebut. Satu-satunya cara untuk bisa melaksanakan dengan baik, yaitu dengan meniru cara shalat Nabi Muhammad Saw. serta sabda-sabdanya tentang shalat.

Dalam rangka menyambut bulan Ramadan, melalui buku ini Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi ingin memberikan penjelasan tentang pelaksanaan shalat yang mengacu pada cara-cara Nabi Muhammad Saw. ketika melaksanakannya. Salah satu tujuan pemahaman cara shalat ini tak lain untuk menjadikan ibadah shalat yang dilakukan oleh umat Islam agar sempurna dan tidak ragu lagi. Dengan menaati Nabi Muhammad Saw. sama halnya kita telah menaati perintah Allah Swt. (hlm. 24). Hal itu karena segala tindakan dan ucapan Nabi Muhammad Saw. ma’shum (dijaga oleh Allah Swt.) agar selalu berada di bawah bimbingan-Nya.

Baca: Mencari Bangsa Ke-13 sebagai Penguasa Dunia

Itu sebagai landasan penulisan buku ini, sehingga sangat penting dibaca oleh umat Islam guna menemukan kesempurnaan dalam melaksanakan shalat. Karena tidak dapat dimungkiri bahwa tanpa merujuk pada tindakan Nabi Muhammad Saw. perihal cara shalat, umat Islam akan kebingungan. Ada beberapa tindakan Nabi Muhammad Saw. yang perlu dipahamai oleh umat Islam tentang tata cara melaksanakan shalat, baik sebelum, sedang, dan saat melakukan shalat.

Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. bahwa sebelum beliau melaksanakan shalat, bersuci menjadi rutinitas yang dilakukan (hlm. 98). Bersuci saat akan melaksanakan shalat bagian dari perintah yang digambarkan di dalam Alquran surah al-Maidah ayat 6. Bersuci yang dimaksud yaitu melakukan wudu dengan cara membasuh wajah, kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki sampai ke dua mata kaki.

Bahkan, di saat berhalangan akibat sakit atau hal lainnya yang tidak memungkinkan menyentuh air, umat Islam yang akan melaksanakan shalat diberi keringanan dengan cara tayammum sebagai ganti bersuci. Memang, cara demikian tidak tampak bersuci karena tidak menggunakan air. Namun, secara spiritual-keimanan, hal itu merupakan cara kita bersuci.

Baca juga: Meminimalisir Geng dan Kenakalan Remaja

Aturan-aturan bertayammum sebelum melaksanakan shalat juga telah dipertegas di dalam surah al-Maidah ayat 6 dengan cara mengusap wajah dan kedua tangan menggunakan debu yang suci. Dengan kata lain, untuk melaksanakan shalat, ada dua alternatif dalam bersuci, yaitu berwudu dengan air atau bertayammum menggunakan debu yang tentunya atas dasar alasan tertentu yang diperbolehkan (hlm. 110).

Melaksanakan shalat merupakan ritual untuk menghadap kepada Tuhan. Sementara untuk menghadap kepada Tuhan, kita harus dalam keadaan suci seperti yang dianjurkan di dalam al-Quran dan telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Hal ini menjadi sebuah cerminan bahwa ritual shalat bukan hal yang memberatkan prosesnya. Cuma membutuhkan keimanan yang kuat untuk melaksanakannya dengan mengikuti segala formulasi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. karena segala perilaku beliau bersumber dari Alquran, dan Alquran dari Allah Swt.

Bukan hanya dalam persoalan wudu untuk menuju shalat, tapi mulai tata caranya, cara shalat – baik wajib atau sunnah, hingga lama Nabi Muhammad Saw. dalam melaksanakannya (hlm. 239). Namun Imam Syafi’i berpendapat bahwa lebih utama memanjangkan berdiri dalam shalat daripada ruku’ atau sujud. Namun, dalam shalat malam, Nabi Muhammad Saw. melaksanakannya dengan waktu yang cukup lama. Hal itu pernah dialami saat beliau bersama Abdullah ibn Mas’ud.

Baca lainnya: Mengenal Rasa dan Aroma Kopi Bajawa dari Flores

Melaksanakan shalat bukan serta-merta hanya sebatas gerakan dan bacaan-bacaan belaka seperti banyak dilakukan oleh umat Islam pada bulan Ramadan. Namun, untuk menyempurnakan pelaksanaan shalat membutuhkan sebuah teladan. Yang mana, hal ini bisa kita contoh dari cara Nabi Muhammad Saw. dalam melaksanakannya. Di dalam buku ini, Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi menjelaskan dengan begitu ringan tata cara melaksanakan shalat sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Selamat membaca dan menyambut bulan Ramadan dengan ibadah harian seperti shalat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Judul               : Beginilah Shalat Nabi

Penulis             : Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi

Penerbit           : mizania

Cetakan           : III, 2016

Tebal               : 351 halaman

ISBN               : 978-602-418-053-9

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

2 Responses to Menyambut Ramadan dengan Meneladani Ibadah Rasulullah

  1. Pingback: Bekal Melindungi Anak dari Pelecehan | junaidikhab

  2. Pingback: Jogja dan Kearifan Masyarakatnya | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: