Pesan Damai Beragama dari Rumi

Koran Sindo: Minggu, 4 November 2018

Dok. Pribadi Junaidi Khab (Mencari Rumi)

Agama hadir sebagai media bagi manusia dalam mengarungi dua dimensi kehidupan: raga (dunia) dan batin (akhirat). Tetapi, agama lebih menekankan pada kebatinan atau dunia spirtualitas dengan ajaran-ajaran tentang beribadah dalam arti universal. Dengan demikian, segala bentuk yang melekat sebagai kebutuhan raga akan hadir ketika kebutuhan batin terpenuhi. Begitulah hakikat kasih sayang dan cinta yang melekat dalam setiap ajaran agama. Agama bukan tabir untuk menabur cinta sesama manusia, tetapi agama merupakan estafet dan prinsip hidup manusia menuju kebahagiaan dan kedamaian.

Keberhasilan Roger Housden dalam mengurai makna cinta dan beragama dalam buku ini cukup memantik kesadaran kita bersama sebagai masyarakat yang berkeyakinan pada satu Tuhan. Dia mengisahkan tentang Georgiou yang berasal dari Florence, Italia (hlm. 4). Dia merupakan sosok seniman – pelukis – beragama Kristen Ortodoks yang mendapatkan getaran cahaya kebenaran cinta yang merasuk ke dalam jiwanya. Satu hal yang mungkin mengagetkan masyarakat pembaca, getaran cahaya cinta itu lahir dari seorang sufi beragama Islam.

Baca: Memahami Perasaan (Cinta)

Hal semacam itu yang menambah wawasan pembaca dalam menyikapi setiap perbedaan, khususnya dalam beragama, dimana bila kita menemukan cahaya yang menurut kita benar, kita harus mengakuinya meski tetap merasa wajib memertahankan keyakinan yang kita anut.

Hal itu ditemukan dari selarik puisi Rumi, Georgeou merasa mendapat getaran cinta yang dahsyat (hlm. 23). Keindahan dan makna yang tersirat dalam syair Rumi – Jalaluddin Rumi – membuat menggigil jiwanya. Setelah dia mendapat sebuah buku dan membacanya seorang diri, kata-kata Rumi dalam syairnya menyentuh kalbunya yang terdalam, mengguriskan kelembutan yang melampaui semua keresahannya, melampaui seluruh gelora dan hasratnya tentang kehidupan. Saat itu juga, air matanya mulai menetes penuh gairah cinta.

Syair dan Cinta-Kasih

Penyair itu – Rumi – sebagai orang asing dengan beda keyakinan telah mampu membasuh hati Georgiou dengan penuh kasih. Memang, ilmuwan muslim mengakui kehebatan karya-karya Rumi bagi kehidupan manusia. Meskipun karya Rumi berupa syair, tetapi syair-syair itu penuh makna dan menelusup pada tiap pembaca yang hatinya jernih sebagai pengikat cinta dan kasih sayang di antara sesama manusia serta Tuhannya.

Sejak saat itu, Georgiou yang beragama Kristen berinisiatif untuk melakukan perjalanan ke Konya, Turki (hlm. 25). Namun, sebelum keberangkatannya, dia menemui Andros, tokoh Kristen yang menginspirasinya tentang syair Rumi yang telah mampu menggerakkan hatinya menuju cahaya kebenaran cinta. Seperti dikatakan oleh Andros, bahwa Georgiou harus mengikuti suara hatinya meski menuju pada dunia di luar agamanya sendiri. Karena suara hati merupakan suatu anugerah bagi manusia.

Sebagai orang yang beragama Kristen, Georgiou tak lupa untuk merkunjung ke beberapa kastil yang dilewatinya di tengah perjalanan menuju Konya, Turki. Hingga dia berhasil melewati segala macam perjumpaan dengan keganjilan-keganjilan yang kelak ketika tiba di Konya memiliki relasi yang cukup akurat. Dari perjalanannya menuju makam Jalaluddin Rumi itu, dia semakin sadar tentang hakikat hidup manusia. Hingga ketika bertemu dengan sosok yang serupa dalam mimpinya di Konya, Georgiou semakin mantap tentang pilihan hidupnya tentang kebermaknaan hidup dan hakikat cinta yang terpatri dalam hati manusia dengan jalan agama.

Baca juga: Melawan Absurditas Masyarakat Modern

Buku ini secara ilustratif mengisahkan tentang kesamaan makna hidup yang dialami oleh seorang Kristen Ortodoks tentang hakikat cahaya cinta dan kebermaknaan dalam hidup dengan pemikiran Rumi yang beragama Islam. Namun, meskipun tampak berbenturan, seorang Kristen Ortodoks memburu kebermaknaan cinta dalam hidup Rumi yang beragama Islam. Hal itu tidak mengurangi arti keyakinan atau keberimanan seseorang. Bahkan, buku ini akan memantapkan tentang keyakinan beragama yang kita anut tentang membangun kedamaian hidup dengan balutan cinta dan kasih sayang.

Bagaimana kegamangan hidup dan keyakinan Georgiou yang beragama Kristen Ortodoks saat menemukan getaran makna cinta dan kedamaian di dalam tubuh Islam? Secara komprehensif pembaca akan memahaminya dengan baik ketika terus mengikuti kisah perjalanan yang disajikan oleh Roger Housden tentang pencarian Rumi yang dilakukan oleh Georgiou. Buku ini memang bersifat kontra-produktif tentang kisah dua agama: Kristen dan Islam. Namun, keluwesan kisah-kisahnya mampu meretas kesadaran beragama dan segala batas yang selama ini dipandang sebelah mata akibat kecenderungan fanatisme dalam beragama. Semoga dan selamat membaca!

Judul               : Mencari Rumi

Penulis             : Roger Housden

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : I, 2018

Tebal               : 160 hlm.; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-6651-55-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

5 Responses to Pesan Damai Beragama dari Rumi

  1. Pingback: Menyoal Hisab dan Rukyat Bulan Ramadan | junaidikhab

  2. Pingback: Bebas dari Penjara Berkah Doa dan Puasa Ramadan | junaidikhab

  3. Pingback: Memotret Peristiwa Sepanjang Jalan Raya | junaidikhab

  4. Pingback: Keutamaan (Puasa) Ramadhan dan Zakat Fitrah | junaidikhab

  5. Pingback: Agama, Moral, dan Politik | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: