Politasasi Bahasa

Lampung Post: Jumat, 7 September 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Pirbadi Junaidi Khab

Istilah syar’i dan syariah sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dalam pandangan umum, dua istilah tersebut sudah memenuhi syarat baik dan benar bagi tatanan kehidupan masyarakat. Sehingga, kita kadang lebih terpesona oleh dua istilah tersebut. Padahal, tidak semua yang berlabel syar’i atau syariah benar-benar mencerminkan seperti substansi dua istilah tersebut.

Saat ini, sudah banyak nama-nama bank yang memakai istilah syariah: BRI Syariah, BNI Syariah, Mandiri Syariah, BCA Syariah, dan beberapa bank lainnya. Sebagai bank yang berlabel syariah tentu dalam beberapa motto atau slogannya mengutamakan prinsip substansi syariah. Bahkan, bukan hanya bank yang menggunakan istilah tersebut. Model pakain pun tidak kalah saing, seperti baju yang berlabel syar’i.

Kita tidak bisa memungkiri hal tersebut, karena masyarakat sudah menganggap label syar’i atau syariah sebagai patokan baik dalam pandangan umum. Tetapi, dalam praktiknya kita bisa menilai sendiri. Di sini, ada permainan bahasa, politisasi bahasa di sektor material. Sudah tentu, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, masyarakatnya akan tergiur untuk menjadi nasabah bank yang berlabel syariah atau membeli model pakain yang berlabel syar’i.

Baca: Menjaga Identitas Bahasa

Padahal, label syariah pada sebuah perbankan tidak menjamin sistem syariah sebagaimana dalam hukum Islam. Sebagaimana pengalaman penulis saat merekomendasikan – untuk melakukan penelitian – seorang mahasiswa di suatu bank syariah (tidak perlu disebutkan), pihak bank tersebut tidak bisa menerimanya. Sementara itu, penelitian tersebut ditujukan untuk melihat sistem bank tersebut yang menggunakan label syariah. Kita bisa berekspektasi atas penolakan tersebut dari pihak bank, bisa jadi hanya label yang dijadikan alat bisnis sementara praktiknya nihil.

Hal itu semakin menambah kecurigaan bagi diri penulis, juga tentunya masyarakat secara luas. Mungkin pihak bank khawatir terbongkar praktik layanannya, yang hanya memanfaatkan label syariah guna mendapatkan nasabah lebih banyak. Juga dalam persoalan model pakaian – yang katanya – syar’i tidak menutup kemungkinan hanya untuk menarik konsumen agar membelinya.

Dalam Kamus Ilmiah Populer, kata syariah ditulis sariat yang memiliki makna hakikat, ajaran pokok, atau sariah (Pius dan Dahlan, 2001:702). Dengan kata lain, syariah atau sariah merupakan sebuah ajaran yang tidak mengikat, kecuali sudah ditambah dengan istilah lain seperti syariah Islam. Tetapi secara umum, istilah syariah atau sariah hanya dipautkan dengan ajaran pokok dalam agama Islam.

Label syar’i atau syariah dalam suatu perusahaan atau bisnis, bisa kita sebut sebagai bentuk persuasi untuk melariskan sebuah usaha yang sedang dijalankan. Padahal, kita harus memahami dengan baik dan benar tentang hakikat syar’i atau syariah yang berorientasi dalam lingkup ajaran agama Islam. Misalkan, pakaian syar’i semacam jubah untuk perempuan. Dalam aturan (syariah) Islam, sesuatu – khususnya pakaian – disebut mencukupi syara’ atau syar’i jika menutup aurat dan tidak harus sama dengan masyarakat budaya Timur Tengah.

Dengan begitu, kita sebagai masyarakat yang memiliki pandangan luas bisa membedakan antara syar’i dan tidak. Tetapi, dalam dunia fashion, model pakaian syar’i diidentikkan dengan pakain ciri khas Arab Saudi dan negara lainnya, di Timur Tengah, yaitu model pakaian jubah panjang dan kerudung lebar. Padahal, seperti yang dijelaskan sebelumnya, aturan (syara’) dalam konteks keislaman, pakaian itu cukup jika sudah menutupi aurat, tidak harus bermodel kearab-araban.

Baca juga: Cerita Dewasa

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa bahasa memiliki pengaruh yang kuat untuk mempersuasi manusia. Istilah syar’i bukan hanya identik dengan kehidupan orang Arab. Begitu juga istilah syariah untuk perbankan bukan semata slogan ajaran Islam yang menjadi pemanis. Tetapi, kita harus melihat praktik di dalamnya, benar-benar mengikuti tata aturan yang diajarkan dalam Islam atau tidak?

Sofyan (dalam Abdullah Amrin,  2012:xiii) menyatakan bahwa perkembangan industri keuangan syariah di level nasional dan internasional sungguh menakjubkan bahkan di luar perkiraan banyak orang. Perkembangan yang cepat itu mungkin didorong juga oleh krisis yang dialami industri keuangan kapitalis, baik yang terjadi di Amerika ataupun Eropa.

Seperti kita ketahui, di Indonesia, karena Islam sebagai agama masyarakat secara mayoritas, telah banyak dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingannya masing-masing. Mulai dari persoalan politik, budaya, bisnis, dan hingga perbankan. Islam menjadi tunggangan kepentingan kelompok tertentu, karena massa dan penganut Islam lebih dominan. Apakah produsen pakaian syar’i dan bank syariah menipu? Untuk mengetahui hal itu, kita harus belajar tentang hakikat syart’i dan syariah dalam perspektif Islam, bukan perpektif budaya atau negara tertentu. Selain itu, kita harus melihat praktik yang dijalankan, sesuai dengan norma-norma Islam atau tidak.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Konsentrasi Studi Sosiolinguistik, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

18 Responses to Politasasi Bahasa

  1. Pingback: Bertaraweh dengan Nilai yang Sempurna | junaidikhab

  2. Pingback: Menguliti Kemunafikan dan Kefasikan Manusia | junaidikhab

  3. Pingback: Motivasi | junaidikhab

  4. Pingback: Membincang Olahraga dan Dunia Kepenulisan | junaidikhab

  5. Pingback: Tauhid Kemanusiaan | junaidikhab

  6. Pingback: Mengajarkan Kebaikan dan Kebijakan pada Anak | junaidikhab

  7. Pingback: Meraih Beasiswa ke Luar Negeri | junaidikhab

  8. Pingback: Sastra dan Persatuan Suku Masyarakat Melayu | junaidikhab

  9. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

  10. Pingback: Bencana Alam (Aceh) dan Oportunisme Manusia | junaidikhab

  11. Pingback: Berbuat Baik sebagai Bekal Kebahagiaan | junaidikhab

  12. Pingback: Organisasi dan Tujuan Pergerakan Pemuda | junaidikhab

  13. Pingback: Meneladani Kehidupan (Keluarga) Para Nabi | junaidikhab

  14. Pingback: Bob Dylan, Alice Munro, dan Karya Peraih Nobel | junaidikhab

  15. Pingback: Memahami Cinta dan Cara Mencintai | junaidikhab

  16. Pingback: Bangsa Asing dan Eksotisme Masyarakat Nias | junaidikhab

  17. Pingback: Pahlawan yang Peduli pada Rakyat Kecil | junaidikhab

  18. Pingback: Menemukan dan Memutus Benang Merah Terorisme | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: