Melawan Absurditas Masyarakat Modern

Lelaki Ompol Dok. Pribadi Junaidi Khab

Kehadiran Lelaki Ompol karya Encep Abdullah ini akan mencoba untuk menjadikan segala yang abstrak dalam kehidupan sehari-hari menjadi realita yang sesungguhnya. Secara riil, kehidupan ini memang tampak lahir dari sebuah kekosongan, namun substansinya ia datang dari segala yang ada. Dalam buku ini, Encep menarik seluruh kisah yang berada di luar nalar manusia hingga seakan benar-benar lahir. Berbagai mitos kehidupan dijadikan sebagai jalannya menuju kehidupan yang nyata.

Melalui nalar kesusastraannya, Encep mengisahkan dunia Bandrong (hlm. 1). Bandrong merupakan bahasa khas Jawa Barat yang memiliki arti sebuah senjata atau nama jenis ikan. Tetapi, kisah bandrong yang diejawantahkan oleh Encep ke dalam dunia fiksi ini menyimpan banyak makna. Sebuah kemenangan tidak bisa diukur dengan keperkasaan atau kekuasaan. Tetapi, kemenangan hakikatnya sebuah cara pikir yang bijak dalam menentukan jalan hidup agar tidak melahirkan kemerosotan bersosial.

Baca: Memahami Perasaan (Cinta)

Kisah tentang bandrong ini, sekilas memang tampak sebagai sesuatu yang mustahil, yaitu peperangan melawan manusia, saudara sendiri, dan diri sendiri demi mengejar hasrat dan keinginan semata. Pertikaian dan pembunuhan menjadi ciri khas manusia untuk memenuhi hasratnya. Begitulah dalam kisah bandrong, tiga orang lelaki yang ingin mendapatkan anak perempuan sultan harus melakukan pembunuhan. Persaingan hidup tak ubahnya seperti rimba yang penuh kekejaman dan kebengisan.

Surealisme vs Realisme

Kisah-kisah cerita pendek yang dimakzulkan dalam buku ini merupakan aliran sureal dengan sajian peristiwa di luar nalar manusia. Hal tersebut memang lumrah dalam aliran kesusastraan. Namun, abnormal dalam kisah-kisah sureal tentu bukan tidak memiliki makna bagi kehidupan manusia yang nyata. Bahkan, dari kisah-kisah beraliran surealisme Encep ini, kehidupan riil manusia akan ditemukan. Kadang, manusia sangat memuja modernitas, namun dalam perilaku hidupnya masih dalam kungkungan absurditas.

Dalam hal ini, cerita berjudul Lelaki Ompol yang menjadi latar sampul buku ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia masih ambigu (hlm. 20). Sifat rasional dan ambigu manusia ibarat dua sisi mata uang yang berlainan, namun tetap menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dalam kisah ini, air kencing (ompol) bayi perempuan memiliki khasiat tersendiri, seperti keperkasaan dan awet muda. Kisahnya memang di luar nalar akal sehat, namun realitanya tetap menjadi jalan pintas bagi manusia modern seperti dikisahkan di dalamnya.

Cerita yang berjudul Lelaki Ompol menjadi bagian dari puncak gunung es dari sembilan kisah lainnya dalam buku ini. Dengan kekuatan imaji dan pilihan diksi yang tepat, Encep mampu membawa pembaca ke ranah absurditas yang sangat tinggi. Hal ini tak jauh berbeda dengan manusia modern yang tampak rasional tetapi meinginkan sesuatu yang instan dan hanya penuh imajinasi. Itu bagian dari cermin kemajuan di tengah kekerdilan dalam berpikir, sehingga jalan yang di luar nalar pun dilakukan. Karena manusia modern ingin cepat kaya dan segala keinginannya mudah tercapai, lahirlah metode instan di luar nalar sehat. Seperti perdukunan modern dan kaya mendadak dengan korupsi yang tak jauh berbeda dengan kisah Lelaki Ompol.

Baca juga: Menerjemah Cinta dan Kasih Sayang Ibu

Peristiwa semacam ini menjadi saksi dan bukti, bahwa modernitas dan kemajuan hidup masih diselubungi oleh sesuatu yang abstrak dan semu. Encep ingin menguak tabir tersebut agar kita tidak disesatkan oleh naluri yang kadang buta. Memang sulit untuk meniadakan segala yang bersifat mistis dari kehidupan manusia, bahkan teori realisme seakan tak mampu menumbangkan absurditas tersebut meskipun telah dibangun dengan opini publik tentang modernisasi.

Contoh yang cukup jelas, yaitu kasus korupsi yang menjadi darah daging dalam diri manusia. Encep menggambarkannya tentang hal tersebut dalam Alamanda (hlm. 55). Sifat korup merupakan cermin diri manusia yang tak mau lepas dari hal-hal yang berbau instan dan abstrak meski dalam kehidupan sehari-hari mereka melakukan gerakan realisme. Nietzsche pernah mengungkapkan bahwa orang yang bertarung dengan monster, harus melihat dirinya sendiri agar tidak menjadi monster. Begitu kiranya manusia modern yang memerangi segala sesuatu yang mistis, tapi realitanya mereka menjadi mistis dan melakukan hal-hal yang bersifat semu.

Kumpulan cerpen Encep ini ingin membantu masyarakat pembaca untuk menyadari tentang hakikat hidup manusia dan tujuannya dalam peperangan melawan absurditas. Disadari atau tidak, masyarakat yang memuja modernitas yang sangat riil ini masih terkurung oleh seusuatu yang semu dalam dirinya. Dengan kata lain, karya sastra – cerita fiksi – merupkan bagian dari cara penulis dalam merealisasikan segala yang semu menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan manusia. Begitu kiranya peran karya sastra seperti yang ditulis oleh Encep dalam buku ini. Selamat membaca!

Judul               : Lelaki Ompol

Penulis             : Encep Abdullah

Penerbit           : Yayasan Cahaya Bintang Kecil

Cetakan           : I, Juli 2017

Tebal               : 14 cm x 20 cm, xxiv + 110 hlm.

ISBN               : 978-602-61089-1-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Editor Penerbit Sulur Yogyakarta.

Advertisements

5 Responses to Melawan Absurditas Masyarakat Modern

  1. Pingback: Pesan Damai Beragama dari Rumi | junaidikhab

  2. Pingback: Menyoal Hisab dan Rukyat Bulan Ramadan | junaidikhab

  3. Pingback: Bebas dari Penjara Berkah Doa dan Puasa Ramadan | junaidikhab

  4. Pingback: Memotret Peristiwa Sepanjang Jalan Raya | junaidikhab

  5. Pingback: Bekal Melindungi Anak dari Pelecehan | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: