Menerjemah Cinta dan Kasih Sayang Ibu

Koran Sindo: Minggu, 4 Februari 2018

Tahilalat (Dok. Pribadi Junaidi Khab)

Setelah puisinya yang berjudul Celana membakar dunia literasi, lalu Telepon Genggam juga hadir dengan cara tak kalah menggelikan yang mengisahkan tentang keindahan hidup manusia yang kadang penuh paradoks, kali ini Joko Pinurbo (Jokpin) menyuguhkan buku puisi baru Tahilalat. Sebuah yang mengangkat makna cinta seorang ibu bagi anak-anaknya nan tak ada bandingannya di antara manusia pada umumnya.

Seorang ibu memang layak menjadi tumpuan cinta dan kasih sayang. Meskipun sebagian rela menghabisi nyawa anak-anaknya karena alasan dan sebab tertentu. Begitu kadang juga sebaliknya: anak-anak menghabisi nyawa ibunya. Namun yang jelas, ibu selalu memendam cinta yang sangat dalam bagi anak-anaknya. Selayaknya manusia yang memiliki cinta kepada manusia lain. Tetapi, cinta ibu melebihi cinta dan kasih sayang manusia pada umumnya. Hal tersebut yang kadang tidak kita sadari dengan menganggap ibu atau orangtua hanya sebatas manusia yang melahirkan kita.

“Setelah puisinya yang berjudul Celana membakar dunia literasi, lalu Telepon Genggam juga hadir dengan cara tak kalah menggelikan yang mengisahkan tentang keindahan hidup manusia yang kadang penuh paradoks, kali ini Joko Pinurbo (Jokpin) menyuguhkan buku puisi baru Tahilalat. Sebuah yang mengangkat makna cinta seorang ibu bagi anak-anaknya nan tak ada bandingannya di antara manusia pada umumnya.”

Dalam puisi berjudul Gambar Hati Versi Penyair, Jokpin memetaforkan tentang hakikat cinta, yaitu dua pertemuan berbeda yang saling mengikat. Seperti dua koma bertangkupan./ Dua koma dari kamus yang berbeda/ dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi/ (hlm. 8). Cinta memang tidak lahir sendiri, tetapi dari sebuah kepingan yang menjadi satu dan bersama meski berbeda. Anak merupakan kepingan rasa cinta seorang ibu dan ayah yang menjelma manusia.

Baca: Memahami Perasaan (Cinta)

 

Substansi dari keseluruhan gagasan Jokpin dalam buku inimerupakan sebuah penghayatan tentang cinta secara universal. Cinta lahir dari sebuah perbedaan yang mendesir membentuk molekul untuk saling memercayai dan saling menghormati segala macam yang berbeda atau berseberangan. Jokpin mengibaratkannya sebagai dua koma yang saling mengikat, hingga membentuk pola model cinta yang dikatakan gambar hati sebagai lambang cinta seperti pada umumnya.

Lain lagi ketika Jokpin menceritakan tentang cinta – lebih tepatnya kasih sayang – seorang ibu bagi anak-anaknya. Tahilalat menjadi puisi yang menggambarkan cinta ibu memang murni terlihat dari tatapan mata kasihnya. Hingga saat sudah tua pun, seorang ibu kadang rela melakukan banyak hal untuk anak-anaknya. Itu karena memang cinta kasih seorang ibu tak mengenal batas dan waktu.

Dalam puisi yang berjudul Bulan, Jokpin menuliskan tentang eksistensi pancaran cinta dan kasih sayang seorang ibu. Bulan yang kedinginan/ berbisik padamu,/ “Bolehkah aku mandi sesaat saja di hangat matamu?”/ Malam sepenuhnya milikmu/ ketika bulan tercebur/ di dingin matamu./ Bulan itu bulatan hatimu,/ bertengger di dahan waktu/ (hlm. 80)

Seorang ibu, ibarat bulan yang selalu memberikan cahaya sejuk bagi kehidupan di bumi. Hal itu hanya terjadi pada malam hari yang identik dengan segala macam tantangan. Karena malam yang gelap layaknya sebuah kehidupan, namun diterangi oleh cahaya rembulan. Sehingga, malam pun terasa siang. Begitu halnya seorang ibu yang ibarat sebuah bulan yang terbit pada malam kegamangan hidup anak-anaknya. Pancaran cahaya cinta dan kasih sayangnya selalu menyinari anak-anaknya.

Baca juga: Mengenal Generasi Milenial

Begitu pula dalam puisi andalan yang berjudul Tahilalat. Tahilalat menjadi acuan buku ini lahir, yaitu sebagai delegasi atas puisi-puisi yang lainnya. Pada usia lima tahun ia menemukan/ tahilalat di alis ibunya,/ terlindung bulu-bulu hitam lembut,/ seperti cinta yang betah berjaga/ di tempat yang tak diketahui mata/. Dan Ketika ia beranjak remaja/ dan beban hidup bertambah berat saja,/ tahilalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,/ tertutup rambut yang mulai layu,/ seperti doa yang merapalkan diri/ di tempat yang hanya diketahui hati./ (hlm. 89).

Tahilalat lahir sebagai metafor untuk menggambarkan betapa besar cinta dan kasih sayang ibu atau orangtua bagi anak-anaknya. Sehingga, hal itu kadang tidak begitu tampak sebagai bentuk cinta dan kasih sayang. Ibarat perumpaan tahilalat di alis mata yang tidak bisa kita lihat oleh mata sendiri. Begitu juga ketika ibu atau orangrua sudah renta, cinta dan kasih sayang nya tak pernah pudar meski kasat mata.

Buku karya Jokpin ini memang menyuguhkan puisi dengan beberapa tema yang berbeda. Tetapi secara umum, puisi-puisinya mengajak pembaca untuk saling merenung agar tumbuh cinta dan kasih sayang di antara sesama manusia dan tidak menganggap ibu atau orangtua tak memiliki cinta atau kasih sayang kepada anak-anaknya, karena tidak terlihat secara pasti atau dirasakan dengan jelas.

Judul   : Tahilalat

Penulis             : Joko Pinurbo

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : 108 hlm.; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-6651-46-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Belajar di Yogyakarta.

4 Responses to Menerjemah Cinta dan Kasih Sayang Ibu

  1. Pingback: Melawan Absurditas Masyarakat Modern | junaidikhab

  2. Pingback: Bebas dari Penjara Berkah Doa dan Puasa Ramadan | junaidikhab

  3. Pingback: Menguatkan Peran Guru Ngaji dan Islam Nusantara | junaidikhab

  4. Pingback: Cara Ibu Merawat Anak | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: