Belajar Akar Bahasa

Lampung Post: Kamis, 31 Agustus 2017

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab (Dok. Pribadi)

Pada Rabu 5 Juli 2017, Lampung Post menerbitkan artikel berjudul Nasib Huruf /Qaf/ dalam Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Fariz Alniezar. Faris menyebut sebuah kesalahan dalam menulis serapan dari bahasa Arab yang hurufnya diubah, khususnya huruf qaf (q) yang diganti dengan huruf kaf (k): qalbu (bhs. Arab) menjadi kalbu (bhs. Indonesia). Hal tersebut diulas bukan karena sikap Faris yang berlebihan, tetapi perubahan satu huruf dari asal kata bahasa Arab akan memengaruhi maknanya.

Kekhawatiran Faris sebenarnya tidak harus demikian, karena penggunaan huruf “k” dalam bahasa Indonesia untuk penyerapan kata qalbu menjadi kalbu sudah umum diketahui bahwa kata tersebut memiliki arti hati, dan juga kata lainnya: qunut menjadi kunut, halaqah menjadi halakah, aqal menjadi akal, dan semacamnya. Bahasa sebagai sebuah sistem telah disepakati bersama dalam suatu komunitas yang menuntut setiap penutur dan penerima tutur saling memahami.

Hal tersebut tidak akan menjadi persoalan pelik selama kata kalbu yang memiliki arti anjing – dan sejenisnya – belum diserap ke dalam bahasa Indonesia. Mengacu pada Sumarsono (2013:231-232) bahwa dalam pemertahanan bahasa, guyub itu memilih secara kolektif atas penentuan untuk melanjutkan memakai bahasa yang sudah biasa dipakai. Ketika guyub tutur mulai memilih bahasa baru di dalam ranah yang semula diperuntukkan bagi bahasa lama, itu mungkin merupakan tanda bahwa pergeseran sedang berlangsung.

Tuntutan bagi kita sebagai pemerhati bahasa, harus mewanti masyarakat agar sedikit-banyak mau belajar akar suatu bahasa agar kesalahan-kesalahan serupa yang sudah menjadi salah kaprah tidak terulang kembali dalam ranah publik. Sebenarnya bukan hanya persoalan huruf /qaf/ saja seperti ulasan Faris. Tetapi, selain itu masih banyak persoalan tentang penggunaan bahasa Arab atau bahasa asing lainnya yang perlu dicermati.

Singkatan

Di Sumenep Madura, untuk singkatan Ikatan Alumni Annuqayah ditulis IAA. Padahal, jika kita kembali mengacu dan memerhatikan pada akar bahasa untuk kata Annuqayah yang bersumber dari bahasa Arab yaitu al-Nuqayah, bermakna kesucian atau kemurnian. Asal kata tersebut yaitu naqiya mengikuti verba faéla. Seharusnya bukan IAA, tapi IAN. Namun, para penutur sudah sepakat untuk menggunakan istilah IAA sebagai singkatan.

Hal tersebut juga harus dimaklumi, meski kita tetap harus belajar dan memahami akar suatu bahasa atau kata. Mungkin ulasan Faris dan gagasan ini hanya sekelumit contoh penyerapan dan penulisan dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Tak dapat dimungkiri, masyarakat kita memang banyak yang memahami akar suatu bahasa, namun dalam praktiknya mereka tidak bisa mengaplikasikannya.

Secara substansial, penggunaan bahasa oleh suatu kelompok yang bersepakat tidak boleh disalahkan, karena mereka memiliki kode tersendiri untuk memahami tuturan di antara kelompoknya. Namun, jika hal tersebut dibiarkan, sama saja dengan membiarkan masyarakat dalam kekeliruan. Persoalan bahasa, meski dipandang sangat remeh tetap memiliki pengaruh besar dalam penggunaannya. Sementara kekeliruan yang sudah disepakati bersama seakan dibiarkan begitu saja. Bahkan dicarikan dalil-dalil agar kekeliruan itu dipandang sebagai kebenaran. Hal semacam ini yang harus kita hindari sebagai manusia berakal dan berperadaban.

Selama serapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia tidak berbenturan dengan kata lain yang diserap, hal itu sah-sah saja dilakukan. Begitu juga penulisan istilah yang bertalian dengan bahasa asing tidak begitu penting diperhatikan selama penuturnya memang benar-benar paham dan sadar terhadap akar bahasa  atau kata yang digunakan. Namun, alangkah baiknya jika masyarakat kita tetap lebih cerdas ketika melakukan penyerapan bahasa asing atau segala yang berkaitan dengan penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Memahami akar suatu bahasa untuk digunakan dalam istilah bahasa Indonesia, itu berarti kita telah menyelamatkan bahasa Indonesia itu sendiri dan bahasa bangsa lain.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Konsentrasi Studi Sosiolinguistik, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

One Response to Belajar Akar Bahasa

  1. Pingback: Cerita Dewasa | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: