Kota Tua yang Mati dan Ingin Dihidupkan Kembali

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Gerimis di Atas Kertas

Setiap manusia memiliki kecenderungan sendiri untuk memainkan cinta dan perasaannya masing-masing. Dari sebuah perjumpaan atau perkenalan, cinta datang melanda dan menghajar membabi buta, cinta hadir tanpa memandang tempat dan waktu, sementara perasaan akan terus membentuk kekuatan. Dari kekuatan itu, cinta akan terus terbangun tanpa peduli terhadap segala hal, bahkan yang irasional.

Secara acak dalam pemakaian alur dan sudut pandang, Rosyid mencoba menceritakan sebuah kisah kehadiran cinta dalam buku yang berjudul Gerimis di Atas Kertas ini. Dalam tiga kisah yang ditulis, dia mengisahkan cerita dari sudut pandang yang berbeda, namun dalam satu alur cerita yang masih berkaitan. Jika kita tak cermat mengamati dan mengingat nama-nama tokohnya, kisah pertama, kedua, dan ketiga tak memiliki relevansi sama sekali. Dengan kata lain, Rosyid berusaha memutar waktu dari sudut pandang yang berbeda atas suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan tokoh-tokohnya.

Upaya yang dilakukan oleh Rosyid merupakan ide yang cukup cemerlang dalam mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh ceritanya yang tentu menjadi cermin lingkungan hidup pribadinya, Ampenan. Selain gaya berceritanya yang maju-mundur, kita akan dibuat kaget oleh jalan hidup tokohnya yang menyimpan rahasia sebagaimana umumnya realitas kehidupan manusia. Dari kisah-kisah yang tampak datar pada permukaannya, pada bagian-bagian tertentu kisah-kisah itu menghadirkan sebuah ledakan dahsyat dalam perasaan.

Perlu kita ketahui, bahwa buku ini bukan novel utuh yang disuguhkan oleh Rosyid secara berkesinambungan. Dari empat judul yang disajikan, hanya tiga judul kisah yang berkaitan (Menunggu Ayu, Setahun Kemudian, Gerismis di Atas kertas) dan satu kisah terakhir (Cakwe Kota Tua) yang tak ada sangkut-pautaya sama sekali dengan tiga kisah sebelumnya. Di dalam buku ini, Rosyid mengemas kisah-kisahnya berlatar satu tempat, yaitu Ampenan di Lombok yang pernah memiliki peradaban.

Secara tidak langsung, Rosyid ingin mengenalkan daerahnya sendiri melalui buku ini sebagaimana Kiki Sulistiyo dalam karyanya, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (2017) yang juga menyinari daerahnya dengan puisi-puisi lokalitas. Rosyid memberikan gambaran tentang kota Ampenan sebagai kota tua yang ada di Lombok, begitu juga Kiki. Sebuah usaha untuk menyinari kota kelahiran kita, memang menjadi sebuah kewajiban tersendiri dengan caranya masing-masing.

Rosyid menempuh jalan berkisah dengan cara memberikan gambaran realitas sosialnya melalui buku ini. Kehidupan masyarakatnya yang tertinggal karena faktor ekonomi. Dia memulai sebuah cerita tentang perasaan yang tumbuh akibat akarnya hilang. Dengan kehilangan itu sendiri, kisah ini lahir bersama semangat hidup untuk tetap menjaga keseimbangan hidup masyarakat Ampenan yang terpencil dan tidak melanjutkan pendidikan agar bisa memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas dengan membaca dan belajar menulis.

Melalui karya ini, Rosyid berusaha menghidupkan kembali Ampenan sebagai kota tua yang mati. Ampenan dulu sempat menjadi daerah yang cukup bersinar. Hal itu terbukti dengan bangunan-bangunan tua yang bermodel gaya kolonial. Dengan kata lain, Rosyid ingin mengatakan bahwa Ampenan bukan kota yang tertinggal, tapi Ampenan merupakan kota yang memiliki sisa-sisa kemajuan, karena pada masa silam termasuk kota yang maju namun sekarang hanya tinggal puing-puing peradabannya.

Satu hal yang bisa kita apresiasi atas karya Rosyid ini, dia telah mampu mengemas kisah sebuah cinta, perjuangan, dan kenestapaan yang ujung-ujungnya untuk mempromosikan kota kelahirannya sendiri. Bumbu asmara yang diracik oleh Rosyid memang mengena. Sebuah kisah tentang cinta yang terpendam akhirnya tumbuh bercabang tiga.

Meskipun kisah-kisah yang disajikan oleh Rosyid penuh perjuangan perasaan yang terbakar, pembaca akan dibuat puas karena cinta yang dipendam oleh tokohnya bersambut, menemukan puncaknya, ceritanya selesai. Dalam persoalan asmara, di satu sisi harus ada pengorbanan perasaan, sementara di sisi lain mendapatkan keteduhan di antara cinta yang bersemi.

Tiga kisah pada permulaan menautkan cinta dan perasaan dengan mengembangkan kehidupan masyarakat dan pemuda lokal di Ampenan, serta bagaimana seorang penulis dalam kisah itu harus mengimbangi pola hidupnya dengan olahraga dan makan yang bernutrisi. Pada kisah terakhir yang diangkat oleh Rosyid lebih mengacu pada promosi kuliner khas Ampenan. Tetapi, kisah tentang kuliner itu tetap dikemas dengan citarasa cinta yang bersemi di antara tokohnya.

Sepertinya memang tak menarik jika sebuah kisah atau novel yang disajikan oleh seorang penulis tanpa melibatkan cinta atau perasaan di dalamnya. Model semacam ini sebenarnya tergolong klise dalam dunia kesusasteraanMeskipun demikian, kisah cinta akan menjadi bumbu penyedap atas kisah-kisah yang ingin disampaikan oleh Rosyid dalam buku ini.

Pada hakikatnya, mengemas sebuah kisah tentang kehidupan tanpa cinta akan tetap mengalir seperti air dari hulu ke hilir. Namun, citarasanya kurang begitu menyentuh karena eksistensi kehidupan manusia memang tidak mungkin lepas dari perang perasaan yang bisa muncul atau tumbuh tanpa memandang tempat dan waktu. Hal semacam ini yang tak bisa dihindari oleh Rosyid dan tentunya oleh para penulis lain. Kisah tentang cinta akan menjadi bagian dari ritme kehidupan umat manusia, hal semacam ini yang tak bisa kita hindari dalam banyak karya, baik berupa novel atau cerita pendek.

Kota Ampenan di Lombok secara tak langsung ingin disulam kembali oleh Rosyid agar menjadi kota yang tetap permai dan bisa dinikmati sebagaimana keadaan sebelumnya. Dia berusaha memanfaatkan benang rajutan cinta dalam dunia literasi dan bahkan cinta yang berupa perasaan digunakan untuk menganyam Ampenan agar memiliki warna yang menyala seperti sedia kala.

Setidaknya, buku ini mengajak pembaca untuk mengenal Ampenan di Lombok dengan keadaan masyarakat di sana sebagaimana digambarkan oleh Rosyid. Terhadap kecintaan pada literasi oleh sebagian orang, kesempatan itu itu dijadikan media untuk mengajak masyarakat dan pemuda di sana agar melek aksara, mau membaca, dan ikut memajukan kembali kota Ampenan dengan gerakan literasi.

Judul : Gerimis di Atas kertas
Penulis : A.S. Rosyid
Penerbit : Basabasi
Cetakan : September 2017
Tebal : 200 hlm.; 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-6651-30-3
Peresensi : Junaidi Khab*

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Bergiat di Klubbuku Basabasi Yogyakarta.

Tulisan juga bisa diakses dan dibaca di: Junaidi atau Khab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: