Mempertanyakan Keberagamaan Kita

Duta Masyarakat: Kamis, 15 Maret 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Pribadi Junaidi Khab

Selain agama Islam, seperti agama Kristen, Hindu, dan Buddha, sudah tentu ajaran yang tak begitu jauh berbeda dengan ajaran agama Islam. Khususnya dalam konteks lingkungan dan sosial. Dengan alasan bahwa setiap perilaku dan tindakan apa yang mereka lakukan merupakan bentuk dan cerminan dari sebuah kepercayaan yang mereka anut masing-masing. Kita tidak mungkin memungkiri bahwa ada ajaran suatu agama yang mengajarkan kekerasan.

Salah satu contoh dari sebuah ungkapan Annadhofatu minal iman” (kebersihan itu sebagian dari iman) dalam Islam. Meskipun itu ada yang mengatakan hadis dan bukan hadis, tapi kontennya sangat patut untuk dijadikan pegangan oleh umat manusia. Apalagi bagi yang telah menganggap sebuah hadis, tidak boleh tidak sebagai umat Islam harus menerapkan isi dari kalimat tersebut. Penerapan isi dari kalimat tersebut masih perlu kita pertanyakan pada diri masing-masing. Itu contoh hal kecil saja. Jika kita perhatikan cara hidup selain orang yang menganut agama Islam, mereka juga selalu mengutamakan hidup bersih dan dan asri. Hal itu tak luput dari persoalan iman masing-masing kepada Tuhannya.

Kutipan kalimat di atas merupakan hal yang sangat penting dan krusial untuk kita pahami. Secara rasional memang benar bahwa aturan-aturan yang ada di dalam ajaran agama Islam itu pelaksanaannya banyak didominsi oleh orang-orang yang tidak menganut agama Islam dengan dua kalimat syahadat. Orang yang menganut agama Islam dengan dua kalimat syahadat itu seakan-akan hanya bagian saja. Mereka hanya menjadikan dua kalimat syahadat sebagai simbol keagamaannya saja. Akan tetapi, penerapan dan mematuhi aturan syariat kurang begitu diperhatikan: ada yang membabibuta.

Baca: Nasionalisme dan Romantisme “Sang Kiai”

Mayoritas dari mereka yang menganut agama Islam hanya pandai berfatwa dan melafalkan banyak hadis dan ayat-ayat Alquran. Mereka menyeru seluruh umat untuk melakukan hal-hal yang bernilai positif. Akan tetapi dari ucapannya hanya menyisakan kemunafikan belaka. Apa yang mereka ucapkan tidak menghasilkan apa-apa bagi dirinya dan lingkungan sosial, malah sebaliknya, mereka berada di dalam jurang kejahilan.

Misalkan di Indonesia, mayoritas penduduknya bahkan para pejabat kepemerintahan dari kalangan masyarakat Islam. Tetapi para pelaku korupsi yang mendominasi negeri ini berstatus agama Islam. Meskipun di dalam Alquran – sebagai kitab suci umat Islam – terdapat bahwa orang yang mencuri mendapat hukuman yang berat, yaitu dengan pemotongan tangan sebagai hukumannya: pemahaman harfiah. Namun, mereka seakan tidak tersentuh oleh ayat tersebut. Selain ayat tersebut sebagai hukuman bagi mereka yang mencuri, di samping itu juga ayat tersebut secara tidak langsung melarang mencuri, baik itu berupa korupsi, kolusi, dan nepotisme, atau kejahatan pemalingan yang lain.

Menyikapi perilaku umat Islam yang kini tidak sesuai dengan reglemen dan kaidah-kaidah syariat agama Islam, perlu penyadaran dari diri kita sendiri. Jika kita saling peringati seakan-akan tidak akan dihiraukan lagi, karena masing-masing dari kita memiliki pandangan tersendiri terhadap suatu persoalan hidup masing-masing. Akan tetapi tidak menjadi persoalan jika di antara umat ini ada yang menyuarakan imbauan ke jalan yang benar dengan melaksanakan reglemen dan kaidah-kaidah syariat agama Islam.

Partikularisme vs Pluralisme

Dalam ajaran agama Islam kita dianjurkan untuk mendahulukan terhadap kepentingan bersama. Dengan mendahulukan kepentingan bersama, kita harus mengenyampingkan sikap partikularisme yang ada dalam diri kita masing-masing. Jika kita mendahulukan terhadap kepentingan umum, yang jelas partikularisme akan lenyap dengan sendirinya.

Dari kaidah fikih di atas, sebagai umat yang beragama Islam harus mendahulukan terhadap kepentingan bersama, jangan sampai mengabaikan reglemen agama kita sendiri dan hanya orang yang tidak mengakui adanya Allah dan Nabi-Nya harus melaksanakan reglemen tersebut. Kita harus membudayakan sikap malu jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah syariat Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca juga: Imam Nahrawi, Sepakbola, dan Spirit Nasionalisme

 

Namun, antara partikularisme dan kepentingan bersama harus seimbang. Keseimbangan ini yang akan membuahkan hidup kebersamaan dengan memperhatikan segala aspek kehidupan yang sesuai dengan reglemen syariat agama Islam. Aspek kehidupan dapat kita ketahui dan perdalam dengan banyak membaca literatur-literatur ilmuwan dan agamawan baik yang klasik atau modern.

Dampak partikularisme sangat minim manfaatnya jika dibanding dengan kepentingan bersama. Menumbuhkan sikap bersama itu sangat sulit jika kita tidak benar-benar memiliki niat dan keinginan yang murni dari dalam hati dan jiwa pribadi masing-masing. Jika kita melihat terhadap apa yang dikatakan oleh Eka Fadila, orang Islam mayoritas menganut partikularisme. Setiap ada persoalan selalu memikirkan terhadap dirinya sendiri. Masalah kebersihan tempat umum tidak dipikirkan, karena secara nalar tidak akan digunakan secara pribadi, sedangkan jika kepentingan itu bersifat partikular, mereka rela memperjuangkan meskipun menukar dengan keyakianan. Sikap yang demikian ini perlu di garisbawahi bagi umat Islam.

Dari sekian banyak persoalan tentang keislaman perlu diperhatikan eksistensi sayariatnya. Kita harus mematuhi reglemen-reglemen yang telah digariskan oleh syariat Islam. Jika semua reglemen yang ada pada hukum syariat Islam itu dilaksanakan, maka Islam akan menemukan masa kejayaan. Namun sebaliknya, jika kita sebagai umat Islam cuma hanya mengandalkan keislaman dengan dua kalimat syahadat atau hanya meniru gaya Arab, hal itu tidak cukup Mari kita bangun syriat dan ajaran agama Islam dari hal-hal yang paling kecil, namun memiliki dampak atau pengaruh bagi kehidupan seluruh umat manusia secara universal.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

3 Responses to Mempertanyakan Keberagamaan Kita

  1. Pingback: Meneladani Langkah Kepolisian Medan | junaidikhab

  2. Pingback: Membaca dan Memahami “Hasrat” Allah Swt | junaidikhab

  3. Pingback: Inspirasi Keberagamaan dan Toleransi Umat Islam | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: