Zaman Now

Lampung Post: Jumat, 26 Januari 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Dok. Pribadi Junaidi Khab_7

Keberadaan bahasa tidak mungkin lepas dari sifatnya, yaitu arbitrer. Manusia bebas menggunakan berbagai kode dalm komunikasi sehari-hari. Begitu juga perkembangan bahasa cukup begitu pesat. Bukan hanya perkembangannya yang pesat, tetapi juga kemusnahannya perlahan tapi pasti pun juga terjadi. Bahasa lahir sebagai cermin kehidupan para penuturnya yang menyesuaikan dengan konteks yang dihadapi.

Kita tak bisa memungkiri bahwa perkembangan komunikasi massa saat ini mempunyai relevansi tertentu pada bidang media penandaan, bersmaan dengan keberhasilan disiplin-disiplin seperti linguistik, teori informasi, logika formal dan antropologi struktural yang melengkapi analisis semantiknya dengan instrumen-instrumen baru (Roland Barthes, 2017:15016). Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi suatu ketika akan mengalami perubahan dengan menyesuaikan pada konteks yang dihadapi oleh manusia.

Masyarakat pengguna bahasa tidak bisa lepas dari konteks kehidupan yang dihadapi dan melahirkan istilah-istilah baru dan populer, misalnya istilah zaman now yang akhir-akhir ini sering muncu dan digunakan oleh masyarakat, terutama di media online. Memang, sebelumnya sudah banyak istilah lain yang bermunculan, seperti: galau, baper, caper, dan sensi.

Akan tetapi, secara perlahan istilah-istilah itu redup seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, istilah-istilah itu pun punah karena tergerus oleh perkembangan zaman. Dengan kata lain, kelahiran suatu istilah atau bahasa ternyata juga diiringi dengan kematian istilah bahasa yang lain.

Keadaan yang demikian, jangan menjadikan kita tidak peduli. Kita, sebagai masyarakat pengguna bahasa, harus mampu menjaga istilah bahasa yang sudah lahir dengan istilah bahasa yang lahir kemudian.

Munculnya istilah zaman now merupakan sebuah fenomena bahasa yang terjadi karena “gangguan” psikologi penutur. Sebelum istilah tersebut digunakan, istilah zaman sekarang masih lumrah digunakan. Akan tetapi, hal tersebut terjadi tak luput dari persoalan psikologi yang dipengaruhi oleh situasi penutur.

Artiannya, penutur menggunakan istilah zaman now sebagai simbol untuk menunjukkan suatu keadaan gaya hidup dengan penuh santai dan ringan demi menghasilkan candaan dan untuk mengusik psikologi pendengar atau pembaca.

Muhammad Khoyin (2013:155) menjelaskan manusia sebagai pengguna bahasa dapat dianggap sebagai organisme yang beraktivitas untuk mencapai ranah-ranah psikologis, baik kognitif, afektif, atau psikomotorik. Kemampuan  menggunakan bahasa, baik secara reseptif (menyimak dan membaca) atau produktif (berbicara dan menulis) melibatkan tiga unsur tersebut.

Pencampuran kode (code-mixing) suatu gaya penuturan tentu disesuaikan dengan konteks penutur. Kemunculan istilah zaman now yang merupakan peranakan bahasa Indonesia dan Inggris menunjukkan sikap inheren untuk saat ini. Selain dengan kata zaman, mencampurkan kata now dengan kata lain seakan-akan masih jauh dari kebiasaan. Meskipun kita bebas memakai kata “now” untuk mengganti kata “sekarang” dalam beberapa kalimat, hal tersebut tampak kurang meyakinkan.

Ada beberapa sebab yang menjadi pemicu campur kode (code-mixing) seperti pada istilah zaman now. Salah satu penyebabnya, seperti yang dikatakan oleh Sumarsono dan Partana (2004:325) dengan mengacu pada pandangan Hymes, adalah situasi dan tujuan. Campura kode memiliki tujuan-tujuan tertentu, seperti mengakrabkan suasana, membangkitkan rasa humor, dan untuk sekadar bergaya.

Dalam berbicara, manusia kadang-kadang dipengaruhi oleh situasi psikologi yang kemudian direspons oleh otak sehingga kebutuhan terhadap bahasa menjadi hal penting dalam kondisi tertentu. Campur kode bahasa merupakan salah satu keadaan yang kadang-kadang memang memaksa penutur untuk menggunakan bahasa lain.

Kasus-kasus demikian sering kita jumpai dengan maksud tujuan dan alasan tertentu. Sementara, istilah zaman now yang lebih berafiliasi dengan kehidupan di dunia internet, khususnya netizen, memaksa penutur untuk menggunakannya sebagai media menjalin keakraban dan gaya dalam berbahasa. Selain itu, situasi psikologis penutur mengungkapkan suatu keadaan dengan tujuan humor atau sekadar gaya dalam bertutur.

Kehadiran suatu bahasa merupakan suatu gejala atau fenomena sosial yang perlu kita jadikan sebagai landasan untuk hidup lebih akrab dan komunikatif sehingga bahasa hadir bukan sekadar untuk membunuh bahasa atau istilah sebelumnya, tetapi memang digunakan dalam interaksi sosial yang lebih komunikatif dengan menyesuaikan pada konteksnya. Kita harus bisa menyikapi dan menggunakan kehadiran atau kepoluleran bahasa tertentu yang baru muncul guna menemukan wawasan baru dalam dunia komunikasi secara positif.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Konsentrasi Studi Sosiolinguistik, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa diakses dan dibaca dalam bentuk PDF di: Lampung Post – Jumat, 26 Januari 2018.

2 Responses to Zaman Now

  1. Pingback: Perempuan dalam Karya Sastra | junaidikhab

  2. Pingback: Tips dan Trik Menang RANK Mobile Legends Bang Bang (MOBA) | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: