Jalan Panjang Politik Umat Islam di Indonesia

Harian Analisa: Jumat, 24 November 2017

Dok. Pribadi Junaidi Khab_ Pasang Surut Politik Kaum Sarungan

Umat Islam Indonesia – khususnya lingkungan pesantren – identik dengan kaum Muslim sarungan. Hal tersebut sesuai dengan kehidupan sehari-hari yang dijalani. Memakai sarung merupakan suatu budaya yang memang ada dalam diri masyarakat Indonesia sejak pra-kemerdekaan, bahkan pada masa kolonial berabad-abad yang silam. Sebenarnya, budaya sarungan umat Islam Indonesia merupakan salah satu warisan dari agama Hindu yang kemudian – karena masih tidak menyimpang dari syari’at Islam – diadopsi dalam keseharian umat Islam.

Melalui ulasan yang sistematis ini, Suhermanto berusaha melihat kembali peranan kaum sarungan – yang kemudian identik dengan masyarakat santri di pesantren – dalam ranah politik. Salah satu aspek yang kini banyak disoroti dan hangat dibicarakan dari sosok “kaum sarungan” tersebut, yaitu kiprah mereka dalam dunia politik. Kiprah kaum sarungan di bidang sosial-politik, sepanjang sejarahnya hingga sekarang, telah memberikan pengaruh cukup besar dan luas di tengah masyarakat (hlm. 13). Dengan kata lain, kaum sarungan memiliki peranan yang tidak sedikit dalam memperjuangkan dan memertahankan serta sekaligus mengisi kemerdakaan Indonesia.

Kita tidak bisa menutup sebelah mata, bahwa yang bergerak di bidang sosial-politik bukan hanya mereka yang tampak modern dan hidup gaya elit. Peranan kaum sarungan yang biasa kita sebut kaum kiai dan santri, juga memiliki peran yang tak kalah besar bagi kehidupan bangsa Indonesia. Namun pada kenyataannya, kadang kita memandang kaum sarungan sebagai masyarakat yang tertinggal. Padahal, bangsa Indonesia mengalami kemajuan juga ada peran besar dari kaum sarungan.

Misalkan, sejak masa kolonialisme, Islam sudah memainkan peran yang sangat menentukan dalam berjuang menentang kolonialisme Belanda dan menuntut kemerdakaan bangsa Indonesia. Seperti dicatat oleh para pengkaji nasionalisme Indonesia, Islam berfungsi sebagai mata rantai yang menyatukan rasa persatuan nasional guna menentang kolonialisme Belanda (hlm. 79-80). Dengan demikian, jika Islam berperan dalam menentang kolonialisme Belanda, hal tersebut tentu melibatkan kaum sarungan yang menjadi penggerak untuk menentang penjajahan Belanda.

Memang, bukan hanya kaum sarungan yang menentang kolonialisme Belanda. Namun, juga tokoh-tokoh di luar kaum sarungan bersatu untuk melawan dan mengusir Belanda dari Nusantara. Hal itu menunjukkan bahwa persatuan yang dilakukan oleh kaum sarungan dengan masyarakat di luar kaum sarungan begitu kuat. Sehingga, kemerdakaan secara lahiriah bisa dicapai pada 17 Agustus 1945.

Politik kaum sarungan – santri – bisa kita lihat dari peran Pesantren di Tebuireng, Jombang. Salah satunya Gus Dur sebagai santri neo-modernis (hlm. 128). Bahkan, para pendahulunya memiliki peran yang sangat menentukan atas kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan para penjajah. Terhadap hal tersebut, seluruh masyarakat tidak boleh menutup sebelah mata bahwa peran kaum sarungan dalam ranah sosial-poltik sangat besar.

Bahkan, dalam perjalanan politik di Indonesia, Gus Dur yang berlatar belakang kaum sarungan mampu menduduki kursi kepemimpinan. Meski pertahanan kepemimpinannya tidak berusia lama. Hal tersebut membuktikan bahwa kaum sarungan di bidang pemerintahan mampu bersaing walaupun sangat mudah dilengserkan oleh kelompok yang kurang begitu simpatik atas kepemimpinan kaum sarungan. Mungkin hal tersebut dikarenakan oleh komitmen kemaslahatan bagi bangsa sangat besar. Sehingga, segala kebijakan untuk mereka yang memiliki kepentingan merasa terkucilkan ketika seorang pemimpin lebih mengedapankan kepentingan rakyat.

Pemaparan Suhermanto dalam buku ini cukup inspiratif dan mendalam. Karena dia berhasil menarik kembali sejarah masa silam dan didudukkan dengan kehidupan masyarakat kekinian. Sehingga, ulasannya begitu renyah untuk dijadikan sebagai asupan refleksi bagi bangsa Indonesia agar menyadari bahwa kaum sarungan – yang tampak tertinggal – pada substansinya memiliki peranan cukup besar dalam memajukan kehidupan bangsa Indonesia.

Kehadiran buku ini merupakan salah satu upaya Suhermanto untuk membuka mata yang tertutup oleh kepentingan pribadi atau kelompok atas eksistensi kaum sarungan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Selain itu, sebuah gagasan agar kaum sarungan (masyarakat Islam santri pada khususnya dan secara umuam umat Islam) harus pandai meminimalisir konflik di Nusantara. Karena belakangan ini, ada banyak golongan yang mengatasnamakan Islam, tetapi realitasnya sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang membawa kedamaian bagi umat manusia. Selamat membaca!


Judul               : Pasang Surut Politik Kaum Sarungan

Penulis             : Suhermanto Ja’far

Penerbit           : Kanisius

Cetakan           : IX, 2017

Tebal               : 222 halaman

ISBN               : 978-979-21-2469-9

Peresensi         : Junaidi Khab*


* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Editor Penerbit Sulur Yogyakarta.

Advertisements

One Response to Jalan Panjang Politik Umat Islam di Indonesia

  1. Pingback: Inspirasi dari Jogja untuk Indonesia | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: