Peran Masyarakat dalam Memberantas Korupsi

Duta Masyarakat: Sabtu, 6 Mei 2017

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab (Dok. Pribadi)

Korupsi kali ini benar-benar beranak pinak menjadi warisan turun-temurun yang tak kunjung reda. Rasa jera oleh para koruptor dan para pejabat-pejabat yang lainnya masih tidak memberikan rasa takut oleh hukuman yang dipikul. Buktinya makin hari, makin marak pula kasus korupsi di negeri ini. Untungnya kita memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan semangat yang terus membara untuk mengungkap banyak kasus.

Korupsi selain memberikan kerugian pada negara juga merusak reputasi koruptor sendiri, negara, dan organisasi/partai. Misalkan sebelumnya PD, PKS, dan sekarang Partai Hanura. Meskipun mereka telah tahu mengenai efek yang akan ditimbulkan akibat perilakunya, namun seakan-akan dampaknya tidak begitu menjadi bahan renungan hidup bagi masa depannya. Selain itu pula, sudah banyak koruptor yang dijebloskan ke dalam penjara yang berhasil diciduk oleh KPK dan aparat yang berwenang, namun tak ada efek jera.

Pada tahun 2012 lalu di daerah Jawa Timur 30 koruptor dikirimkan ke desa Sukamiskin Bandung untuk dipenjarakan. Hukuman demikian seakan tidak ada apa-apanya dan rasa jera oleh para koruptor dan calon koruptor di negeri ini. Kemungkinan dibutuhkan sangsi yang setimpal yang lebih berat lagi dari hukuman-hukuman yang pernah diberlakukan pada koruptor yang berhasil dijerat oleh pasal dan hukum-hukum pidana lainnya.

Lingkungan Masyarakat

Salah satu cara dalam memberikan efek jera pada koruptor yaitu dengan berperilaku sinis pada para koruptor di lingkungan masyarakat. Sikap demikian akan mudah dirasakan oleh mereka yang korupsi uang negara. Subjek dari metode ini tidak lain adalah masyarakat dan objeknya mereka yang korupsi. Kemungkinan besar mereka tidak akan mendapat efek jera setelah lepas dari jeratan hukum. Maka dari itu, sikap sinis dari masyarakat sangat diharapkan guna sebagai sanksi sosial agar mereka jera dan tidak korup lagi. Jika masyarakat masih memberikan kesempatan setia kepada mereka, kemungkinan besar sifat korup yang dimilikinya akan kambuh lagi. Hukuman semacam ini mungkin disadari, tapi sering diabaikan.

Usaha semacam ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena tanpa rasa sinis dari masyarakat, mereka masih akan tetap percaya diri dalam kehidupannya yang seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Begitu pula oleh masyarakat perlu kesadaran besar agar tidak percaya lagi kepada para koruptor dan mantan koruptor, lebih-lebih pemerintah harus lebih waspada dengan kelihaian dan kelicikannya.

Usaha ini harus mampu diterapkan oleh masyarakat demi memberantas korupsi. Begitu pula pemerintah jika cinta pada negeri ini jangan sampai memberikan kesempatan bagi mereka untuk menjadi pejabat di negeri ini. Dan jika perlu seluruh pejabat di negeri ini harus di-reshuffle lagi. Seleksinya harus benar-benar profesional demi menjaga negara yang bersih dari para koruptor. Jika sudah demikian, urat dan akar-akar koruptor di negeri ini akan mudah dicabuti dan dimusnahkan.

Kini kita mengaca pada negara Cina. Di negera tersebut kasus korupsinya juga sangat besar. Namun kini negara tersebut hampir menemukan jalan terang, yaitu negara yang bebas dari korupsi. Di negara tirai bambu tersebut, mereka yang terbukti korup diadili dan disanksi dengan hukuman yang berat. Bahkan dengan ketegasannya dalam memberantas korupsi, negara tersebut me-reshuffle seluruh kabinet pemerintahan dan aparat kepolisian. Bahkan mereka yang terbukti korupsi diusir dari negaranya. Sungguh presatasi dan kesungguhan yang patut ditiru dalam memberantas kasus korupsi.

Kaca bening ini menjadi alat introspeksi diri dalam memberantas kasus-kasus korupsi di Indonesia. Tanpa ketegasan dan keseriusan dari pemerintah, kasus korupsi akan terus menjadi topik hangat di berbagai media massa. Dan sangat disayangkan sekali citra negara kita akan ternoda oleh mereka. Maka diharapkan agar pemerintah dan berbagai elemen masyarakat memberikan dukungan yang sepenuhnya dalam pemberantasan kasus korupsi di negeri yang penduduknya 90 % beragama Islam ini. Keseriusan bangsa ini harus ditingkatkan guna memaksimlkan dalam pemberantasan kasus korupsi yang telah menghabiskan triliunan uang negara.

Menurut Hadi Supenu (2009:viii) menyatakan bahwa banyak hal yang menjadi penyebab pengusutan kasus korupsi itu tidak sukses. Akan tetapi, salah satu yang menjadi penyebab dominannya adalah karena bangsa atau masyarakat Indonesia ini tidak pernah sungguh-sungguh berperang melawan korupsi. Kita hanya pandai dalam berwacana dan menggagas dalam pemberantasan korupsi. Namun keseriusan masih tidak begitu maksimal. Sehingga menghadapi keadaan demikian perlu kiranya kesadaran untuk lebih serius dan lebih aktif ikut serta memberantas korupsi. Terlebih kita harus introspeksi diri dan memulai dari kita sendiri untuk memberantasnya. Dari sini, kesadaran masyarakat perlu menjadi titik utama dalam memberantas korupsi yang semakin menjamur di Indonesia.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

4 Responses to Peran Masyarakat dalam Memberantas Korupsi

  1. Pingback: Imam Nahrawi, Sepakbola, dan Spirit Nasionalisme | junaidikhab

  2. Pingback: Membincang Sastra dan Agama | junaidikhab

  3. Pingback: Berjihad Melawan Korupsi dan Ketidakadilan | junaidikhab

  4. Pingback: Berjihad Melawan Korupsi dan Ketidakadilan | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: