Membangun Semangat Persatuan Umat Beragama

Koran Jakarta: Jumat, 19 Januari 2018

Bersatu Padu (Dok. Pribadi Junaidi Khab)

Indonesia merupakan negara dimana masyarakatnya bersifat majemuk. Ada beraneka macam suku, etnis, budaya, tradisi, dan agama. Semuanya berada di bawah payung Pancasila sebagai pegangan untuk hidup rukun dan harmonis. Namun tak ayal, belakangan ini, persatuan dan keharmonisan sedikit terganggu oleh kelompok tertentu atas nama agama dan kebenaran. Sehingga, hal tersebut menimbulkan perpecahan dan kesenjangan sosial yang tumpang-tindih.

Sebagai masyarakat yang berkeyakinan dan memercayai atas keberadaan Tuhan serta nilai-nilai kebaikan (beragama), selayaknya masyarakat harus bermoral dan berhati dingin. Karena hakikat agama adalah moral. Kehadiran buku ini merupakan serangkaian gagasan reflektif atas berbagai isu kesenjangan sosial dengan melihat persoalan dari sudut pandang agama sebagai sarana kerukunan dan perdamaian.

Tidak asing lagi, bahwa kita sering menjumpai berbagai kejadian kekerasan dan pemusnahan antara negara-negara, bangsa-bangsa, pemeluk-pemeluk agama, dan raksasa-raksasa ekonomi. Melihat hal tersebut, semua pemeluk agama perlu merasa terpanggil untuk semakin menghayati iman demi menggapai kesejahteraan bersama: internasional maupun nasional, termasuk di Indonesia (hlm. 63).

Mungkin kita perlu berkaca kembali pada hakikat ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama. Orang yang berkeyakinan atas eksistensi dan kuasa Tuhan seharusnya mampu mewujudkan dan menjaga tatanan kehidupan agar selalu rukun dan harmonis. Karena tak ada satu agama mana pun yang mengajarkan tentang kebencian.

Kita sering bangga sebagai bangsa yang dapat dengan ber-Bhinneka Tunggal Ika: artinya, hidup bersama orang dari aneka suku. Namun, masyarakat dari generasi sesudah tahun 1960-an tidak sedemikian tersapa oleh slogan itu. Masyarakat sekarang lebih terkesan pada pemenuhan bermacam ragam hasrat konsumtif dan hiburan harian atau kebutuhan teknis pergaulan (hal. 108-109). Era modern yang dihiasi media sosial telah membawa masyarakat kita pada tatanan masyarakat individualis.

Untuk saat ini, hal tersebut yang disayangkan dari generasi muda dan masyarakat seacara umum yang tidak begitu menjiwai lagi tentang makna Bhinneka Tunggal Ika dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pribadi yang glamor dan konsumtif telah menjadi tradisi yang menjamur. Sehingga tak heran jika nilai-nila dan semangat berbangsa dan bernegara semakin hari semakin menyusut.

Segalanya diukur oleh perolehan materi sebagai pokok dan dasar kehidupan. Bukan lagi nilai-nilai mulia beragama yang menjadi acuan dalam menjalin kehidupan dengan sesama manusia. Sehingga,  nilai-nilai kerukunan dan keharmonisan tidak mudah lahir dalam kehidupan sehari-hari, kecuali ada materi yang menjadi penopangnya. Hal semacam ini yang sangat kita sayangkan.

Padahal kita tahu, bahwa kerukunan adalah cita-cita setiap keluarga, bangsa, dan negara. Namun, perbedaan paham dan pertengkaran adalah biasa dalam hidup berkeluarga di kalangan umat beriman, dan dalam negara. Segala perselisihan dan konflik dapat diatasi apabila masyarakat atau individu memiliki cita-cita atau hasrat hati untuk mengatasi segala persoalan tersebut (hlm. 200).

Seluruh elemen masyarakat mendambakan kerukunan dan keharmonisan. Namun, hanya orang-orang atau kelompok tertentu yang menggaungkan tentang kerukanan, tetapi menyebar berbagai isu kebencian. Hal ini yang perlu dicermati dan disadari oleh masyarakat Indonesia secara luas agar tidak terbawah oleh arus orang-orang atau kelompok tertentu yang menebar kebencian meski mengatasnamakan agama sekali pun. Karena pada konteksnya, agama tak pernah mengajarkan tentang kebencian pada pemeluknya.

Peran agama dalam pembangunan yaitu untuk memelihara keseimbangan, keserasian, dan keselerasan kemajuan dalam bidang fisik-kebendaan dan bidang mental-ruhani (hlm. 219). Agama bukan semata sebagai piranti kepentingan saja karena penganutnya yang setia. Agama merupakan tempat dimana segala ketenangan, cinta, kebahagiaan, dan keharmonisan diajarkan dengan cara-cara yang bermoral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan mengacu pada nilai-nilai luhur Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda, Mardiatmadja berusaha membuka cahaya kerukunan melalui gagasan-gagasannya dalam buku ini. Sebuah kerukunan, keharmonisan, dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara menjadi tolok ukur masyarakat yang beragama. Karena sangat tak elok dan tak layak seorang beragama menebar kebencian dan perpecahan, terlebih ketika membawa bendera agama sebagai alatnya. Hal itu yang disayangkan. Membaca buku ini akan membuka kesedaran bagi kita tentang arti penting persatuan dan kerukunan dalam tubuh masyarakat Indonesia. Selamat membaca!


Judul               : Bersatu Padu

Penulis             : B.S. Mardiatmadja

Penerbit           : Kanisius

Cetakan           : I, 2017

Tebal               : 272 halaman

ISBN               : 978-979-21-5125-1

Peresensi         : Junaidi Khab*


* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: