Perempuan Bertangan Duri

Solopos: Minggu, 14 Oktober 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Perempuan Bertangan Duri

Dari semak-semak belukar, dari sebuah rerimbunan di kejauhan akan terlihat rumah setengah tua. Sekilas, rumah itu seperti tanpa penghuni. Halamannya jarang disapu tapi sampah-sampahnya alami bagai pegunungan yang tak pernah dijamah manusia. Di halaman rumah itu tak ada sebercak kotoran hewan atau bangkai yang membuat mata akan merasa rabun dan pikiran semrawut.

Meski rumah itu bagai rumah tua yang tak berpenghuni, suasana ramai di sana selalu memenuhi sudut ruangannya. Para perempuan yang sudah menyelesaikan pendidikan jenjang tertinggi dan menengah, mereka duduk dan membicarakan banyak hal di sana, tapi seputar kecantikan.

Tanpa menampakkan diri mereka sebagai sarjana, obrolannya mengalir bagai air di sungai kecil yang melewati rumah tua itu. Tentu, semua orang mengenal pemilik rumah itu, khususnya perempuan dan terlebih para lelaki.

“Cantik itu kalau perempuan bisa menjaga diri dan berusaha memperhalus kelakuannya,” kata seorang perempuan yang sudah menjadi profesor.

“Tidak, cantik itu kalau tubuhnya sintal, bodi seperti gitar Spanyol. Tubuh depan dan belakang menonjol,” kata perempuan yang lulusan doktor.

“Bukan begitu. Cantik itu diukur dari cara perempuan berpikir jenius,” kata seorang perempuan yang lulusan strata satu.

“Aku tak sepakat,” kata perempuan berkacamata minus. “Perempuan cantik itu kalau kulitnya mulus dan senyumnya manis.”

Muna hanya tersenyum mendengarkan teman-temannya yang bercengkerama dan membicarakan tentang kecantikan. Dia tidak banyak bicara. Dia menjadi pendengar teman-temannya yang tanpa henti membicarakan banyak hal tentang kecantikan dan menjadikan diri mereka tetap tampak cantik.

Baca: Kopi

Berbeda dengan Muna yang hanya tamatan sekolah dasar. Dia benar-benar cantik meski tidak melakukan perawatan seperti teman-temannya yang sudah kuliah di kota-kota besar dan mengenal banyak terapi kecantikan. Sayangnya, aroma tubuh Muna yang kurang sedap itu, membuat teman-temannya sering meminta agar melakukan perawatan. Tapi, Muna tak pernah melakukannya. Karena aroma tubuhnya itu disenangi oleh suaminya saat tidur bersama.

“Eh, eh…” kata seorang teman Muna yang tiba-tiba memotong riuh-gaduh perbincangan. “Tapi, di pedesaan banyak perempuan yang cantik hanya wajahnya. Coba kalian lihat tangan dan kakinya. Bertolak belakang. Tangan dan kakinya tak mulus seperti wajahnya. Tak cantik sama sekali,” katanya sambil tersenyum.

“Enggak juga tuh…” kata perempuan yang lulusan strata satu. “Lihat tuh Si Muna. Meski bekerja di ladang tiap hari, kecantikannya tetap tak pernah berubah sejak kita masih kanak-kanak.”

Muna hanya menebar senyum dan berlalu menuju dapurnya untuk mengambil beberapa camilan dan minuman. Perbincangan tentang kecantikan terus mengalir deras. Setiap sore, para teman perempuan Muna sudah tentu berkumpul untuk sekadar berbincang tentang banyak hal. Bukan hal lain yang dibicarakan, tapi tetap seputar kecantikan.

Teman-teman Muna tahu semua. Muna memang lebih cantik dibanding mereka. Suaminya pekerja keras. Tapi, lima tahun belakangan ini dia tidak mendapat nafkah batin secara maksimal, karena suaminya terkena strok dan sebagian tubuhnya kurang sempurna. Kesabarannya menjadi istri Kurnia membuatnya semakin cantik. Satu rahasia kecantikan yang tidak dimiliki oleh teman-teman Muna dan orang lain yang membuat kecantikannya tak pernah luntur meski tak pernah melakukan perawatan seperti teman-temannya dan perempuan lain di kampungnya, yaitu jari-jemari Muna yang lentik. Dia tetap tampak cantik meski sudah memiliki anak satu.

***

Sejak masih kanak-kanak, Muna memang memiliki tubuh yang sintal dengan buah dada menonjol dan bokong bahenol. Jari-jemari tangannya runcing seperti duri. Itu satu senjata kecantikan yang dimiliki Muna. Meski pekerjaannya di ladang dan sesekali berjualan, jari-jemari tangannya tak pernah membesar di bagian ujungnya. Kulitnya tetap mulus dan kuning langsat.

Berbeda dengan jari-jemari teman perempuannya yang meski bekerja di sekolahan dan kantoran jika dipasang sebuah cincin memang bisa masuk, tapi saat akan dilepas akan kesulitan. Segala bentuk cincin dan jenisnya jika dipakai oleh Muna selalu pas di jemari tangannya dan membuatnya semakin cantik.

Muna mengoleksi banyak cincin di rumahnya. Mulai dari cincin karet, tempurung kelapa yang diasah, hingga cincin berbahan plastik. Itu lain lagi dengan cincin emas yang dibelikan oleh suaminya. Kadang, teman-teman Muna meminta cincin yang dipakai oleh Muna karena sangat cantik Muna dilihatnya. Tapi, mereka sering mengeluh kalau merka tak cantik seperti Muna saat memakai cincin yang diminta pada Muna.

Baca juga: Sebuah Lukisan

Muna menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya setelah lulus sekolah dasar. Kepatuhannya pada orangtuanya membuat Muna semakin cantik di mata masyarakat meski batinnya sangat tersiksa. Tapi, dia tak pernah menampakkan ketersiksaan yang dialami selama kurun waktu tujuh tahun. Hingga dia memiliki seorang anak perempuan yang tak kalah cantik dengan dirinya.

Tapi belakangan ini, setelah suaminya terkena strok, Muna mengalami kegundahan yang tiada terkira. Teman-temannya yang biasa datang sore hari ke rumahnya sudah mulai berkurang. Itu terjadi karena suami mereka dengan sembunyi berusaha merayu Muna agar dia minta cerai pada suaminya yang terkena strok dan mau dijadikan istri kedua oleh para lelaki termasuk suami teman-teman Muna.

Sejak saat itu, Muna dibenci oleh teman-teman dan para perempuan karena kecantikan jari-jemarinya yang menyerupai duri: runcing dan mulus, lentik. Mereka tak hanya membenci, tapi rasa iri dan dengki membuat mereka selalu menjelek-jelekkan Muna yang kabarnya mau merebut suami orang lain.

***

Suatu malam, saat rembulan sedang sembunyi di balik semak-belukar di sisi timur rumahnya, Muna merajuk pada Kurnia dengan nada pilu.

“Mas, aku mencintaimu sebagai suamiku,” kata Muna dengan air mata mengalir di pipinya. “Aku mengakui, kamu sudah tak sesempurna sebelum terkena strok. Tapi, aku tetap mencintaimu sebagai suami, Mas.”

“Iya, Mun. Aku memahami keberadaanmu sejak aku terserang penyakit strok,” kata Kurnia dengan wajah tertunduk dan mulut sedikit bergetar karena kaku tapi berusaha bicara. “Aku tahu, nafkah secara lahir tercukupi. Tapi, batinmu telah kusiksa dan aku tak mungkin bisa memberikanmu nafkah batin secara sempurna. Apa kamu mau minta cerai?”

“Tidak, Mas. Tidak!”

Tak ada pembicaraan setelah itu. Hanya isak tangis Muna, sementara Kurnia duduk mematung di ranjang dengan dipeluk oleh Muna. Kurnia pun sebenarnya tak mau mencerai Muna karena dia cantik dan Kurnia tetap sayang padanya.

“Aku pikir, lebih baik sudahi rumahtangga kita daripada kamu mati tersiksa, Mun,” kata Kurnia berbohong demi membuktikan cinta Muna padanya.

“Tidak perlu, Mas,” kata Muna dengan membentak dan air mata menganak sungai. “Jika itu yang kumau, sejak dulu kuminta kita menyudahi hubungan keluarga ini, Mas. Aku lebih memilih untuk mencintai dan menyayangi suami, meski fitnah yang harus kuhadapi.”

Muna kembali memeluk tubuh setengah cacat Kurnia. Isak tangisnya membuat Kurnia semakin terpukul. Kurnia menyadari dirinya tak pernah maksimal memberikan nafkah batin pada Muna. Itu yang membuatnya merasa tak layak menjadi suami Muna meski cintanya tak bisa ditukar dengan apa pun.

Sayup angin berdesir di halaman rumah Muna menerpa sampah-sampah yang berserakan. Sesekali terlintas dalam pikiran Muna untuk memotong jari-jemarinya. Tapi, dia masih memikirkan nasib anaknya jika kelak memiliki anak saat melihat memiliki ibunya yang tak sempurna jemari tangannya. Dari balik pintu kamar, anak perempuan Muna mendengar obrolan mereka berdua hingga membuatnya harus menumpahkan air matanya. Malam terus menusuk hati Muna dan memberangus pikiran Kurnia. Sementara anaknya seorang diri menahan isak tangisnya agar mereka tak terganggu.

Sumenep, 25 Maret 2017

* Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

3 Responses to Perempuan Bertangan Duri

  1. Pingback: Mencari Kesembuhan | junaidikhab

  2. Pingback: Eksotisme Novel Karya Motinggo Busye | junaidikhab

  3. Pingback: Sehelai Kerudung | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: