Bertaraweh dengan Nilai yang Sempurna

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Shalat Taraweh Sejarah & Makna, Jumlah Raka’at, Detil Tatacara, Dalil-Dalil, Doa-Doa

Tidak semua orang mengetahui asal-usul shalat taraweh. Namun, meskipun tidak tahu asal-usulnya, masih banyak yang melaksanakannya. Ini merupakan bukti kecintaan umat Islam pada Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. Lebih dari itu tak lain juga merupakan bentuk dari antusiasme umat Islam untuk melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Salah satunya dengan melaksanakan shalat taraweh sebagaimana lumrah kita ketahui.

Akan tetapi, akan lebih mantap dan lebih sempurna jika tak hanya melaksanakan shalat taraweh saja. Namun, juga mengerti dan mengetahui asal-usul shalat taraweh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. beserta para sahabat pada masanya. Selain itu pula, ketika kita ditanya perihal shalat taraweh akan dengan mudah menjawabnya. Karena sangat ironis jika kita melaksanakan shalat taraweh, sementara  tidak tahu eksistensi taraweh itu sendiri.

Buku ini merupakan suatu upaya untuk menjelaskan perihal shalat taraweh. Dahulu kala, shalat malam di bulan Ramadhan (qiyamu Ramadhan) disebut taraweh. Itu karena orang-orang yang melakukannya berhenti sejenak untuk melepas lelah setiap selesai empat rakaat dengan dua taslim  (mengucap salam pada tiap-tiap dua rakaat), dan begitu seterusnya. Apabila dilakukan empat rakaat sekaligus, boleh dengan satu taslim dan satu tahiyat (tahiyat akhir saja) atau dengan dua tahiyat (tahiyat awal dan tahiyat akhir). Tetapi, yang lebih utama ialah dikerjakan dengan dua taslim (Hal. 26).

Baca: Berhaji dan Berumrah dengan Benar

Itu yang menjadi sebuah alasan shalat malam di bulan Ramadhan disebut taraweh. Tak lepas jauh dari makna taraweh itu sendiri yang berarti “banyak-banyak istirahat”. Sehingga istilah shalat taraweh menjadi warisan turun-temurun hingga umat Nabi Muhammad Saw. pada saat ini. Namun, dalam hal shalah sunnah yang dikerjakan pada malam bulan Ramadhan ada yang menyebutnya sebagai shalat taraweh. Tetapi, apabila dikerjakan pada selain malam Ramadhan, maka itu disebut shalat tahajjud. Akan tetapi dalam buku ini ditegaskan antara shalat tahaajjud dan shalat taraweh berbeda.

Tuan A. Hassan (tokoh pesantren PERSIS dari Bangil) menulis dalam bukunya (Pengajaran Shalat /hal. 301/) bahwa sembahyang sunnah malam, kalau dikerjakan di malam bulan puasa dinamakan shalat taraweh, dan kalau dikerjakan di lain-lain malam dinamakan shalat tahajjud.

Baca juga: Menggapai Kesucian Jiwa dengan Zakat

Jika dirunut dari anjuran tentang shalat, maka pendapat ini kurang tepat. Sebab anjuran untuk melakukan shalat tahajjud jauh lebih awal daripada perintah melaksanakan shalat taraweh. Pertama, anjuran shalat tahajjud terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Kedua, hanya dalam al-Sunnah saja (khusus bulan Ramadhan). Sedangkan penamaannya dengan shalat taraweh menurut sejumlah riwayat bermula sejak zaman kekhalifahan amirul mukminin Umar bin Khatab /581-644/ (Hal. 27).

Sebutan taraweh untuk menyatakan shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dikenal pada zaman Rasulullah Muhammad Saw. Ketika itu, shalat malam di bulan Ramadhan lebih populer dengan istilah Qiyamu-Ramadhan. Hal ini berdasarkan beberapa hadits yang menyatakan hal tersebut.

Baca lainnya: Politasasi Bahasa

Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. menggemarkan Qiyamu-Ramadhan (kepada para sahabatnya) tanpa menyuruh mereka dengan keras. Beliau bersabda: “Barang siapa melakukan shalat di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perenungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Muslim).

Perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat dalam shalat taraweh (baik minimal maupun maksimal) bukanlah mengenai ajaran pokok (ushul), melainkan mengenai masalah cabang. Ada banyak memang pendapat (riwayat) yang berkenaan dengan hal tersebut. Namun semuanya tak perlu diperdebatkan. Karena baginda Muhammad Saw. tidak pernah menentukan batas rakaatnya dengan kongkret (Hal. 63).

Hal tersebut ada yang menyebutkan taraweh dilaksnakan dengan 20 rakaat lalu diikuti shalat witir 3 rakaat, ini di Indonesia dilakukan mayoritas oleh kalangan NU. Ada pula yang melaksanakan taraweh 8 rakaat lalu diikuti shalat witir 3 rakaat, ini di Indonesia dilakukan mayoritas oleh kalangan Muhammadiyah. Namun, dalam halnya shalat witir, setelah berdiri dari rukuk dalam rakaat ketiga (terakhir) pada shalat witir, disunnahkan membaca doa qunut. Namun hal ini khusus apabila malam bulan Ramadhan sudah mulai menginjak pertengahan bulan (malam ke-16).

Buku ini merupakan buah karya yang bisa menjadi tuntunan bagi pembaca untuk memahami secara dalam mengenai salah taraweh yang dikerjakan oleh umat Islam saat bulan Ramadhan. Sajiannya pun disuguhkan dengan begitu gamblang untuk dipahami dan sangat menarik. Dalam buku ini kita tidak akan terjebak oleh keruwetan dalili-dalil, secara sederhana buku ini dapat memberikan wacana terkait ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam shalat taraweh sebagai ibadah tahunan ini.

Judul               : Shalat Taraweh Sejarah & Makna, Jumlah Raka’at, Detil Tatacara, Dalil-Dalil, Doa-Doa

Penulis             : Drs. A. Kadir, M.H

Penerbit           : Pustaka Pesantren

Cetakan           : V, 2017

Tebal               : 110 halaman: 12 x 18 cm

ISBN               : 978-979-98452-5-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Buku asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

One Response to Bertaraweh dengan Nilai yang Sempurna

  1. Pingback: Ramadan dan Kisah Pejabat yang Bebas dari Penjara | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: