Mengenal Rasa dan Aroma Kopi Bajawa dari Flores

Dok. Pribadi_Kopi_Khas_Bajawa_Flores

Pada Senin 26 Februari 2018 aku mendapat kopi khas Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Flores. Kopi khas Bajawa ini dibawa oleh Yoand Siga  (nama aslinya panjang, mungkin kalau dikur kira-kira dari Sabang hingga ke Merauke) sebagai oleh-oleh dari rumahnya. Kopi itu aku pesan saat Yoand sedang pulang kampung ke Bajawa. Pada sore hari, aku mengolahnya dengan menyetarakan takaran dan gula: pahit dan manis rasanya imbang. Saat kucium aromanya, aku seperti pernah mencium aroma kopi semacam ini sebelumnya. Pada malam hari, aku menawarkan kopi yang sudah kuolah itu pada seorang teman lalu aku menanyakan rasanya. Kata temanku, terlalu manis. Baiklah, aku harus mencobanya dengan mengurangi takaran gula. Takaran kopi harus lebih banyak dari gulanya agar rasanya lebih menggigit.

Kemudian, pada Selasa 27 Februari 2018 aku kembali mengolahnya dengan mengubah takaran kopi dan gulanya. Saat takaran kopi lebih dominan dibanding takaran gula, aku baru merasakan aroma kopi itu lebih tajam yang membuatku teringat pada aroma kopi sebelumnya yang pernah kucoba di salah satu kafe. Aku mencoba mengingat aroma kopi yang hampir mirip dengan aroma kopi khas Bajawa itu. Tak berhasil.

Baru pada Rabu 28 Februari 2018 aku mengolahnya lagi dengan takaran kopi lebih dominan dibanding gula. Rasanya memang legit dan menggigit. Saat itulah, bayangan kopi sebelumnya yang aroma dan rasanya sama mulai bisa kuingat. Aku pernah membeli kopi di Kafe Oak, daerah Nologaten Yogyakarta.

Dok. Pribadi_di_Jejak Kopi

Setelah kucerna lebih tajam lagi, kopi khas Bajwa itu memang tak jauh berbeda – hampir mirip – rasa dan aromanya dengan kopi yang kupesan di Kafe Oak, yaitu kopi khas Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Flores. Aku tidak bisa membahasakan rasa dan aromanya dengan baik. Tapi, setidaknya kopi itu rasa pahitnya tak begitu menyengat seperti kopi khas Bengkulu yang pernah kudapat dari seorang teman. Jika soal aromanya, juga hampir mirip dengan aroma kopi khas Bangka Belitung, tempat Andrea Hirata legendaris novel Laskar Pelangi. Kopi khas Bangka Belitung itu pernah kudapat di Kafe Jejak Kopi di Prenggan Selatan, RT/RW: 27/06, Kotagede Yogyakarta, sebelah selatan lapangan Karang, atau sebelah timur pesantren Nurul Ummah.

Sebelumnya, saat aku menerima kopi dari Yoan, dia mengatakan bahwa kopi khas Bajwa tidak bikin insomnia. Mulanya aku tak memercayainya. Memang, mungkin aku terhipnotis, kopi khas Bajawa itu masih terasa netral, aku bisa tidur dengan biasa. Tapi, aku terus mencobanya hingga pada Jumat 16 Maret 2018 saat tulisan ini dibuat. Beberapa kali Yoan meminta ulasan kopi khas daerahnya, Bajawa. Baru sempat saat ini membuatnya setelah sekian kali aku beralibi padanya tentang ulasan kopi khas Bajawa.

Baiklah, aku akan mencoba mengilustrasikan dan membandingkan rasa dan aroma kopi khas Bajawa dari NTT, Flores. Begini, hal ini tentu sangat berbeda aroma dan rasanya dengan kopi-kopi yang sering aku nikmati di Kafe Basabasi dan kafe-kafe sebelumnya seperti kopi di Kafe Blandongan, Kafe Kopas, Kafe Joglo Kopas di daerah Jalan Sorowajan Baru Yogyakarta, kecuali Kafe Oak dan Kafe Jejak Kopi yang menjadi wadah komuniat Jejak Imaji yang digawangi oleh Iqbal H Saputra.

Sebentar dulu tentang penjelasan aroma dan rasa kopi khas Bajawa. Sulit untuk dibahasakan. Aku harus mengingat lebih kuat lagi tentang kopi khas Bangka Belitung di Kafe Jejak Kopi yang rasanya hampir mirip dan kukatakan sama saja dengan rasa sambiroto, pahit. Pahit sekali. Tapi, berbeda dengan kopi khas Lombok di Kafe Oak yang rasanya lebih ringan. Rasa pahitnya tak begitu menyisir perasa di lidah. Jika kopi khas Bangka Belitung itu, rasa pahitnya sangat menerkam tenggorokan. Sementara rasa pahit kopi khas Lombok masih netral di tenggorokan.

Jika kopi khas Bangka Belitung rasa pahitnya sangat menerkam dan rasa kopi khas Lombok rasa pahitnya masih netral di tenggorokan, itu tidak dimiliki oleh rasa kopi khas Bajawa, NTT, Flores. Cuma, aromanya hampir mirip dan bisa kukatan sama dalam persoalan aroma.

Dengan sederhana, mau kukatakan bahwa rasa kopi khas Bangka Belitung, Lombok, dan Bajawa itu seperti kopi lama yang disimpan tapi jika dinikmati akan menemukan sensasi dan aroma atau rasa yang begitu sensual. Hal semacam ini yang kurasakan dari kopi khas Bajawa dan tak jauh berbeda dengan aroma kopi khas Bangka Belitung dan Lombok.

Takaran yang membuat kopi khas Bajawa ini terasa legit dan menggigit ketika takaran kopi lebih dominan dibanding gula. Misalkan, tiga sendok setengah teh kopi khas Bajawa diaduk dengan dua setengah sendok teh menggunakan cangkir kopi yang berukuran sebagaimana banyak didapati di kafe-kafe, khususnya di Kafe Basabasi, Blandongan, dan Kopas, Joglo Kopas, juga di Jejak Kopi tempat komunitas Jejak Imaji nimbrung.

Untuk saat ini, aku belum mencoba kopi khas Bajawa ini diolah dengan cara direbus atau istilahnya di-kotok. Jika kopi diolah dengan cara direbus tentu rasanya akan berbeda, lebih legit dan menggigit karena sari-sarinya terperas akibat panas api yang secara langsung membakar di bawah wajan. Hal semacam ini yang perlu dicoba. Aku masih ingin mencobanya, tapi peralatannya belum memadai. Sebarnya, bukan hanya kopi khas Bajawa yang akan memiliki rasa yang legit dan menggigit ketika diolah dengan cara direbu, tapi kopi-kopi khas daerah lainnya juga akan menyuguhkan rasa yang lebih nikmat ketika direbus pengolahannya.

Begitu kira-kira tentang rasa dan aroma kopi khas Bajawa, NTT, Flores.

Yogyakarta, 16 Maret 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: