Baju Ayah

Solopos: Minggu, 15 Juli 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Solopos_Junaidi Khab_Baju Ayah

Aku punya tiga saudara perempuan. Mereka sudah berkeluarga. Muna memiliki dua anak. Meri masih baru hamil lima bulan. Sementara Mai masih bertunangan. Mai menunggu tamat sekolah menengah atas untuk menikah. Bukan aku iri pada mereka, tapi aku merasa malu pada tetangga. Bukan pula aku tak bahagia, aku selalu dipenuhi rasa yang selalu menjembarkan. Ada banyak bahan bacaan yang membuat pikiranku tenang dan hatiku tetap nyaman: novel, majalah, dan tabloid.

Tapi, hatiku tersayat bila melihat Muna menimang-nimang anak keduanya dan menyusuinya dengan penuh kebahagiaan. Perasaanku penuh duka-lara saat memergoki suami Meri mengelus perut berisi calon bayi. Tapi, lebih parah lagi di saat tunangan Mai berkunjung ke rumah. Ketika Mai berbincang berdua di ruang tamu, jiwaku serasa terbakar tanpa sisa. Mereka semua hidup penuh bahagia dengan anak keturunannya dan pasangan masing-masing. Sementara aku bahagia dengan halusinasi.

Aku memang selalu bahagia dengan cara hidupku sendiri. Tapi, aku tak punya kebahagiaan seperti yang dimiliki oleh tiga saudara perempuanku. Bagaimana hatiku tak tersayat, duka-lara, dan terbakar kepada tiga saudara perempuanku? Ayahku sudah tiada, di rumah besarku hanya ada Ibu sebagai pemangku kehidupan. Selain memang aku yang mengepalai keluarga Aku sebagai pengganti ayah yang harus memiliki jiwa keayahan dalam keluarga dan menopang kehidupan.

Baca: Mencari Kesembuhan

“Sudah lah, Nak. Tak usah banyak melamun. Segera selesaikan kuliah dokrtoralmu agar cepat menikah.” Suara itu membuyarkan lamunanku.

Perlahan aku menoleh ke arah suara yang kuyakini itu suara Ibu. Saat melihat wajah tua Ibu dengan mata masih bening, jantungku berdetak kencang. Wajahku tampak memerah atau malah sebaliknya: pucat. Ibuku seperti selalu tahu isi hati dan pikiranku yang membuatku terasa tanpa dibalut sehelai benang.

“Oh, Ibu…” Aku menyahut dengan senyuman meski serasa telanjang di hadapannya.

Segera aku memandu Ibu yang sudah renta untuk duduk di sisi ranjang. Dia pun mendesah untuk menenangkan diri. Senyumnya tak pernah luntur yang membuatku semakin dipenuhi rasa penuh bersalah dan malu padanya.

“Kuliahmu tinggal berapa lama lagi?” tanya-selidik Ibuku.

“Jika tak ada halangan, mungkin enam bulan lagi selesai, Bu,” kataku mantap.

“Sudah ada calonmu?” tanya Ibuku yang menjadi pukulan telak padaku.

“Oh, eh… Mmmm… Belum ada, Bu,” kataku penuh kegugupan dan belepotan.

“Owalah, kalau belum ada. Bagaimana kalau kamu menikah dengan Suma. Itu, anak Badrun,” kata Ibu.

Aku terdiam. Aku memang tahu dan kenal akrab dengan Suma. Ibu mungkin tak tahu kalau aku akrab dengannya. Mungkin Ibu memang tahu, sehingga dia membicarakan soal Suma padaku. Suma memang super cerdas. Kuliah magister kedokteran.

Baca juga: Lipstik

Kadang, Suma selalu menemuiku di kafe untuk minta bantu mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Padahal, aku pikir dia mampu mengerjakannya. Bahkan, buku-buku bacaanku sering dipinjam olehnya. Beberapa novelku masih ada padanya. Kadang saat aku menanyakan buku-buku itu, aku disuruh main ke rumahnya untuk mengambil bukuku sendiri.

Siapa yang tak suka sama Suma? Raut wajah bulat bersinar dengan bibir bak sesisir jeruk. Saat senyum giginya indah seperti barisan beras yang segar. Aku sebenarnya terpaut padanya. Tapi, aku tak berani mengungkapkan. Kulirik Ibu di sisi ranjang. Dia menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal. Dia seakan memang membiarkanku untuk melamun dan berpikir.

“Bagaimana, Nak?” tanyanya lagi. “Ya sudah, kalau kamu keberatan dengan saran Ibu, tak masalah. Ibu selalu mendukungmu untuk menikah dengan gadis manapun asal perempuan baik-baik,” kata Ibu yang membuat hatiku menyesal tak mengiyakan tawarannya.

“Bukan tak mau, Bu…” kataku tiba-tiba terpotong.

“Iya, Ibu paham,” jawab Ibuku dengan senyum merekah meski sudah tampak kulit keriput di wajahnya.

Ibuku pun beranjak turun dan kupandu. Dia keluar dari kamarku. Biasanya, dia menghampiri satu persatu anaknya, mulai dari yang paling tua hingga yang paling muda. Setelah Ibu menutup pintu, aku duduk dengan memejamkan mata. Kulihat ponsel yang bergetar di atas bantal. Ada sebuah pesan. Kubuka satu folder, dari Suma.

Mas, bisa pinjem novelnya lagi?” katanya dalam pesan.

Ah, kamu tak pernah mengembalikan buku-buku novelku,” balasku menggodanya. Sebenarnya, aku merasa lebih dekat pada Suma dan terasa lebih nyaman saling kirim pesan.

Ayolah, Mas. Buku itu tetap milikmu dan pasti kukembalikan. Ayo, kapan main ke rumah untuk mengambilnya?” katanya lagi. Di bawah pesannya ada nama lengkapnya, Indah Kusumayanti.

Iya, kapan-kapan aku pasti mengambilnya,” kataku singkat.

Mas, jangan lama-lama. Buku Mas banyak yang mau dipinjem oleh teman lelakiku,” katanya lagi.

Aku terdiam setelah membaca pesan terakhir dari Suma. Dari bahasanya seakan ada metafor yang membuat jantungku berdetak kencang. Aku dengar dari teman-teman, katanya Suma memang sering dilamar, tapi tak ada lelaki yang diterima. Aku yakin, dia mengharapkanku untuk segera melamarnya. Mungkin, buku itu sebagai ikatan aku dengan dirinya untuk selalu dekat. Tugas-tugas kuliahnya juga yang membuatku selalu menatap wajahnya diam-diam menjadi celah kedekatanku dengan Suma.

Baca lainnya: Tampuk

Wajah Suma membuat pikiranku pergi melayang. Aku harus segera melamar Suma. Tapi, aku tak tahu cara mengatakannya pada Ibu dan keluargaku. Aku tak biasa membicarakan persoalan perempuan apalagi tentang pasangan hidup. Aku hanya melihat cara teman-temanku. Mereka langsung mengatakan pada orangtuanya jika ada gadis yang ingin dipinang. Tapi, ada pula yang minggat dari rumahnya berhari-hari. Ada juga yang langsung mengajak calon istrinya ke rumah mereka. Cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya.

Oh, iya. Aku baru ingat,” gumamku di tengah lamunan.

Tatapan mataku tertuju pada lemari terkunci yang berisi seluruh pakaian ayah. Tak ada yang menyentuhnya. Kata ayahku dulu, kalau aku memakai bajunya pertanda ingin menikah. Itu dikatakan ketika aku masih kanak-kanak dan aku memakai baju ayah untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Lalu, setelah mendengar ledekan itu, aku tak pernah memakai bajunya lagi.

***

Hari tampak cerah. Aku segera memilih salah satu baju santai milik ayah. Kebetulan sekarang hari Ahad untuk bersantai di rumah. Kukenakan baju santai milik ayah di rumah. Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit, aku menuju ruang makan. Di sana, seluruh saudara perempuanku berkumpul dengan Ibu dan tiga pembantu rumahtangga. Mereka semua tampak biasa. Kecuali Ibu yang senyum simpul. Mungkin saudara perempuanku paham dengan caraku. Lebih-lebih Ibuku. Tapi mereka tak berani menunjukkan ledekan apapun.

“Ayo, segera makan,” kata Ibuku.

Situasai rumah ramai dengan obrolan santai. Ibu selalu manatapku dengan wajah ceria. Mungkin dia menebak dalam pikirannya, aku ingin segera menikah karena mengenakan baju ayah.

“Ris, suruh seseorang, entah itu temanmu untuk main ke sini dan ajak makan siang nanti. Sekarang mumpung hari Ahad,” pinta Ibuku sambil nyemil makanan.

“Oh, Ibu. Gampang lah,” kataku yang dilihat oleh mata dari tiap sisi meja.

Ruang makan kembali riuh-gaduh penuh obrolan dan benturan piring dengan sendok. Aku merogoh ponsel dari saku baju. Kuminta Suma agar datang berkunjung ke rumahku siang nanti. Dia pun mengiyakan permintaanku. Usai sarapan pagi, aku kembali ke kamar untuk membaca buku. Tiba-tiba di luar ada suara yang tak asing di telinga. Suma! Kuintip dari celah jendela. Saat aku melihatnya dengan seorang lelaki yang tampan bersamanya, hatiku bergetar. Darahku seakan berhenti mengalir. Tapi, aku berusaha tenang dan berniat menuju ruang tamu.

“Mas Aris… Tuh, ada tamu datang mencarimu,” kata Mai dengan sumringah.

Aku keluar kamar. Mai membuntutiku menuju ruang tamu. Kulihat lelaki itu duduk berjejer dan berdempetan dengan Suma yang membuatku semakin terbakar.

“Bukumu masih ada di rumah. Bagaimana buku barunya? Ada yang bisa kupinjem?” kata berbasa-basi. “Oh, iya, lupa. Ini adikku, Hermawan, baru datang dari California, kuliah jurusan teknik bangunan,” katanya sembari mengenalkan lelaki yang pada mulanya kucemburui.

“Aris Setiabudi,” kataku sembari mengulurkan tangan pada Hermawan dengan senyum yang baru sembuh dari tubuhku yang hampir gosong.

Senyum Hermawan tak kalah manis dengan senyum Suma. Mereka benar-benar ramah. Perbincangan pun mengalir setelah aku kenal lelaki yang membuatku terbakar tadi. Usai satu setengah jam berbincang dengan Suma dan Hermawan, aku pamit untuk mengambil buku. Di kamar sudah ada Mai dan Ibu.

“Hayo, yang mau nikah.” Tiba-tiba Mai nyelutuk di samping Ibu.

“Ayo, segera lamar. Nanti Ibu siapkan segala kebutuhanmu. Juga sebagai pendamping saat wisudamu nanti,” kata Ibu dengan senyum indah yang membuat wajahku sedikit terbakar.

Baca juga: Perempuan dalam Karya Sastra

Kucubit pipi Mai hingga mulutnya terbuka miring. Dia menjerit-jerit. Mungkin terdengar ke luar kamar. Aku melepas cubitan pada pipinya. Lalu, Mai memukul pundakku dengan manja dan senyuman yang menggoda.

“Hm…” katanya lagi.

“Sudah, sudah…” kata Ibuku melerai.

Aku segera merogoh dua buku baru yang selesai kubaca dan membawanya ke ruang tamu. Dari jauh, Suma dan Hermawan tampak sedang berbincang tentang kuliah dan hal-hal lain sembari menikmati camilan. Mereka berhenti ngobrol saat melihatku datang dan menyodorkan dua buku. Satu buku fiksi dan satu buku kedokteran. Lalu, mereka pamit pulang dan aku mengantarnya hingga ke halaman rumah.

***

Dua minggu berlalu. Ibuku bersama dua iparku berangkat melamar Suma pada dua orangtuanya. Suma pun resmi menjadi tunanganku. Satu minggu lagi pernikahan akan dilangsungkan. Tapi, satu hal lagi yang membuatku harus menepis dan menerima kenyataan. Lelaki yang menyukai Suma menaruh benci padaku. Termasuk teman dekatku, Anton.

“Mana calon istrimu?” tanya Anton saat duduk berdua di kafe.

“Sebentar lagi juga datang,” kataku datar.

“Hhhh… Aku ke kafe sebelah dulu, ya,” kata Anton mendesah setelah melihat yang datang tak lain Suma. Dia berpaling tanpa melihatku lagi menuju kasir.

“Mau ke mana tamanmu tadi? Siapa itu?” selidik Suma setelah beranjak duduk di kursi depanku. Dia tak melihat dengan jelas lelaki yang bersamaku dari luar kafe.

“Anton,” kataku.

Setelah itu, aku diam. Suma mengangguk. Paham. Anton tak duduk denganku lagi di kafe. Dia memilih teman lain. Kini posisinya diganti calon istriku. Suma tersenyum melihat hal demikian. Katanya, Anton selalu menggoda Suma agar menerimanya sebagai suami. Tapi, Suma tak banyak merespons. Saat aku akan membayar uang kopi dan camilan, malah mendapat kembalian. Kata kasir, Anton yang membayarnya tadi dengan uang dua ratus ribu. Segala minuman dan camilan yang kunikmati dengan Suma pun terbayar. Aku terhenyak, heran, dan bertanya-tanya setelah mendengar jawaban dari kasir.

Sumenep, 12 Agustus 2016

* Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

18 Responses to Baju Ayah

  1. Pingback: Sehelai Kerudung | junaidikhab

  2. Pingback: Dari Cinta, Pacaran, hingga Pernikahan | junaidikhab

  3. Pingback: Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia | junaidikhab

  4. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

  5. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  6. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  7. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

  8. Pingback: Konstruksi Sosial Kaum Perempuan | junaidikhab

  9. Pingback: Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu | junaidikhab

  10. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

  11. Pingback: Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia | junaidikhab

  12. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  13. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  14. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  15. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  16. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  17. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  18. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: