Belajar dari Peraih Nobel Karya Sastra

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage

Pada tahun 2016 ini, dunia kesusasteraan dibombardir oleh berita pencetusan peraih nobel sastra – Bob Dylan – berkebangsaan Amerika Serikat. Beberapa kontroversi mengiringi penetapan tersebut yang dipandang kurang layak. Sebagaimana diketahui, Dylan adalah seorang penyanyi. Namun, tentunya panitia tidak asal memilih dalam penentuan peraih nobel sastra. Dylan merupakan sosok yang menyampaikan karya sastra secara lisan atau pengucapan. Hal tersebut bisa dilihat dan dibaca, tepatnya dinyanyikan dari lirik-lirik lagunya. Dengan pemberian nobel sastra kepada Dylan, tentunya pengertian sastra mengikuti modernisasi akan mengalami pergeseran.

Pada tahun 2015 Svetlana Alexievich asal Belarus juga menerima hadiah nobel sastra. Tak jauh berbeda dengan penerimaan nobel sastra 2016 oleh Dylan, sebuah kontroversi juga terjadi di kalangan kritikus atas Svetlana Alexievich. Namun, hal itu sangat lumrah terjadi, bukan hanya dalam persoalan pemberian nobel. Tapi, dalam berbagai persoalan, kontroversi menjadi ikon menarik agar publik bisa membuka cakrawala berpikir lebih luas.

Baca: Bermaulid dengan Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw

Pada tahun 2014, Patrick Modiano – Prancis – sebagai peraih nobel sastra. Pada tahun itu, Patrick mengalahkan Haruki Murakami dari Jepang. Ketetapan panitia tidak bisa diganggu gugat. Itu hal lumrah terjadi meski kontroversi mengiringi. Sementara pada tahun 2013, Alice Munro – Kanada, Australia – meraih nobel sastra kategori cerita pendek. Ia secara konsisten menulis cerita pendek, khususnya cerita-cerita yang bernuansa kontemporer.

Buku yang berjudul Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage ini merupakan sebuah kumpulan cerita pendek karya Munro yang memenangkan nobel sastra pada tahun 2013. Kehidupan ini penuh dengan misteri dan absurditas yang berlebih. Tapi, perlahan absurd itu bisa diterima. Munro menceritakannya dengan penuh saksama seperti ada rasa benci, penuh sahabat, pendekatan, percintaan, hingga pernikahan. Misalkan, kadang kita merasa malu untuk membeli sesuatu yang murah hanya karena membenci lokasinya dan lebih memilih barang yang lebih mahal di tempat yang jauh (hlm. 15). Padahal kualitas dan mutunya sama saja.

Baca juga: Kisah dan Inspirasi Penyelamatan Bumi

Sebuah keganjilan memang menyertai kehidupan. Keganjilan-keganjilan itu kadang terasa sangat aneh, tapi tetap kita lakukan. Begitu penggambaran Munro dalam kisah-kisahnya. Bahkan, dalam persoalan feminisme, Munro seakan-akan menggugat bahwa feminisme itu hanya gerakan politik belaka. Selebihnya, ada kepentingan kelompok tertentu agar roda politiknya bisa berjalan seperti air yang mengalir ke hilir.

Di dalam salah satu ceritanya – Kenyamanan – Munro tetap melihat kodrat dan hakikat lelaki dan perempuan. Perbedaan itu bukan sebuah kesenjangan. Bagaimanapun, lelaki yang berbadan tinggi tetap memiliki keleluasaan dalam menentukan jodoh pilihan hidupnya, entah perempuan berbadan tinggi atau pendek itu menjadi pilihannya (hlm. 175). Begitupula dengan perempuan, ia memiliki hak menerima atau menolak dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Meski pada mulanya ia tak memilih, tapi kenyataan hidup bahwa perempuan lebih memilih rasa nyaman di bawah naungan lelaki.

Kenyamanan menjadi kunci umat manusia dalam menjalani kehidupan ini. Sehingga, kenyamanan itu dicipta dan dilahirkan dengan berbagai cara seperti membentuk keyakinan atas keberadaan Tuhan meski persepsi tentang hakikat Tuhan diyakini secara berbeda. Tujuan utamanya yaitu sebuah kenyamanan atau ketenangan dari keyakinan yang kita hidupkan dalam hati.

Baca lainnya: Tan Ko Tan

Bahkan, kenyamanan hidup manusia bukan ditentukan oleh orang lain, tapi oleh masing-masing individu itu sendiri. Seseorang kadang merasa nyaman minum jamu tradisional (hlm. 254). Tapi, ada pula yang merasa nyaman dengan mengonsumsi obat kimia. Secara tidak langsung, Munro dalam kumpulan cerita pendeknya ini mengajak umat manusia agar kembali pada alam dan jati diri kita masing-masing, bukan menjadi orang lain. Karena hal itu sangat menentukan masa depan yang akan kita jalani.

Buku ini menyajikan sembilan (9) cerita pendek terbaik karya Alice Munro sebagai peraih nobel sastra pada tahun 2013. Sebagai karya terjemahan, buku ini masih jauh dari sempurna, hal itu bisa diperhatikan mulai dari penulisan dan pemaknaannya yang masih terjadi kekurang-tepatan. Sehingga, hal demikian menuntut pembaca untuk lebih jeli dalam memahami teks-teksnya. Namun, tidak terlalu sulit, karena kisah-kisah yang dibuat oleh Munro tak jauh dari lingkaran kehidupan kita sehari-hari. Hal itu yang memudahkan kita untuk memahami kisah-kisah yang disajikan di dalam buku ini. Selamat membaca dan menemukan makna hidup dari perasaan benci, penuh sahabat, pendekatan, percintaan, hingga pernikahan yang dikemas dengan apik dalam buku ini!

Judul               : Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage

Penulis             : Alice Munro

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : I, 2016

Tebal               : xxi + 448 hlm.; 20,8 cm

ISBN               : 978-602-291-101-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

3 Responses to Belajar dari Peraih Nobel Karya Sastra

  1. Pingback: Menyambut Kematian dengan Amal Kebaikan | junaidikhab

  2. Pingback: Menguak Rahasia Seseorang dari bahasa Tubuhnya | junaidikhab

  3. Pingback: Sastra, MEA, dan Penyatuan Masyarakat Melayu | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: