Lipstik

DesaMondial: Minggu, 14 Oktober 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Lipstik (Junaidi Khab)

Suata senja yang tak ingin dilewatkan keindahannya. Matahari pun berangsur-angrsur tenggelam, saat aku berjalan-jalan untuk kencan bersama pacar ke sebuah tempat dipertemukan dengan sebuah keganjilan. Sebenarnya, bukan keganjilan, soalnya itu dialami oleh pacarku sendiri. Tepatnya, sesuatu yang tak biasa. Ya, sama saja itu beda ungkapan, tapi sama-sama sebagai sesuatu yang ganjil bagiku, karena hanya pada waktu itu aku menjumpainya pertama kali.

Aku terperanjat saat hidung hampir menyentuh pipi pada lekuk hidungnya. Aku segera menarik wajah dan menjauh dari wajahnya lalu aku memerhatikannya lekat-lekat. Ada pesona dan rona yang menggetarkan dalam diriku.

“Kenapa sayang? Kok gak jadi menciumku?” tanyanya seakan merasa kecewa.

“Itu tuh,” kataku tampak merasa aneh juga. “Coba kamu senyum sedikit.”

Aku memintanya agar tersenyum. Dia pun mengikuti permintaanku. Seulas senyum merekah dari bibirnya, hingga warna giginya kelihatan. Lalu aku tertawa dengan menahannya. Lebih tepat, aku cekikikan.

“Senyumku lucu ya, sayang?”

“Bukan. Bukan senyummu yang lucu,” kataku mengambang yang membuatnya bimbang.

“Terus, apa?”

“Gigimu tuh, merah macam berdarah blepotan seperti drakula!”

Dia segera mencari-cari kaca di tasnya. Bukan kaca beling, tapi cermin. Setelah ditemukan cermin itu, dia segera nyengir menampakkan gigi pada dirinya sendiri. Kening di wajahnya tampak mengkerut. Dia tak melirik sedikit pun padaku. Matanya fokus pada bayangan gigi dalam cermin.

Baca: Sebuah Lukisan

“Gimana?” tanyaku sedikit meledek.

Pelan-pelan, dia meletakkan kembali kaca itu ke dalam tasnya. Tiba-tiba dia menyambar tubuhku dan mencium bibirku cukup lama. Aku suka sekali sebenarnya. Bekas lipstik sedikit pudar dalam benakku akibat gejolak yang meledak-ledak dalam dada. Aku segera harus cari tisu untuk menghapus bekas bibirnya yang bercampur lipstik. Aku mendapatkan tisu dari pacarku sendiri dalam tasnya. Kuhapus bekas lipstik dari bibirnya dengan debar jantung yang masih mengentak dalam tubuh.

Lalu, pacarku pergi ke sebuah toilet tanpa mengajakku. Tapi, aku tetap mengikutinya dengan jarak waktu sekitar lima menit. Sekalian saja mau cuci bibir dari bercak merah bekas lipstik dari bibirnya. Aku pikir begitu. Tak baik terlihat orang bekas lipstik dari bibir seorang perempuan.

Ketika aku sampai di toilet, bibir pacarku sudah bersih dari bercak merah. Dia menungguku dengam berdiri di sampingku dekat wastafel tempat aku mencuci bibir dari bekas bibir yang bercampur bercak merah lipstik di bibirnya.

“Sayang, lipstikin aku, dong,” pintanya dengan merengek dan manja.

“Ah, manja amat sih kamu, sayang!”

Aku mencoba tak menghiraukannya. Dia berdiri dalam keadaan cemberut, seperti kesal karena keinginannya tak dituruti. Lalu, aku memandangnya dan kulempar seutas senyum padanya. Tapi, dia membelakangiku.

“Sini, mana lipsitiknya?”

Aku berkencan dengannya baru hari ini setelah lama menahan gejolak dalam dada. Sebelumnya, hanya pendekatan saja meski beberapa kali berpelukan saat jumpa. Dan saat ini, ketika aku akan memoles lipstik di bibirnya, dia memejamkan mata.

Tiba-tiba, dia menarik tubuhku sedikit merapat ke tubuhnya. Detak jantungku semakin cepat saat perutku menyentuh perutnya yang seperti tersengal. Aliran darahku semakin cepat. Mungkin dia merasakan sesuatu dari bagian tubuhku. Tapi, dia hanya diam saja. Aku tak banyak bergerak, khawatir disangka mau nakal.

Tapi, dia menggerak-gerakkan kepalanya dengan cara minggir ke kanan dan ke kiri. Aku pun mengikuti gerakan kepalanya agar bisa fokus untuk memoleskan lipstik ke bibirnya. Tanpa terasa, saat aku mengikuti gerak kepalanya, sisi bagian perutku pun ikut tergerak. Itu menambah sensasi rasa nyaman yang sejak tadi sengaja kudiamkan. Aku pikir, dia sengaja menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri agar sesuatu yang lain juga begerak dan menghadirkan rasa nyaman di sana.

“Sudah,” kataku sedikit menekan perutmya dengan perutku saat akan melepas tubuhku dari pelukannya. Di sana, ada rasa nyaman yang berbeda lagi. Beda pokoknya.

“Beneran sudah, sayang?”

“Iya, beneran.”

“Belum kayaknya.”

Lalu aku mencium pipinya. Kurasakan nafasnya sangat hangat saat beradu dengan sebelah telinga dan menerpa wajahku. Detak jantungku semakin tak menentu. Dia tersenyum, lalu aku teringat dengan giginya yang penuh bercak merah tadi yang kini sudah bersih dan lebih membuatku bergairah ingin berpagut bibir lagi.

Baca juga: Mencari Kesembuhan

“Sayang, sini,” kataku mengajaknya ke sebuah tempat duduk di area taman.

“Gincumu masih tebal. Biar gak blepotan dan membercaki gigimu, sini kukasi satu cara yang akan membuatmu tambah cantik dan memesona.”

Dia mengikuti arahanku. Aku segera mencuci tangan kanan dan kiri. Lalu, aku kembali ke hadapannya. Dia tetap memerhatikanku lekat-lekat. Mungkin dia berharap aku melumat bibirnya. Entahlah. Itu hanya pikiranku saja. Aku tak tahu secara pasti isi kepala dan getaran dalam hatinya.

“Coba senyum,” pintaku. “Lipstikmu belum mengena gigimu. Coba sedikit menganga.”

Dia pun mengikuti arahanku dengan manja. Mulutnya dibuka sedikit melebar. Lalu, aku memasukkan jari telunjuk tangan kananku ke mulutnya dan memintanya agar mengemut dengan rapat. Kemudian, aku sedikit menarik jari telunjuk dengan perlahan dan kurasakan hangat nafasnya yang memburu dan menerpa kulit-kulit dan bulu pada punggung tanganku. Sekiranya pas bibirnya berada di ujung telunjuk, aku meminta agar mulutnya dibuka. Dia mengikuti perintahku tanpa bermanja.

“Begitu caranya saat kamu selesai memakai lipstik agar lipstikmu tak mencemari gigimu seperti tadi itu.”

Aku perlihatkan jari telunjukku padanya. Ada bekas merah berbentuk kerutan bibir yang sedikit memanjang. Dia tersenyum dan sesekali mengadu bibir atas dengan bibir bawah di mulutnya. Mungkin untuk mengencangkan lipstiknya agar semakin menempel. Aku pikir, kadang ada cewek-cewek yang kuanggap seksi dan memakai high-heel, tapi tak tahu cara memakai lipstik agar tampak lebih memesona. Sejak saat itu, bibir pacarku selalu menyejukkan dipandang menggemaskan dalam pikiran.

Yogyakarta, 25 Februari 2018

* Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

Diarsipkan oleh Arsip Prosa Madura_APM. Gambar ilustrasi diambil dari APM atau http://www.pxhere.com.

19 Responses to Lipstik

  1. Pingback: Ramadan dan Kisah Pejabat yang Bebas dari Penjara | junaidikhab

  2. Pingback: Baju Ayah | junaidikhab

  3. Pingback: Sehelai Kerudung | junaidikhab

  4. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

  5. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  6. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  7. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

  8. Pingback: Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu | junaidikhab

  9. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

  10. Pingback: Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia | junaidikhab

  11. Pingback: Menata Kehidupan Rumahtangga | junaidikhab

  12. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  13. Pingback: Organisasi dan Tujuan Pergerakan Pemuda | junaidikhab

  14. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  15. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  16. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  17. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  18. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  19. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: