Menggapai Kesucian Jiwa dengan Zakat

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Sejuta Nikmat Zakat Catatan Seorang Amil Zakat

Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar zakat, utamanya zakat fitrah di bulan suci Ramadhan. Ini dikarenakan Allah Swt. memerintahkan bagi mereka untuk menunaikannya setelah melakukan kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya, maka akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.

Secara eksplesit kita dapat mengartikan zakat adalah pemberian sebagian dari harta yang telah ditetapkan oleh agama kepada orang yang berhak menerimanya. Namun untuk pengertian zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu karena menjumpai bulan Ramadhan dan bulan Syawal. Zakat fitrah diperintahkan khusus untuk umat Muhammad saw., dan mulai diwajibkan pada tahun kedua hijriyah.

Jadi, anak kecil maupun dewasa, tua dan muda, laki-laki dan perempuan wajib membayar zakat fitrah. Khusus untuk bayi, anak kecil dan istri maka yang wajib menunaikan zakat adalah laki-laki yang wajib menafkahinya yaitu ayah atau suami. Namun, bagi yang mampu dianjurkan membayar sendiri.

Baca: Berhaji dan Berumrah dengan Benar

Menurut Al-Ghazi dalam Fathul Qorib, syarat wajibnya zakat fitrah ada tiga, yaitu: Islam, terbenamnya matahari pada hari akhir bulan Ramadhan dan ada kelebihan makanan pokok untuk menunaikan zakat fitrah pada malam dan siangnya di hari raya Idul Fitri.

Zakat fitrah berhukuman wajib atas setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan, besar atau kecil, merdeka atau hamba, yang telah memenuhi syarat wajibnya. Dalam sebuah hadis, nabi Muhammad Saw. bersabda: “Islam didirikan atas lima (dasar): penyaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji, dan berpuasa di bulan Ramadlan”. (HR. Bukhori-Muslim). Selain itu Allah Swt. juga berfimran di dalam al-Quran: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. (QS. al-Baqarah:43)

Sedangkan penyerahan zakat fitrah bisa dilakukan dalam waktu-waktu tertentu: pertama, waktu boleh, yakni hari-hari awal bulan Ramadlan. Kedua, waktu wajib, yakni semenjak matahari terbenam pada akhir bulan Ramadlan sampai sebelum dilaksanakan shalat Idul Fitri. Ketiga, waktu sunnah, yakni sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Keempat, waktu makruh, yakni mulai setelah dilaksanakan shalat Idul Fitri sampai sebelum matahari terbenam. Kelima, waktu haram, yakni setelah terbenamnya matahari pada hari Idul Fitri.

Baca juga: Keutamaan (Puasa) Ramadhan dan Zakat Fitrah

Sedangkan rata-rata masyarakat membayar zakat fitrah yaitu sebelum shalat hari raya Idul Fitri. Pada waktu itu pula yang paling diutamakan. Namun, zakat fitrah boleh dilakukan sejak awal bulan Ramadhan menurut madzhab Syafi’i. Yang utama apabila menjelang sehari atau dua hari sebelum lebaran Idul Fitri. Pembagian zakat fitrah juga sama dengan pembagian zakat-zakat yang lainnya seperti harta benda, emas, dan perak. Yaitu diberikan kepada mereka yang berhak dan benar-benar membutuhkannya alias orang-orang fakir dan miskin yang lebih diutamakan.

Sebagaimana firman Allah Swt. di dalam al-Quran bahwa “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Taubah: 60).

Dari itulah, buku ini akan menjadi inspirasi agar penyaluran zakat itu benar-benar objektif, profesional dan mereka yang mampu diharapkan untuk menunaikan zakat. Lebih-lebih pada bulan Ramadhan ini, seluruh umat Islam berkewajiban menunaikan zakat fitrah sebagai penyuci jiwa yang sudah berlumuran dosa pada tahun-tahun sebelumnya dan untuk menggapai kemenangan setelah satu bulan penuh melaksanakan puasa dengan menahan lapar, haus, dan nafsu.

Baca lainnya: Mengenal Generasi Milenial

Buku ini berisi penggalan kisah-kisah penulis sebagai amil zakat di Dompet Dhuafa (DD). Amil zakat sesungguhnya satu-satunya profesi yang disebut dalam al-Quran. Namun sayang, profesi ini belum lama dikenal. Banyak orang yang menyangka bahwa amil zakat hanya bekerja di bulan Ramadhan saja. Padahal sebenarnya amli zakat bekerja setiap saat ketika ada donatur yang ingin menunaikan zakat hartanya. Dari kisah-kisah pengalaman dalam buku ini pembaca diajak untuk sadar dengan zakat yang dianjurkan oleh syariat Islam. Dari zakat itu pula sebenarnya jiwa kita akan menemukan kesucian yang sejati, harta yang hakiki, kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika kita sudah menunaikan zakat.

Judul               : Sejuta Nikmat Zakat Catatan Seorang Amil Zakat

Penulis             : Yuli Pujihardi

Penerbit           : Noura Books

Cetakan           : I, Juli 2013

Tebal               : 198 Halaman

ISBN               : 978-602-7816-88-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

4 Responses to Menggapai Kesucian Jiwa dengan Zakat

  1. Pingback: Bertaraweh dengan Nilai yang Sempurna | junaidikhab

  2. Pingback: Ramadan dan Kisah Pejabat yang Bebas dari Penjara | junaidikhab

  3. Pingback: Menguatkan Peran Guru Ngaji dan Islam Nusantara | junaidikhab

  4. Pingback: Islam, Zakat, dan Pemerataan Ekonomi | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: