Membincang Sastra dan Agama

Duta Masyarakat: Senin, 12 Juni 2017

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab (Dok. Pribadi)

Dunia literasi selalu mengalami perkembangan dan kemajuan. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dengan realita sosial yang juga mengalami perkembangan. Dalam konteksnya, lingkungan sosial sebagai penggerak perkembangan tidak bisa dipisahkan. Hal tersebut berlangsung melalui media bahasa yang digunakan dalam kehidupan masyarakat. Sebenarnya, penggunaan bahasa lisan tidak cukup tanpa dibarengi dengan bahasa tulisan. Dalam hal ini, literasi memiliki peran yang cukup besar dalam memajukan masyarakat di berbagai aspek kehidupan.

Seiring zaman berkembang, segala sesuatu yang dianggap kuno kadang terabaikan begitu saja. Bahkan hingga dilupakan seakan tak pernah hadir di tengah-tengah kehidupan. Padahal, ada banyak peristiwa dan kejadian yang memberikan kenangan sebagai media introspeksi diri agar lebih baik. Karena maju belum tentu baik. Jadi, ada kesinambungan dalam persoalan maju dan baik. Demi menjaga dan melestarikan segala peristiwa yang berlalu dan yang sedang akan dihadapi kehidupan sehari-hari, kita harus mampu merekamnya dalam pikiran dengan kuat. Namun, hal itu percuma karena pikiran manusia memiliki keterbatasan untuk mengingat berbagai hal sebagai pelajaran hidup dari peristiwa-peristiwa yang dilihat, didengar, atau dialami sendiri.

Namun, ingatan manusia yang terbatas tidak akan mampu memelihara segala apa yang dialami melalui panca-inderanya. Manusia pada zaman dahulu menggunakan batu, kayu, tulang, dan daun-daun yang diawetkan sebagai media untuk melanggengkan segala peristiwa yang pernah dilaluinya. Sehingga, orang lain bisa merasakan dan mengambil hikmah di balik peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan, bukan hanya orang pada masanya yang bisa menggali nilai-nilai yang tersirat dari media yang dijadikan sebagai pengingat segala peristiwa, tetapi manusia modern pada saat ini pun bisa mengetahuinya.

Baca: Imam Nahrawi, Sepakbola, dan Spirit Nasionalisme

Bahasa sebagai simbol alat komunikasi manusia memiliki peran penting bagi perkembangan dan kemajuan dunia. Kita harus menyadari bahwa bahasa sebagai simbol komunikasi telah memberikan banyak sumbangsih bagi kehidupan umat manusia. Artefak-artefak manusia pada zaman dahulu merupakan bagian dari bahasa yang mereka gunakan dengan nilai-nilai filosofis-eksostis yang puitis.

Persoalan bahasa sebagai simbol komunikasi umat manusia tidak hanya mengacu pada ucapan lisan, tapi berbagai hal yang menjadi media keberlangsungan komunikasi itu adalah bahasa. Secara pasti, bahasa bukan persoalan suara lisan, tapi bisa berupa tindakan (isyarat), dan kode-kode lainnya yang bisa menghubungkan manusia dengan manusia lain atau objek tertentu. Namun, kadang kekuatan bahasa terlupakan karena kita terlalu sibuk dengan aktivitas hidup atau kita memang mengabaikan karena secara tersurat bahasa tidak memberikan materi. Padahal, bahasa menjadi sumber dari kehidupan manusia terlebih dalam mengingat berbagai perjalanan hidup sebagai bekal menemukan inspirasi dan membentuk jiwa agar melakukan introspeksi.

Narasi Puisi

Kita beranggapan bahwa puisi itu hanya permainan kata-kata, tidak lebih dari itu. Perasaan sinis semacam ini kadang menjadi hantu bagi penyuka puisi (penyair). Tapi, mereka tak pernah berhenti untuk memproduksi puisi hingga lahir jadi dewasa. Pada hakikatnya, puisi merupakan ladang para penyair dan masyarakat secara luas untuk mengingat lupa atas suatu peristiwa atau pengalaman hidup agar tetap bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bukan hanya penyair yang berhak membuat puisi, semua kalangan memiliki hak yang sama dalam mengabadikan segala momen menggunakan media puisi.

Sebagai narasi, puisi menceritakan segala pengalaman hidup. Pemaknaannya pun bebas, menyesuaikan dengan pribadi pembaca. Akan tetapi, puisi akan lebih bermakna dan memberikan nilai-nilai moral bagi kehidupan umat manusia ketika penulisnya menyampaikan makna yang tersirat di dalamnya.

Baca juga: Peran Masyarakat dalam Memberantas Korupsi

Puisi sebagai pengingat lupa sangat berperan aktif dalam memberikan suatu pandangan pribadi bagi orang lain tentang suatu hal yang dirasakan oleh panca-indera penulis. Misalkan karya Gratiagusti Chananya Rompas – Kota Ini Kembang Api – (Gramedia, September 2016) yang menceritakan perihal kehidupan di kota menurut pandagannya susai dengan fakta, namun dijadikan bait-bait bebas. Dari sudut pandang Rompas, kota bukan hanya tempat peradaban mengalir bagai kehidupan. Tapi, kota menjadi ikon segala bentuk kehidupan yang berbeda dengan desa: kekerasan dan kejahatan tumbuh subur serta sifat sosial sulit ditemukan. Segalanya dipandang dari sudut materi oleh masing-masing individu, meskipun ada masyarakat kota yang sosialnya tinggi itu hanya bisa dihitung dengan jari tangan.

Selain itu, karya Akhmad Taufiq – Mengulum Kisah dalam Tubuh yang Terjarah – (Interlude, April 2016) mengisahkan tentang perjalanan hidup yang dijumpai oleh penulis. Ada banyak peristiwa yang dialami oleh Taufiq dalam perjalanan hidupnya yang direkam melalui untaian bait-bait puisinya. Dari persoalan pribadi hingga sosial ditulis dengan menggunakan diksi yang tepat dan enak dibaca. Dengan puisi-puisi tersebut, dia akan kembali ingat segala kejadian yang dilewati. Begitu juga pembaca akan teringat pada suatu peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Taufiq.

Bahkan, sebuah antologi puisi dari balik penjara pun mampu mencerminkan situasi kehidupan para nara pidana. Buku antologi berjudul “Suara-Suara dari Wirogunan” yang diterbitkan oleh Tonggak Pustaka Yogyakarta (Agustus 2016) merupakan serumpun bait syair yang mengisahkan tentang kehidupan nara pidana di Wirogunan Yogyakarta. Penulis buku ini terdiri dari para nara pidana yang digembleng secara serius untuk menggali potensi literasinya dari balik jeruji besi. Hal itu perlu kita acungi jempol.

Mengingat lupa melalui media puisi merupakan cara sederhana dan mudah dilakukan. Cuma kita perlu kejelian dalam menyusun kata-kata menggunakan diksi yang eksotis. Sehingga, kalimat-kalimatnya memberikan nuansa seperti yang digambarkan oleh penulis. Puisi bukan tidak mampu mengubah hidup manusia, namun cara pandang mereka terhadap puisi terlalu dilihat dari sudut pandang materi. Sebenarnya, bukan hanya puisi yang mampu mengingat lupa, tapi tulisan-tulisan lainnya pun bisa menjadi pengingat lupa. Tetapi, hanya puisi yang memiliki kebebasan lebih luas dalam mengekspresikan perasaan sebagai fenomena sosial dengan kalimat-kalimat singkat dan padat namun penuh makna.

* Penulis Akademisi asal Sumenep-Madura, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

2 Responses to Membincang Sastra dan Agama

  1. Pingback: Menguatkan Peran Guru Ngaji dan Islam Nusantara | junaidikhab

  2. Pingback: Sastra, MEA, dan Penyatuan Masyarakat Melayu | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: